Archive for Relationship

Terapi Air Putih untuk Menjaga Kecantikan

Foto : Arie Yudhistira/ Sindo

TERNYATA ketergantungan kita terhadap air tak sekadar pengusir rasa haus saja. Air dalam dunia kecantikan rupanya juga memiliki kontribusi yang begitu besar dalam menjaga pesona seorang wanita.

Mengenai hal itu, artis cantik Raslina Rasidin telah membuktikannya. Ditemui dalam acara beauty class yang diadakan oleh OLAY Total Effects, wanita asal Aceh itu memaparkan khasiat air dalam kehidupannya.

“Minum air putih untuk kecantikan sangat terasa sekali efeknya bagi saya. Apalagi saat kita tidak menggunakan make up, penampilan saya tetap terjaga. Karena itu, saya tidak berusaha mengubah penampilan, tapi saya selalu mencoba menjaga kecantikan. Salah satu caranya dengan banyak mengonsumsi air putih,” kata Lina saat ditemui okezone di Crystal Lagoon, Senayan City, Selasa (13/5/2008).

Begitu bermanfaatnya air bagi Lina, wanita yang baru melahirkan anak kedua pada tiga bulan lalu itu selalu minum air putih dengan takaran yang sudah ditargetkan.

“Karena air begitu berartinya untuk saya, maka setiap hari saya bisa menghitung jumlah air putih yang saya minum. Dalam satu hari, saya bisa minum lima liter air. Terutama kalau mau tidur, insting saya bisa meraba botol air minum karena setiap satu jam saya bisa haus,” beber pemeran sinetron Demi Masa dan Anakku Bukan Anakku itu.

Bahkan, bila dalam kondisi tengah berada di suatu acara pun, wanita yang masih terlihat cantik di usia 35 tahun ini mengaku tetap mengonsumsi banyak air putih.

Kondisi Lina yang tengah memberi ASI eksklusif pun rupanya tak menghentikan kebiasaannya meminum air. Bahkan, saat Lina terbangun untuk menyusui bayinya, dia selalu minum air putih terlebih dahulu.

“Bukan hanya sugesti, setiap saya akan menyusui bayi pasti akan minum air putih terlebih dahulu. Saya meyakini dengan minum air putih yang banyak akan memberi asupan ASI yang banyak,” bebernya seraya menyatakan bukti keberhasilannya mengonsumsi air putih ternyata dapat menurunkan berat badan sebanyak 12 kg dalam waktu tiga bulan.

Meski banyak minum air, namun tubuh manusia mempunyai mekanisme dalam mempertahankan keseimbangan asupan air yang masuk dan yang dikeluarkan. Sehingga Lina tak mengalami problema meski banyak minum air putih.

“Awalnya saat banyak minum air putih sering membuat saya buang air kecil (BAK). Tapi lama kelamaan tubuh sudah bisa mengikuti ritmenya yang teratur karena sudah tahu intensitasnya yang cukup baik. Selain itu, tubuh juga punya kantung kemih yang bisa menampung,” tukasnya. (nsa)

Menilai Perilaku Pria Terhadap Pasangan

Foto : Corbis

ADA anggapan bahwa pria bisa dinilai dari cara mereka memperlakukan pasangannya berdasarkan minat dan tempat di mana mereka biasa menghabiskan waktu.

Misalnya tipe pria yang memiliki minat di bidang olahraga, biasanya menyukai pasangan yang sama-sama menaruh minat pada gaya hidup yang sama. Pria dengan tipe ini biasanya sering menghadiahi pasangannya dengan benda-benda berharga mahal, atau makan di tempat ekslusif yang baru saja dibuka.

Menurut hal itu, psikolog Kasandra A Putranto, memiliki cara pandang berbeda. Minat, menurutnya, tidak dapat dijadikan patokan dia akan memperlakukan orang lain. Minat seseorang, baik pria maupun wanita, biasanya dapat dilihat dari kepribadiannya masing-masing. Dan perkembangan kepribadian dapat dilihat berdasarkan faktor hereditas.

“Untuk bisa menilai perilaku seseorang, kita tidak bisa melihat suatu masalah berdasarkan beberapa tanda saja. Kalau seorang psikolog, biasanya memang bisa meminta seseorang menggambar atau menulis untuk melihat karakternya. Tapi kalau dalam kehidupan sehari-hari, hal itu sulit untuk diterapkan,” kata Kasandra yang dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Kamis (8/5/2008).

Faktor psikologi, lanjutnya, bisa berubah seiring dengan perkembangan seseorang. Apalagi seorang pria yang selalu akan berubah mengikuti dinamika kepribadian mereka.

“Penentu dari kematangan psikologi seseorang bukan ditentukan oleh faktor usia. Karena usia kronologis dan emosional itu tidak sama. Artinya, kedewasaan seseorang bukan berdasarkan usia kronologisnya saja,” beber almamater Universitas Indonesia ini.

Mengenai minat, masih menurut Kasandra, adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Minat bisa merupakan dorongan dari naluri yang fitri terdapat manusia, namun bisa pula dorongan dari pemikiran yang disertai perasaan kemudian mewujudkannya menjadi hal yang disukai. Minat yang hanya muncul dari dorongan perasaan tanpa pemikiran mudah berubah sesuai dengan perubahan perasaannya.

Perasaan yang tidak dikendalikan oleh dorongan pemikiran, mudah dipengaruhi dan berubah sesuai dengan perubahan lingkungan, fakta yang dihadapinya dan lain-lain. Dalam kondisi ini, minat seseorang bisa sangat lemah dan tidak stabil sesuai dengan perubahan lingkungan. (nsa)

Wanita Seksi di Mata Pria

<!–
var imagesPart = new Array(1)
var currPos = 0
imagesPart[0] = “2008/05/14/197/109342/HDGYrkLuo0.jpg”
function goToImage(counter){
var firstEl = 0
var lastEl = imagesPart.length – 1

if(counter < 0){
currPos = currPos – 1
}else{
currPos = currPos + 1
}

if(currPos lastEl){
currPos = lastEl
}else{
currPos = currPos
}

ajaxpage(‘ContainerPhoto’,'http://lifestyle.okezone.com/index.php/viewImage/’+imagesPart[currPos]);
}
// –>

<!–

–>

<!––> <!––>
Foto : Corbis

MESKI pria selalu menilai lawan jenisnya berdasarkan penampilan fisik, ternyata mereka tetap memiliki cara pandang mengenai wanita seksi. Banyak pria mengaku, wanita dianggap seksi bukan hanya berdasarkan penampilan fisiknya.

Wanita yang cerdas dan berwawasan luaslah yang memiliki sex appeal tinggi. Mengenai hal itu, Dra Clara Istiwidarum K MA CPBC, psikolog dari Jagadnita Consulting membenarnya.

“Wanita cerdas (smart) yang dari cara pandangnya tidak kelihatan menantang tapi tidak juga kosong ialah wanita yang dari pandangan mata pria dianggap seksi,” kata Clara kepada okezone saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Rabu (14/5/2008).

Dengan kecerdasannya, kata Clara, maka seorang wanita akan terlihat seksi karena dia memiliki self confidence. Apalagi setelah didukung dengan kemampuan verbalnya. Di mana saat dia berbicara, akan terlihat memiliki bobot.

“Dari cara bicara wanita cerdas akan terlihat bahwa dia tegas, lugas, punya banyak ide, dan sesuatu yang dipikirkan. Jadi bukan sekadar mengikut pembicaran, tapi memiliki pandangan, sikap dan punya pendapat yang berani diutarakan dengan satu alasan,” jelas wanita yang mengambil gelar S2-nya di usia 40 tahun itu.

Dengan begitu, lanjut Clara, wanita tersebut tidak hanya sekadar berdebat biasa. Sehingga bukan hanya fisik semata yang diumbar habis-habisan, tapi juga wawasan luas yang dimiliki. Sehingga body language yang bagus untuk mengekspresikan dirinya sendiri akan tampil dengan sendirinya.

Lantas, mengapa wanita harus wawasan luas? Menurut Clara, hal itu berlandaskan alasan pria untuk mencari lawan jenis yang seimbang. “Artinya, saat pria menyadari bahwa lawan jenisnya dapat berkomunikasi dengan seimbang, maka dia akan menganggap wanita tersebut menarik. Sebab sex appeal dari wanita tersebut keluar dan dirasakan ada magnet yang telah menariknya,” tutur ibunda empat orang anak yang selalu tampil cantik ini.

Saat pria telah menyadari lawan jenisnya menarik, sambung Clara, maka dia akan membanggakan wanita tersebut di depan orang lain. Bahkan dia tidak malu untuk memperkenalkan pada relasi atau rekan bisnisnya.

Adapun ciri-ciri wanita berwawasan luas, menurut psikolog yang sering menjadi konsultan di beberapa media terkemuka ini, dapat dilihat dari cara wanita tersebut berbicara. Artinya, saat lawan bicaranya tengah mengutarakan sesuatu, maka dia akan memerhatikan orang tersebut dengan tulus.

“Memperhatikan lawan bicara akan menimbulkan kesan seksi karena ada magnet yang menarik mereka untuk selalu mengajak berbicara kembali,” terang psikolog yang telah menulis buku Keluargaku permataku, Seks, Es Krim dan Kopi Susu serta Ngobrolin Seks di Ruang Keluarga itu.

Selain itu, dari cara pandang wanita seksi tersebut sudah menunjukkan kesan smart karena ada kepercayaan diri yang muncul. Di mana mereka tidak mendominasi pembicaraan, tapi kesan kepercayaan diri dan kemandirian muncul dengan sendirinya.

Menurutnya lagi, pria memilih kategori smart sebagai kunci seksi bagi seorang wanita sudah diyakini sejak usia remaja. “Pandangan bahwa wanita seksi itu harus smart, tidak hanya berlaku untuk pria matang. Bahkan, di usia remaja, pria pun sudah mencari lawan jenis yang enak diajak bicara. Apalagi untuk pria berusia matang,” ungkapnya panjang lebar. Pria berusia matang, masih menurut Clara, mencari wanita yang cerdas karena ingin menyeleraskan cara pandang bersama. (nsa)

Mencegah Masalah-masalah Pemuda

Sumber Bahan
Judul Buku/Buletin : Christian Counseling, a Comprehensive Guide
Penulis/Narasumber : Gary R. Collins
Penerbit : Word Publishing, U.S.A, 1998
Halaman : 193 – 195

Setelah menyelesaikan studi tentang pemuda, para peneliti dari Yale menyimpulkan, “Usia dua puluhan dan tiga puluhan tahun kemungkinan adalah masa yang paling banyak dan penuh dengan tekanan dalam siklus kehidupan. Seorang pemuda (atau pemudi) harus menghadapi berbagai penyesuaian dan pengembangan yang sulit, masa ini merupakan masa yang tidak bisa dipermudah atau diperlancar. Akan tetapi, masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan yang banyak itu, dan memfasilitasi pekerjaan pada tugas pengembangan.” (Levinson et al., Seasons of a ManĀ“s Life, hal. 337). Sebagai langkah awal, para peneliti menyarankan bahwa akan sangat menolong para pemuda jika mereka didampingi dalam mendapatkan pekerjaan dan tinggal di lingkungan dimana kepribadian dan perkembangan karier mereka dapat terstimulasi dan bukannya terhalang.

Ketika saya bekerja di pusat konseling pada sebuah universitas, salah seorang konseli saya sakit. Karena dia tidak punya mobil, maka saya menawarinya untuk mengantarnya pulang. Ketika saya melihat bahwa dia tinggal dengan sebuah keluarga yang secara psikologis suasananya tidak sehat, saya jadi memiliki penilaian yang baru mengenai alasan mengapa dia memiliki masalah dalam penyesuaian diri dengan kedewasaan. Apa pun yang coba kami lakukan selama konseling selalu dihalangi oleh keluarganya. Jika seorang pemuda bekerja atau hidup dalam suatu lingkungan yang tidak teratur, terpecah-pecah, selalu dicela, maka akan sulit untuk mencegah masalah supaya tidak berkembang atau menjadi semakin buruk. Namun, terapi pencegahan yang terbaik bisa membantu para pemuda untuk bertindak. Setidaknya, ada lima cara untuk mencegahnya, yaitu:

  1. Pendidikan dan dorongan.

    Terkadang, para pemuda dikejutkan dan diliputi oleh tekanan dari kelompok mereka. Orientasi masa kuliah seringkali memberikan peringatan dan saran praktis dalam menghadapi masalah bagi mahasiswa yang baru masuk, akan tetapi proses ini dapat dikembangkan. Sekolah Minggu, kelompok diskusi gereja, kelompok ibu-ibu muda dan eksekutif junior, kelompok Pemahaman Alkitab (PA) di rumah, atau pelayanan firman yang diberikan secara berkala dapat menolong para pemuda untuk mengatasi tekanan masalah, memberikan anjuran untuk memecahkan masalah, menyediakan kesempatan untuk berdiskusi, dan memberikan kesempatan kepada para partisipan untuk saling mendorong satu sama lain. Ketika gereja atau program lain berbicara mengenai kebutuhan sehari- hari, maka orang-orang akan datang.

  2. Lebih banyak mentor.

    Ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa orang harus memiliki mentor agar sukses, namun memang ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa mentoring bisa sangat menolong, baik bagi orang yang menjadi mentor maupun bagi pemuda yang dibimbing. Hal ini bisa terjadi karena faktor budaya, dimana pada beberapa budaya, hubungan kekeluargaannya tidak begitu dekat. Hal ini juga terjadi pada orang yang memiliki pekerjaan baru. Contohnya, sebuah perusahaan besar mendapati bahwa organisasi dan orang-orang akan sama-sama mendapat keuntungan jika ada mentoring yang bekerja secara sukarela, dengan ikatan yang sungguh-sungguh antara mentor dengan seseorang yang dibimbing, dan kebebasan yang maksimal bagi orang untuk menghabiskan waktu mereka dengan mendiskusikan apa pun yang mereka anggap dapat membantu. Program kakak adik memberikan petunjuk pencegahan yang sama dan juga berbagai pendekatan Kristen dalam hal pendisiplinan.

    Program mentor untuk pemuda tidak harus selalu dilakukan secara formal. Ini bukanlah suatu penyederhanaan bahwa pendekatan yang tepat adalah berdoa untuk hubungan mentor dengan orang yang dibimbingnya dan kemudian secara sadar mencari seseorang yang dapat menjadi mentor Anda, atau orang yang bisa Anda bimbing.

  3. Pengembangan mimpi.

    Mimpi seorang pemuda — membayangkan kemungkinan yang dapat memberikan kesenangan dan kemampuan — pada awalnya akan menjadi samar-samar dan tidak bisa dijelaskan, akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kemungkinan itu akan semakin jelas. Untuk menjadikan mimpi itu menjadi suatu kenyataan, pemuda harus berpikir, berencana, dan melakukan tindakan selangkah demi selangkah untuk mencapai tujuan mereka. Proses itu dimulai ketika ada yang bertanya, “Apa yang akan saya lakukan sepuluh tahun yang akan datang? Apakah Tuhan ingin saya melakukan hal ini? Langkah- langkah apa yang harus saya lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya?” Ketika para pemuda ini berusaha untuk mewujudkan mimpi mereka, tampaknya mereka kurang mengembangkan pengendalian diri dan pola hidup yang membuat mereka frustasi.

  4. Kesabaran orangtua.

    Tidaklah mudah bagi para orangtua yang memiliki anak-anak yang tergolong pemuda ketika melihat anak-anak mereka yang sedang beranjak dewasa ini berjuang melawan masalah-masalah yang timbul dalam menghadapi kedewasaan. Kadang-kadang, orangtua justru membuat masalah menjadi semakin buruk karena mereka tidak bisa memberi toleransi. Mereka terus-menerus memberi kritikan dan nasihat-nasihat, meskipun dengan tujuan yang baik. Akan lebih baik bagi orangtua untuk memberikan dorongan, semangat, dan penjelasan, sehingga para pemuda ini dapat dan mau diajak bicara. Orangtua harus mencoba untuk tidak menyelamatkan anak mereka yang sedang beranjak dewasa ini dengan menawarkan uang atau kemudahan lainnya yang justru akan membuat anak ini menghindar dari tanggung jawab. Suatu langkah yang baik jika orangtua memberi petunjuk yang lembut ketika anak-anak mereka menghadapi persoalan. Kadang-kadang, bantuan yang terbaik bagi pemuda adalah petunjuk yang diberikan oleh konselor Kristen atau pemimpin gereja kepada orangtua.

  5. Dukungan rohani.

    Seorang teman saya pernah menceritakan bagaimana dia dapat tetap bertahan dari pernikahannya yang bermasalah dan impulsive. “Orangtua saya tidak mengajari saya” katanya. “Saya tahu bahwa mereka tidak peduli terhadap tunangan saya, akan tetapi saya juga tahu bahwa mereka juga berdoa. Mereka memiliki iman yang sangat besar bahwa Tuhan Yang Mahakuasa akan menuntun anak mereka yang sedang beranjak dewasa ini dalam membuat keputusan hidup yang penting. Sesaat sebelum pernikahan, saya baru sadar akan kesalahan yang baru saja saya perbuat. Saya yakin bahwa masalah yang besar dapat dicegah dengan iman yang besar dan doa yang terus-menerus dari orangtua saya.” Hal ini juga bisa menjadi slogan bagi semua konselor Kristen, termasuk orangtua yang memberikan konseling kepada anak-anak mereka bahwa DOA DAPAT MENCEGAH MASALAH-MASALAH YANG MUNGKIN MUNCUL.

http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/072/

Tips: Tentang Pacaran Kristen

Smber Bahan
Judul Buku/Buletin : Pastoral Konseling
Penulis/Narasumber : Yakub B. Susabda
Penerbit : Gandum Mas, Malang
Halaman : 120 – 123

Tidak heran bahwa untuk mencapai tujuan yang agung, orang-orang Kristen bergaul dan berpacaran secara berbeda dengan orang-orang non-Kristen. Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:

1. Proses Peralihan dari “Subjective Love” ke “Objective Love.”

“Subjective love” sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu “kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima”. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan “sinful nature”nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan “subjective love”. Dan “subjective love” ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan “subjective love” menjadi “objective love”. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.

2. Proses Peralihan dari “Envious Love” ke “Jealous Love.”

“Envious” sering diterjemahkan sama dengan “jealous” yaitu cemburu. Padahal “envious” mempunyai pengertian yang berbeda. “Envious” adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan “jealous” adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang “jealous”, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya.

Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan “jealous love”. Mereka tidak boleh menuntut “sesuatu” yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti: hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.

3. Proses Peralihan dari “Romantic Love” ke “Real Love.”

“Romantic love” adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa “kehidupan ini manis semata-mata”. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada “romantic love”. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal:

  • apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?
  • apakah dia memang orang yang begitu sabar, “caring”, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?
  • apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu, rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?

Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal “dimabuk cinta”. Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.

4. Proses Peralihan dari “Activity Center” ke “Dialog Center.”

Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu “activity- center”. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi “center”nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, “I and Thou”, by Walter Kauffmann, Charles Scribner’s Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.

5. Proses Peralihan dari “Sexual Oriented” ke “Personal Oriented.”

Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb, bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.

Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah “keharusan”. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.

Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:

a. Imannya.

Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7) lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat- tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani?

b. Kematangan Pribadinya.

Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik? Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua? Apakah ia menghargai pendapat orang lain?

c. Temperamennya.

Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat? Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka? Apakah emosinya cukup stabil?

d. Tanggung-jawabnya.

Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya, baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.?

Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.

Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran- pemikiran:

  1. Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.
  2. Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar … atau kami ingin selalu bercumbuan saja.
  3. Saya rasa “dia akan meninggalkan saya” kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.
  4. Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.

http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/009/

« Previous entries