Archive for Doktrine of Man and Sin

TINJAUAN IMAN KRISTEN TERHADAP UTILITARIANISME

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

1. MANFAATKU ATAU MANFAAT-KU

Nats: Kol. 3:17, 23

1. Latar Belakang Permasalahan
Munculnya John Stuart Mill dengan filsafat Utilitarianisme modern, telah merubah dunia modern menjadi dunia yang penuh gairah. Seluruh gagasan ini diterima dengan pujian dan penyembahan, karena inilah yang selalu didambakan oleh setiap manusia.
Ide Utilitarian adalah usaha untuk mengejar kebahagiaan yang puncak. Yang dimaksud kebahagiaan puncak adalah segala hal yang bisa dikejar untuk kita bisa menikmati dunia ini. Itu sebabnya timbul perdebatan aspek moral dari filsafat ini. Pertama, bagaimana konsep utilitarian ini dilukiskan dan diaplikasikan dengan tepat, dan kedua, apakah implikasi moral dari utilitarianisme ini bisa diterima atau harus ditolak.

2. Konsep Bahagia Utilitarianisme
a) Menganut sifat hedonisme, di mana kesenangan dan tidak adanya kepedihan adalah utility dan nilai intrinsik yang perlu dikejar. Nilai intrinsik ini bernilai untuk kepentingannya sendiri dan tidak ada hubungan atau konsekwensi terhadap yang lain.
b) Tetapi sebagian utilitarian menganggap pandangan pertama terlalu sempit. Mereka melihat bahwa utilitarianisme ideal adalah sesuatu atau pengalaman tertentu, seperti pengetahuan atau menjadi mandiri, secara intrinsik bernilai atau bersifat baik, entah orang menghargai atau tidak, ataupun lebih berbahagia atau tidak dengan itu.
c) Persoalannya adalah perbandingan nilai kebaikan itu sendiri. Pada utilitarian, bisa nilai perbandingan itu dinilai berdasarkan diri sendiri, yang membandingkan beberapa tindakan yang berbeda untuk mencari nilai tertinggi (intrapersonal utility comparison), atau nilai perbandingan itu juga diperbandingan dengan kepentingan dan kebaikan bagi orang-orang lain (interpersonal utility comparison).
d) Pada umumnya, para utilitarian menuduh para moralis telah menciptakan kesusahan bagi manusia karena tuntutan moral seringkali membuat orang tidak bisa hidup nikmat. Misalnya timbulnya rasa bersalah bila kita pergi nonton atau pesta makan, karena uang yang kita pakai bisa kita berikan kepada orang miskin yang tidak bisa makan. Maka bagi utilitarian, setiap orang harus menjadi agen bagi dirinya sendiri. Kalau ia gagal mencapai kebahagiaannya, maka tidak ada tuntutan moral dari orang lain untuk menolong dia.

3. Bahaya Utilitarianisme
a) Semua dilihat dari aspek kepentingan manusia, sehingga seperti telah diungkap diatas, terjadi konflik kepentingan dan timbul masalah moral yang sulit diselesaikan. Semangat hedonistis yang mewarnai citra utilitarianisme menjadikan sifat moral dikesampingkan ataupun diganti dengan nilai moral yang sangat relatif dan rendah sifatnya. Disini sifat dosa diumbar dan dipuaskan tanpa ada penghalang yang membatas lagi.
b) Di sini terjadi kesalahan fatal. Utilitarian telah memutlakkan yang relatif. Ketika manusia mengejar kebahagiaan pribadi dengan batasan dan perbandingan nilai yang relatif, tanpa standard yang sejati, telah kehilangan basis kemutlakkan yang sesungguhnya. Akibatnya, diri dijadikan basis mutlak, dan itu berarti akan menolak Allah sebagai penentu dan standard kemutlakkan yang benar.
c) Hidup hanya mengejar kekinian yang akan meniadakan aspek kekekalan. Karena utilitarian hanya bisa melihat nilai-nilai yang ada di dunia ini, maka seluruh pengharapan akan kekekalan dan sifat-sifat ilahi diabaikan.

4. Tuntutan Alkitab
a) Segala sesuatu yang kita lakukan harus direferensikan dengan Diri dan Sifat Allah sebagai basis kemutlakkan. Inilah utilitarian yang sejati. Kita adalah utility dari Allah. Kita adalah alat, dan kita bukan menggunakan alat untuk kepentingan kita, tetapi kita adalah alat yang hidup di hadapan Allah (the living vessel – 2 Tim 2:20-21).
b) Karena kita adalah utility di tangan Allah, maka kita harus memurnikan diri kita dan menyatakan sifat-sifat Allah di dalam diri kita. Inilah misi Kristen yang menjadi saksi bagi Allah di tengah dunia. Ini pula yang dituntut oleh Alkitab terhadap kita (2 Tim 2:22-26).
c) Seluruh hidup kita harus diukur bukan diatas azas manfaat bagi diri kita, tetapi bagi Tuhan. Manfaat tertinggi adalah ketika semua yang kita kerjakan adalah penggenapan rencana Allah yang Ia kehendaki untuk kita tuntaskan. Inilah utilitarian yang sejati (Kis 20:24).
d) Untuk itu, semua yang kita lakukan, haruslah kita lakukan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk diri kita sendiri. Semangat mau mempermuliakan Tuhan harus mengalahkan egoisme dan semangat humanisme yang duniawi. Hanya dengan cara ini kita bisa menghindar diri dari sifat utilitarian yang duniawi.

Diskusikan sifat Saul ketika ia menggunakan pola utilitarian di dalam berdialog dengan Samuel, yang telah membuat Allah marah (1Sam 15:1-26).

2. YUDAS: UTILITARIAN SEJATI

Nats: Luk. 22:3-6

1. Pendahuluan
Satu pertanyaan yang sering dilontarkan adalah: apakah utilitarianisme merupakan suatu pikiran filsafat yang baru diutarakan dan dikenal oleh masyarakat sejak Jeremy Bentham atau bahkan sejak J. S. Mill, ataukah filsafat ini sebenarnya sudah merupakan pikiran yang kuno? Secara singkat kita bisa menjawab bahwa pikiran ini bukan baru, tetapi sangat kuno, bahkan sejak dari zaman Tuhan Yesus, atau bahkan bisa dikatan sejak Kejatuhan.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, Alkitab memberikan satu contoh yang sangat baik untuk melihat kasus Utilitarian. Hal ini terlihat nyata dalam kasus Yudas.

2. Luk 22:3-6
Yudas adalah salah seorang dari murid-murid Tuhan Yesus. Dan di dalam perjalanan pelayanannya, ia dipercaya menjadi bendahara dari kelompok rasul yang Kristus pimpin. Rupanya, ia memang memiliki kemampuan untuk mengatur keuangan. Tetapi rupanya, kemudian ia memikirkan lebih jauh dan mulai terjebak dengan pikiran-pikiran dan cara kerja yang tidak sesuai dengan kebenaran. Ia mulai terjebak menjadi seorang utilitarian.
Di dalam ayat yang kita baca dan paralelnya, kita dengan segera melihat sikap oportunis dan utilitarianistis dari Yudas. Ia merasa dengan cara yang ia pakai, maka semua orang akan disenangkan. Yang pertama, ia merasa dia sendiri untung; kedua, ia merasa juga bahwa pasti para ahli taurat dan orang Farisi juga senang dan diuntungkan; dan ketiga, ia bahkan yakin Tuhan Yesus tidak akan mau ditangkap mentah-mentah begitu saja, dan pasti jika Tuhan Yesus melawan, tidak ada kuasa apapun yang bisa mengalahkan. Yudas sangat mengerti kuasa yang Tuhan Yesus miliki. Tetapi apa yang Yudas pikirkan adalah pikiran seorang utilitarianis. Ia hanya memikir menurut kepentingannya dan sekaligus kepentingan yang kelihatan “lebih luas”, tetapi yang pasti tidak berpikir di dalam kebenaran. Maka tanpa sadar, Yudaspun akan menjadi seorang oportunis. Dengan harapan keuntungan 30 keping perak, atau bahkan keuntungan-keuntungan lain yang bisa diperolehnya, maka ia rela menjual Tuhan-nya. Dari sini kita bisa belajar secara lebih kongkrit sikap utilitarian di dalam sejarah.

3. Aplikasi Pemikiran Yudas
Di dalam kehidupan sebagai orang Kristen, kita seringkali menerapkan pola utilitarian, masuk ke dalam iman Kristen kita. Apalagi dengan berbagai format Kekristenan modern, sangatlah mudah bagi orang Kristen untuk terjebak “merohanikan” pemikiran utilitarianistik ini. Beberapa hal yang mungkin perlu kita pikirkan:
a. Christianity is a pleasure.
Pemikiran bahwa Tuhan tidak menghendaki manusia sengsara, sehingga Ia harus menolong kita. Pengembangan dari pemikiran utilitarian masuk ke Kekristenan dengan anggapan bahwa jika kita sengasara (pain), maka itu pasti bukan kehendak Tuhan. Maka dengan kata lain, Kekristenan harus identik dengan pleasure. Maka gereja adalah tempat untuk pleasure yang utama. Maka tidak heran jika kemudian ada gereja yang menerapkan disco di gereja atau bahkan undian “kunci kamar” di antara pemuda-pemudi di gereja, atau segala bentuk pleasure lainnya. Pada saat seperti itu, posisi Allah menjadi tidak jelas, atau menjadi budak manusia.
b. Manage your God.
Yudas berpikir bahwa jika ia bisa merancang segala yang baik, maka Tuhan Yesus akan ikut di dalam “skenario”-nya. Ketika ia berpikir, jika Tuhan Yesus diserahkan, pasti itu akan “mempercepat” proses Tuhan Yesus menjadi Raja. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang ia pikir, bukanlah rancangan Tuhan. Ia hanya berpikir bahwa semua bisa menjadi alat untuk mencapai tujuannya, termasuk Tuhan Yesus. Hari ini, begitu banyak orang yang mau memperalat Tuhan demi apa yang dipikirkannya. Mereka berpikir persis seperti Yudas. Jika manusia bisa merancang apa yang menurut dia baik untuk Tuhan, dan bisa berjalan menurut kepentingan bersama (win-win solution), maka marilah kita kerjakan, maka Tuhan pasti akan menurut kalau sudah “terjepit.”
c. God is for our own-sake.
Allah mencipta manusia dan menginginkan manusia bisa berbahagia. Maka kita bisa berdoa dan memohon pada Allah untuk semua yang kita butuhkan. Allah yang sejati adalah Allah yang akan memenuhi semua kebutuhan kita (Mat 6). Dalam hal ini kita harus berani “mengklaim” janji Allah agar seluruh kebutuhan kita bisa dipenuhi. Inilah format yang Yudas pakai. Ia merasa bahwa Yesus harus terus memenuhi kebutuhannya. Jika perlu, segala cara bisa ia pakai untuk itu. Banyak orang Kristen masa kini juga cenderung mau memanipulasi Allah, sehingga Allah tidak lain hanya sebagai utiliti bagi manusia. Ia bukan Allah yang berdaulat, tetapi Allah yang harus menjadi budak manusia.

3. HOMO HOMINI LUPUS

Nats: Mat. 26:14-16; Mrk. 14:10-11; Luk. 22:3-6

1. Pendahuluan
Istilah “homo homini lupus” berarti: manusia adalah pemakan sesamanya. Ada anekdot yang mengatakan bahwa orang miskin akan bertanya “hari ini kita makan apa?”, sedangkan orang menengah bertanya “hari ini kita makan dimana?, dan orang kaya bertanya “hari ini kita makan siapa?” Anekdot di atas mau menggambarkan bahwa orang menjadi kaya karena telah memakan atau mengorbankan sesamanya.
Tentu munculnya anekdot seperti itu bukanlah tanpa alasan. Hal itu terjadi karena di dalam dunia berdosa ini begitu banyak orang yang menjadi kaya akibat “memakan” sesamanya. Tentu tidak semua demikian. Namun, rupanya pola mengorbankan sesamanya untuk mencari keuntungan dan kekayaan bagi diri sudah merupakan suatu “ciri” dalam kehidupan manusia. Mengapa demikian?

2. Sifat Manusia Humanistis
Sifat manusia yang memuncakkan diri dan menganggap diri sebagai makhluk yang tertinggi dan termulia, telah menjadikan manusia menyingkirkan posisi Allah sebagai posisi mutlak. Hal ini dianggap sebagai kemenangan Humanisme. Tetapi sebenarnya, justru disinilah kekalahan dan kehancuran manusia.
Ketika manusia memutlakkan diri, manusia lupa bahwa “manusia” itu bukanlah tunggal, bukan multi-tunggal tetapi murni plural. Manusia mutlak adalah makhluk relatif. Akibatnya, terjadi pemutlakkan relativisme. Situasi ini menjadikan semangat Humanisme memukul manusia balik.
Manusia yang sebenarnya harus memikirkan sesamanya dan tidak boleh memutlakkan diri, kini menjadikan dirinya sebagai “Tuhan” untuk mengganti posisi Tuhan yang sesungguhnya, yang telah disingkirkannya. Maka, ketika ia memutlakkan diri, orang atau manusia lain akan menjadi obyek yang harus memenuhi kemutlakkan dirinya. Disini terjadi semangat manipulatif. Manusia mulai dengan menganggap dirinya sebagai kebenaran yang mutlak sehingga orang lain yang berbeda pandangan dengan dia selalu tidak disukainya dan begitu sulit bagi dia untuk menerima pandangan yang kontras dengan dia. Ketika situasi seperti itu terjadi, tidak ada basis penentu kebenaran yang menjadi tolok ukur baginya untuk menguji siapa yang benar. Maka kemungkinan terbesar adalah orang lain dianggap salah olehnya.
Lebih jauh lagi, ketika ia sudah mulai memikirkan dirinya, maka ia mulai melangkah kepada kebutuhannya. Ketika kebutuhannya berkonflik dengan kebutuhan orang lain, maka ia merasa bahwa kebutuhan dirinyalah yang harus dipenuhi terlebih dahulu, barulah orang lain. Kalau perlu, biarlah orang lain dirugikan asalkan diri menjadi untung. Disini semangat utilitarian mulai mengusik dan masuk dalam pikiran orang. Maka orang tidak rela jika ia harus berkorban dan dirugikan demi kepentingan orang lain, kecuali jika ia memiliki kepentingan lain yang lebih besar atau menghindari kerugian yang lebih besar lagi.

3. Argumentasi Utilitarian
a. Manusia harus pandai-pandai memanfaatkan situasi
Seorang utilitarian tidak pernah mengerti adanya rencana Allah atau ketaatan kepada kehendak Allah. Yang dipikirkan adalah manusia perlu pandai-pandai memanfaatkan situasi, karena hidup matinya manusia tergantung kepada manusia itu sendiri.
Maka, cara terbaik bagi manusia adalah hidup memanfaatkan situasi yang ada. Tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan. Sejauh kebahagiaan itu bisa dicapai, maka manusia harus mengejarnya, karena itulah sasaran akhir hidup manusia.
Seperti Bentham tegaskan, bahwa tidak perlu terlalu dirisaukan dengan berbagai pertimbangan yang akhirnya hanya menyusahkan kita (pain), seperti berbagai pertimbangan moral, karena moral adalah kesenangan (pleasure). Maka manusia harus mengejar kesenangan ini.

b. Korban adalah akibat kesalahan sendiri
Dalam kaitan dengan kesenangan yang manusia kejar, terkadang terjadi konflik sehingga ada pihak yang dirugikan. Dalam hal ini, maka yang salah adalah pihak yang dirugikan. Jika ia rugi, berarti ia gagal mencari kesempatan atau menggunakan kesempatan secara tepat, sehingga ia telah menjadi korban dari kelemahannya. Akibatnya ia mengalami kepedihan (pain). Jadi untuk seseorang bisa mencapai kesenangan, tidak ada salahnya jika orang lain sampai dirugikan, karena itu tidak ada kaitannya dengan obligasi moral sama sekali.

c. Hidup di dunia adalah memakan atau dimakan (utilitarianistis)
Hal ini merupakan realita kehidupan di dunia. Jika kita tidak berhasil menggunakan kesempatan di dunia, pastilah kita akan “dimakan” oleh orang lain. Maka di dalam dunia hanya ada satu hukum utama, yaitu memakan atau dimakan. Maka dalam hal ini, pilihan haruslah diletakkan pada yang pertama. Dimakan berarti mengalami pain, dan itu tidak sesuai dengan asas hidup, maka kita lebih baik memakan demi untuk mencapai pleasure.
Konsep di atas secara logis membenarkan jika seseorang memakan sesamanya demi untuk mencapai apa yang dianggapnya sebagai pleasure.

4. Kritik Kristen
a. Benarkah bahagia identik dengan pleasure?
Kesalahan utilitarian adalah mengidentikkan bahagia dengan pleasure. Kebahagiaan adalah suatu kondisi akibat dari menjalankan kehendak Allah dan mendapatkan “kredit point” dari Tuhan sebagai upahnya. Pleasure adalah kenikmatan yang dikaitkan dengan kedagingan, entah secara pribadi, kelompok atau masyarakat yang lebih luas. Dalam hal ini, sering terjadi konflik antara pleasure dengan kehendak Allah, maka tidak mungkin pleasure bisa identik dengan kebahagiaan. Di dalam faktanya, justru pleasure seringkali hanya merupakan kenikmatan sesaat yang membawa seseorang pada ketidakbahagiaan.

b. Benarkah ketika kita memakan orang lain itu pleasure?
Problem kedua dari utilitarianisme adalah mengabaikan aspek moral manusia. Manusia adalah makhluk yang dicipta dengan sifat moral. Bentham dan Mills lupa bahwa mereka bukanlah kuda atau anjing. Jika binatang memang tidak memiliki obligasi moral, tidak memiliki akal budi dan pertimbangan moral, maka manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, memiliki akal budi dan pertimbangan moral. Itu alasan, sifat moral ini tidak bisa ditiadakan begitu saja. Hanya manusia yang sudah kebinatangan yang tidak lagi memiliki pertimbangan moral. Sifat moral inilah yang menjadikan manusia bisa memiliki tuntutan keadilan dan hukum. Apabila tidak ada moral, tidak perlu ada hukum dan pengadilan.
Aspek moral manusia menjadikan manusia tidak pernah bisa tenang apabila ia telah merugikan dan menghancurkan orang lain. Tuduhan moral akan tiba padanya dan hal itu akan membuat manusia kehilangan kebahagiaannya. Mungkin ia bisa menikmati sukacita di atas kesusahan dan pengorbanan orang lain, tetapi hal itu akan mendatangkan tuntutan keadilan kepadanya, paling tidak nanti di dalam kekekalan. Hal itu yang menyebabkan orang berdosa akan begitu takut mati, karena ia sadar tidak bisa lepas dari tuntutan keadilan yang harus dipertanggungjawabkan.

c. Tidak sadarnya realita dosa dan pertobatan
Seperti telah diungkapkan sepintas, maka kelemahan utama utilitarian adalah penyangkalan akan adanya dosa dan perlunya pertobatan.
Utilitarian justru menganggap dosa sebagai kewajaran, karena dosa telah menjadi “mayoritas” dalam kehidupan masyarakat. Disini utilitarian yang ingin mencapai kebahagiaan justru gagal mengerti kaitan antara kebahagiaan dan kebenaran, serta perlawanan terhadap dosa dan kedagingan. Maka, sebenarnya yang dibutuhkan oleh dunia ini adalah pertobatan. Memang dunia sudah jatuh ke dalam dosa, dan sifat makan-memakan antar manusia berdosa telah menjadi ciri dunia yang berdosa. Itu alasan di dunia ini perlu ada polisi, pengadilan, dan penjara. Jika memang dunia ini baik, seperti asumsi utilitarianisme, maka tentulah polisi dan pengadilan tidak akan banyak pekerjaan. Sikap dan prinsip utilitarianisme justru akan menjadikan dunia ini semakin penuh dengan dosa, kepedihan dan kesengsaraan. Jika dunia ingin baik, maka satu-satunya jalan adalah kembali kepada Kristus, yang telah menebus dosa di kayu salib, dan bertobat sungguh-sungguh, taat kepada kebenaran yang Allah nyatakan kepada kita.

Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. adalah gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya; Direktur: Toko Buku Momentum, Studi Korespondensi Reformed Injili Internasional (SKRII), dan Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika. Beliau adalah co-founder dari Yayasan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education). Selain itu, beliau adalah dosen di Institut Reformed, Jakarta dan Sekolah Theologi Reformed Injili Jakarta (STRIJ). Beliau juga adalah seorang pengkhotbah KKR dan hamba Tuhan yang menguasai bidang-bidang, seperti ekonomi, pendidikan, hukum, etika dan sosial politik. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) dari Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai dua orang anak, Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998). (http://www.akupercaya.com)

PENETAPAN ALLAH ATAS DOSA DAN SIFAT KUDUS ALLAH

Eksistensi dosa dalam dunia telah menjadi pusat perdebatan sepanjang abad, baik di kalangan filsuf maupun teolog. Habakuk pernah bergumul dengan isu ini ketika ia menanyakan mengapa Allah diam ketika orang fasik memakan orang benar (Hab 1:2-4) atau ketika Allah justru memakai bangsa yang berdosa untuk menggenapi rencana-Nya (Hab 1:13)? Asaf juga mempertanyakan keadilan dan kesetiaan Allah ketika ia melihat orang fasik sukses sementara orang benar justru menderita (Mzm 73:1-12)?

Seandainya dunia memang diciptakan oleh Allah yang mahakudus, mahabaik dan mahakuasa, mengapa ada dosa dalam dunia? Apakah Allah sudah tahu sebelumnya sejak kekekalan tetapi Ia tidak berkuasa untuk mengubah hal ini? Apakah Ia tidak berkuasa menciptakan dunia yang lebih baik? Atau, sebaliknya, apakah dosa memang sudah berada dalam penetapan Allah? Kalau memang yang terakhir ini benar, apakah itu tidak berkontradiksi dengan sifat Allah yang kudus? Seberapa jauh Allah terlibat dalam eksistensi dosa dalam dunia? Deretan pertanyaan ini dalam dunia teologi dikenal dengan pertanyaan seputar theodicy.[1]

Kaum ateis menganggap isu ini sebagai bukti terkuat untuk menolak eksistensi Allah. Salah satu argumen klasik yang berkaitan dengan isu ini dipopulerkan oleh David Hume. Ia menganggap eksistensi dosa membuktikan tiga kemungkinan: Allah tidak mahakuasa, tidak mahakudus/baik atau tidak ada Allah sama sekali.[2] Ronald H. Nash, salah satu penganut teisme ternama, juga mengakui bahwa serangan terkuat dari pihak ateis terhadap teisme berkaitan dengan topik ini.[3]

Perdebatan di atas ternyata tidak hanya melibatkan kaum ateis dan teis. Mereka yang memegang teisme pun memiliki pandangan yang beragam berkaitan dengan topik ini.[4] Benedict Spinoza dan Christian Science menganggap dosa hanya sebagai ilusi. Armenianisme menganggap eksistensi dosa hanya berhubungan dengan pra-pengetahuan Allah, bukan penetapan Allah. Menurut mereka, Allah tidak merencanakan dosa dalam dunia, Ia hanya membiarkan hal itu ada. Zoroastrianisme dan Manicheanisme memegang dualisme kosmologis yang menganggap Allah dan dosa/kejahatan sama-sama bersifat kekal. Golongan Reformed percaya bahwa dosa berada di dalam ketetapan Allah, namun Allah bukan pencipta dosa.[5]

Dalam makalah ini, Penulis pertama-tama akan menyinggung penetapan atas dosa secara umum dari perspektif Alkitab (Reformed). Setelah itu Penulis akan menjelaskan bahwa eksistensi dosa tidak berkontradiksi dengan natur Allah yang mahakudus. Bagian terakhir akan difokuskan pada usaha untuk mengetahui, sejauh yang Alkitab nyatakan, mengapa Allah menetapkan dosa

.

Penetapan Allah atas dosa

Pada bagian ini Penulis akan mencantumkan data Alkitab tentang Allah dan dosa. Pemaparan ini akan dibagi menjadi dua: Allah dan dosa sebelum dan setelah kejatuhan.[6] Setelah memaparkan data Alkitab yang ada, Penulis akan menyelidiki apakah penetapan atas dosa sejak kekekalan hanyalah sebuah perijinan atau memang penetapan aktif Allah?

.

Data Alkitab tentang Allah dan dosa

Penetapan sebelum kejatuhan

Berkaitan dengan penetapan dosa sebelum kejatuhan, Alkitab memang tidak memberikan banyak rujukan yang eksplisit. Bagaimanapun, ayat-ayat berikut ini memberikan inferensi yang cukup konklusif tentang hal itu.

(1) Kisah Rasul 4:27-28.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah menentukan dari semula (proorizw) dosa orang-orang yang menyalibkan Yesus. Dari teks Yunani yang ada, tidak ada indikasi yang jelas tentang kapan penentuan ini dilakukan. Kata proorizw – yang terdiri dari pro = sebelum dan orizw = menetapkan – secara hurufiah berarti “menentukan sebelumnya”. Beberapa versi menerjemahkan “determined before” (KJV), “had decided beforehand” (NIV), “predestined” (RSV/NASB) atau “dari semula” (LAI:TB). Berdasarkan penggunaan proorizw di Perjanjian Baru dapat disimpulkan bahwa kata ini merujuk pada penentuan sebelum dunia dijadikan. Kata yang muncul sebanyak 6 kali ini selalu dipakai dalam konteks sebelum dunia dijadikan (Rom 8:29-30; 1Kor 2:7; Ef 1:5, 11).

(2) Efesus 1:4.

Dalam ayat ini diajarkan bahwa Allah memilih orang percaya di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Walaupun ayat ini tidak secara eksplisit menjelaskan penetapan dosa sejak kekekalan, tetapi inferensi ke arah itu sangat jelas. Ayat ini menyiratkan bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa sudah berada dalam rencana Allah, karena itu Ia juga telah menetapkan Kristus sebagai penebus. Ide yang sama juga dinyatakan dalam 1Petrus 1:20.

(3) Wahyu 13:8; 17:8.

Dua teks di atas menyebutkan eksistensi orang-orang yang namanya tidak ada dalam kitab kehidupan sebelum dunia dijadikan. Makna yang tersirat dari ayat tersebut sudah jelas: dosa sudah berada dalam rencana Allah sebelum dunia dijadikan.

Penetapan setelah kejatuhan

Alkitab memberikan banyak contoh eksplisit “keterlibatan” Allah dalam dosa atau kejahatan. Beberapa yang penting untuk diketahui antara lain:

(1) Kejadian 45:4-8.

Dalam teks ini Yusuf menegaskan sebanyak 3 kali bahwa ia ada di Mesir karena Allah yang mengirim dia ke sana (ayat 5, 7, 8). Hal ini membuktikan bahwa semua tindakan jahat yang dialami Yusuf juga ditetapkan oleh Allah, misalnya keirihatian dan kebencian saudara-saudaranya serta fitnah istri Potifar.

(2) Keluaran 7:1-4.

Teks ini menunjukkan bahwa Allahlah yang mengeraskan hati Firaun sehingga ia menolak membiarkan bangsa Israel pergi. Setelah mereka keluar dari Mesir, Allah juga yang mengeraskan hati Firaun sehingga ia mengejar mereka dan akhirnya binasa di laut (Kel 14:4). Paulus menyinggung peristiwa ini dan memberikan konklusi bahwa Allah menaruh belas kasihan atau mengeraskan hati seseorang sesuai dengan kehendak-Nya (Rom 9:18). Bagian Alkitab lain yang sama dengan ayat-ayat di atas adalah Ulangan 2:30-31, 1Sam 2:22-25.

(3) Hakim-hakim 14:1-4.

Ayat ini secara eksplisit menjelaskan bahwa Allah memang menghendaki Simson untuk menikah dengan orang Filistin, sehingga Allah memiliki kesempatan untuk melawan bangsa Filistin.

(4) 1Raja-raja 22:21-22.

Ayat ini mungkin merupakan salah satu ayat yang paling eksplisit yang mengajarkan “keterlibatan” Allah dalam dosa. Ayat lain yang juga eksplisit adalah 1Samuel 16:14 (Allah mengirim roh jahat) dan 1Samuel 24:1//1Taw 21:1 (Allah dan Iblis terlibat bersama-sama dalam dosa Daud).

Ayat-ayat yang telah dipaparkan di atas hanyalah sebagian dari sekian banyak rujukan dalam Alkitab yang mengajarkan bahwa Allah dalam tingkat tertentu memang terlibat dalam dosa. Seberapa jauh Allah “terlibat” dalam eksistensi dosa akan dibahas dalam bagian selanjutnya. Bagaimanapun, ayat-ayat di atas cukup jelas menyatakan bahwa kekudusan Allah tidak berarti Ia sama sekali tidak berhubungan dengan dosa. Bukankah Yesus Kristus – Allah dan manusia sejati yang tidak mengenal dosa – juga dijadikan berdosa karena pelanggaran manusia (2Kor 5:21)?

.

Sifat penetapan Allah atas dosa

Apakah dalam kasus eksistensi dosa, penetapan Allah hanya bersifat pasif saja (sekedar membiarkan hal itu terjadi) atau aktif (merencanakan hal itu)? Sebagian orang lebih memilih alternatif pertama, karena dianggap lebih bisa mengharmonisasikan eksistensi dosa dengan kekudusan/kebaikan Allah. Bagaimanapun, data Alkitab dan logika justru lebih mendukung penetapan Allah yang aktif.

(1) Konsep tentang Allah yang hanya membiarkan sesuatu terjadi membahayakan konsep tentang kedaulatan-Nya yang mutlak.

Istilah “membiarkan” menyiratkan kesan bahwa ada sesuatu di luar diri Allah yang mendorong terjadinya sesuatu. Allah hanya memiliki dua pilihan: mencegah atau membiarkan hal itu terjadi. Pemikiran seperti ini jelas bertentangan dengan natur Allah yang berdaulat. Ia menetapkan segala sesuatu bukan berdasarkan pra-pengetahuan-Nya, tetapi kedaulatan-Nya.

(a) Kalau Allah mengetahui lebih dahulu baru menetapkan itu untuk terjadi, siapa yang mendorong segala sesuatu tersebut untuk terjadi seperti yang Allah ketahui sebelumnya?

(b) Kalau Allah mengetahui sesuatu akan terjadi – sedangkan pengetahuan Allah bersifat pasti – mengapa Allah masih perlu menetapkan hal itu untuk terjadi? Bukankah tanpa ditetapkan pun semuanya pasti akan terjadi seperti yang Allah ketahui?

(c) Bukankah pola pemilihan dan penetapan Allah dalam Alkitab juga tidak didasarkan pada pra-pengetahuan Allah (Rom 9:10-12; Ef 1:4, 5, 9)?

(2) Konsep tentang Allah yang hanya membiarkan sesuatu terjadi tidak menjawab masalah yang sebenarnya.

Seperti telah disinggung sebelumnya, konsep perijinan dosa meletakkan Allah pada dua pilihan: mencegah atau membiarkan dosa terjadi. Menurut penganut teori perijinan, Allah hanya membiarkan dosa terjadi, sehingga tidak bisa disalahkan dan masalah selesai. Benarkah ini adalah jawaban yang memuaskan? Sama sekali tidak! Orang akan tetap bertanya, “bukankah Allah bisa mencegah (karena Ia mahakuasa)? Mengapa Dia tidak melakukan itu?” John Calvin[7] dan Gordon H. Clark[8] secara tegas menolak konsep perijinan seperti ini. Robert L. Reymond menjelaskan hal ini dalam konteks legal sebagai berikut: jika seseorang mengetahui bahwa anaknya memiliki keinginan untuk membunuh dan ia tidak mencegah, sebaliknya ia malah membekali anak itu dengan ketrampilan khusus, maka walaupun ia sudah memperingatkan anak itu tentang hukuman, ia tetap dianggap bersalah.[9]

(3) Data Alkitab mendukung keterlibatan Allah yang aktif dalam dosa.

Ayat-ayat Alkitab yang sudah dipaparkan di bagian sebelumnya bukan hanya menunjukkan bahwa Allah terlibat dalam dosa, tetapi juga Allah secara aktif terlibat dalam dosa. Pengertian “aktif” di sini jelas bukan berarti Allah sebagai pencipta atau pelaku dosa (Mzm 92:16; Pkh 7:29; Yak 1:13; 1Yoh 1:5). Dalam taraf tertentu Ia berhubungan, bahkan perlu mengontrol dosa (Ay 1:12; 2:6; Luk 22:31-32; Yud 1:6). Keterlibatan dan kontrol atas dosa ini merupakan bagian integral dari natur-Nya sebagai Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu

.

Eksistensi Allah dan dosa: sebuah telaah filosofis singkat

Bagian ini secara khusus akan menyoroti pandangan Hume yang menyatakan bahwa eksistensi dosa berkontradiksi dengan eksistensi Allah. Argumen Hume dapat dijelaskan sebagai berikut:

Allah mahakudus dan mahabaik à Ia pasti membenci dosa dan penderitaan

Allah mahatahu dan mahakuasa à Ia pasti mampu mencegah dosa dalam dunia

Fakta: dosa ada dalam dunia

Konklusi: (1) Allah tidak mahakudus/mahabaik; (2) Allah mahabaik/kudus tetapi tidak berkuasa mencegah dosa dalam dunia; (3) Allah atau dosa tidak ada.

Bagaimana menjawab keberatan di atas? Pertama, definisi dosa/kejahatan perlu ditinjau ulang. Agustinus dalam bukunya The City of God memberikan pemahaman tentang dosa yang bisa memberikan sedikit pencerahan tentang isu ini. Bagi Agustinus, dosa adalah ketidakadaan kebaikan (the absence of good). Dosa bukanlah suatu entitas yang kekal, karena tidak ada sesuatu pun yang independen dari Allah. Dosa juga bukan sesuatu yang diciptakan Allah, karena itu tidak bertentangan dengan sifat kudus Allah. Segala sesuatu yang diciptakan Allah adalah sangat baik (Kej 1:31). Ketika ciptaan-Nya memilih untuk tidak mengikuti kehendak Pencipta (menolak yang baik) dosa eksis.

Kedua, problem “keharusan” dalam diri Allah. Silogisme Hume di atas sebenarnya menyiratkan satu asumsi pemikiran, yaitu “kalau Allah dapat melakukan apa saja, maka Ia pasti melakukan apa saja”. Pemikiran seperti ini tidak sesuai dengan salah satu atribut Allah yang paling fundamental, yaitu kebebasan dan kesempurnaan-Nya yang mutlak. Di dalam kamus Allah tidak ada kata “harus”. Dalam hubungan dengan isu theodicy, Allah memang baik dan membenci dosa, tetapi itu tidak berarti bahwa Ia harus meniadakan dosa. Allah memang mahakuasa dan mahatahu, tetapi itu tidak berarti bahwa Ia harus “mencegah” eksistensi dosa dalam dunia. Satu-satunya yang bisa “membatasi” Allah adalah atribut-Nya sendiri: Allah tidak bisa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan atribut-Nya. Walaupun demikian, hal ini tetap tidak berarti bahwa Ia harus melakukan segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan atribut-Nya. Dalam kedaulatan dan hikmat-Nya Allah telah menetapkan untuk merencanakan eksistensi dosa dalam dunia. Penetapan dosa (ketidakadaan kebaikan) tidak berkontradiksi dengan atribut Allah yang kudus, kecuali kalau Ia menciptakan atau melakukan dosa, itu baru melanggar kekudusan-Nya.

Ketiga, konklusi dalam silogisme Hume di atas terlalu sempit. Bandingkan dengan silogisme berikut ini:

Saya merasa jijik dengan tikus, karena itu saya pasti membenci tikus

Saya mampu membunuh tikus dan memiliki senjata untuk membunuh mereka

Di rumah saya ternyata ada tikus

Apakah itu berarti saya tidak ada? saya tidak jijik? saya tidak mampu membunuh tikus?

Konklusi yang lebih masuk akal seharusnya adalah “saya belum mau membunuh tikus-tikus itu sekarang” atau “saya mempunyai rencana tertentu yang lebih baik daripada membunuh tikus-tikus itu sekarang”. Demikian pula dengan sikap Allah terhadap dosa. Ia memang membenci dosa dan mampu membuat manusia tidak berdosa, namun dalam kedaulatan-Nya Allah memilih untuk tidak melakukan itu sekarang. Nanti ketika orang percaya berada di surga, Allah akan membuat mereka non posse peccare (tidak bisa berdosa).

Mengapa Allah menetapkan dosa?

Jawaban yang paling jujur atas masalah ini adalah “misteri Allah” (Ul 29:29). Bagaimanapun, apabila orang percaya mencoba menyelidiki apa yang Alkitab nyatakan tentang hal ini – betapapun terbatasnya data yang ada – itu bukanlah dosa.

Pertama, eksistensi dosa sebagai “ketidakadaan kebaikan” merupakan kemungkinan yang logis dari penciptaan manusia sebagai pribadi yang bebas.[10] Allah menciptakan Adam dan Hawa dengan kesadaran moral yang baik dan juga kehendak bebas. Allah bisa saja menciptakan manusia yang tidak bisa berdosa (selalu memilih yang baik), tetapi hal itu berarti manusia tidak memiliki kehendak bebas. Dalam kedaulatan-Nya yang mutlak dan pikiran-Nya yang tidak terselami, Allah telah menetapkan untuk menciptakan manusia yang baik dengan kehendak bebas. Hal ini tidak berarti Allah menciptakan manusia dengan potensi untuk berbuat dosa. Potensi berbeda dengan kemungkinan. “Potensi” berhubungan dengan sesuatu dalam diri manusia yang memampukan mereka untuk melakukan sesuatu (dalam hal ini untuk berdosa), sedangkan “kemungkinan” merupakan sesuatu yang objektif dan di luar diri manusia.

Kedua, eksistensi dosa merupakan instrumen yang dipakai Allah agar manusia mengenal Dia dengan lebih sempurna. Melalui kejatuhan ke dalam dosa dan karya penebusan Allah, manusia bisa mengenal Allah dengan lebih baik. Manusia bisa memahami kekudusan, keadilan, kasih dan kekuasaan Allah secara optimal. Salah satu contoh dari pemikiran ini dapat dilihat dalam kasus Adam dan Hawa. Sebelum mereka jatuh ke dalam dosa, mereka bisa berhubungan intim dengan Allah. Setelah mereka berdosa, mereka langsung menyembunyikan diri dari Allah dalam ketakutan (Kej 3:7, 10). Dalam keberdosaan yang paling dalam, manusia justru menemukan kekudusan Allah yang paling sempurna, yang membuat mereka begitu ketakutan. Paulus juga mampu melihat kesabaran Allah yang paling luar biasa ketika ia menyadari keberdosaannya yang luar biasa pula (1Tim 1:15-16). Kasih karunia juga menjadi semakin nyata ketika dosa semakin banyak (Rom 5:20).

Ketiga, eksistensi dosa dipakai Allah untuk mengerjakan kebaikan bagi diri-Nya dan umat pilihan-Nya. Sebagaimana telah disinggung dalam bagian sebelumnya, Allah tidak harus melakukan apapun. Ia benar-benar bebas dan sempurna. Bavinck, seperti dikutip Morton Smith, mengatakan, “God does not need the universe in order to be perfect; he does not need to create and preserve in order not to be idle; in himself he is absolute activity”[11]. Ketika Ia menetapkan untuk menciptakan segala sesuatu, Ia berhak mengatur semuanya hanya untuk kebaikan dan kemuliaan-Nya (Yes 43:6-7; Mzm 19:1; Rom 1:19-20). Kolose 1:16 menyatakan dengan jelas bahwa segala sesuatu dijadikan oleh dan untuk Dia. Mazmur 119:91 “semua ada untuk melayani-Mu”. Berdasarkan hal ini, Ia berhak memakai dosa untuk kemuliaan-Nya (Rom 3:4-8; 9:17-21).

Allah juga berhak membatasi kebaikan-Nya pada sebagian orang saja, yaitu umat pilihan-Nya (Rom 8:29-30). Kesalahan umum dari mereka yang menolak penetapan Allah atas dosa adalah asumsi bahwa Allah harus berbuat baik kepada semua orang. Allah memang baik kepada semua orang (Mat 5:45), tetapi itu tidak berarti bahwa Ia harus memberikan kebaikan dalam bentuk dan tingkat yang sama kepada semua orang

.

Penutup

Masalah ini tidak akan pernah terjawab dengan tuntas. Manusia tetap tidak akan mampu memahami mengapa Allah menetapkan dosa hanya untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan umat pilihan-Nya atau mengapa Allah tidak menciptakan dunia yang lain. Allah bisa menciptakan “dunia lain” yang tanpa dosa, tetapi apakah dunia seperti itu yang terbaik? Terbaik untuk siapa? Dunia sekarang ini adalah yang terbaik, karena Allah telah menetapkannya dan menuju pada pemuliaan Allah yang tertinggi.


[1] Istilah yang dipopulerkan oleh Gottfried Leibniz (1646-1716) ini berasal dari dua kata Yunani: qeos = Allah dan dikh = keadilan.

[2] Dialogues Concerning Natural Religion, part 10, edited by Nelson Pike (Prentice Hall, 1964)

[3] Faith and Reason (Zondervan, 1988), 177.

[4] Diringkas dari penjelasan Millard J. Erickson, Christian Theology (2nd ed., Baker Books, 2002), 439-447.

[5] Salah satu contoh adalah The Westminster Confession of Faith 3:1 5:2, 4: “God from all eternity did, by the most wise and holy counsel of His own will, freely and unchangeably ordain whatsoever comes to pass: yet so, as thereby neither is God the author of sin, nor is violence offered to the will of the creatures, nor is the liberty or contingency of second causes taken away, but rather established. Although, in relation to the foreknowledge and decree of God, the first cause, all things come to pass immutably and infallibly; yet, by the same providence, He orders them to fall out according to the nature of second causes, either necessarily, freely, or contingently. The almighty power, unsearchable wisdom, and infinite goodness of God, so far manifest themselves in His providence, that it extends itself even to the first Fall, and all other sins of angels and men, and that not by a bare permission, but such as has joined with it a most wise and powerful bounding, and otherwise ordering and governing of them, in a manifold dispensation, to His own holy ends; yet so as the sinfulness thereof proceeds only from the creature, and not from God; who, being most holy and righteous, neither is nor can be the author or approver of sin”.

[6] Pembagian ini sebenarnya tidak terlalu tepat, karena semua yang terjadi dalam dunia ini, baik dulu, sekarang maupun yang akan datang, telah ditetapkan Allah sebelum dunia dijadikan. Bagaimanapun, pembagian ini tetap diperlukan karena isu theodicy mencakup dua sisi: ketetapan atas dosa sebelum dan setelah kejatuhan. Berkaitan dengan eksistensi dosa setelah kejatuhan, isu ini relatif lebih bisa diterima oleh banyak orang, karena manusia sudah tercemar dan Allah hanya perlu “menahan kasih karunia-Nya” saja maka manusia akan jatuh ke dalam dosa (band. Flp 2:12-13). Isu tersulit justru berhubungan dengan ketetapan atas dosa sebelum kejatuhan. Dengan kata lain, orang cenderung memprotes, “mengapa Allah menciptakan dunia yang penuh dengan dosa, padahal Ia sudah tahu akan hal itu dan punya kuasa untuk menciptakan “dunia lain yang lebih baik”?”.

[7] The Institutes of Christian Religion, III.xxiii.8.

[8] Religion, Reason and Revelation (Presbyterian & Reformed, 1961), 205. Clark juga membahas isu theodicy seperti ini secara khusus dalam bukunya God and Evil (The Trinity Foundation, 1996).

[9] A New Systematic Theology of the Christian Faith (Thomas Nelson, 1998), 350-351.

[10] Erickson, Christian, 448-450.

[11]Smith, M. H. 1994; Published in electronic form by Christian Classics Foundation, 1996. Systematic Theology, Volume One : Prolegomena, Theology, Anthropology, Christology. Index created by Christian Classics Foundation. (electronic ed.). Greenville Presbyterian Theological Seminary Press: Greenville SC

(http://gkri-exodus.org/page.php?penetapan-dosa)