Archive for Doctrine of The Bible

Bukti Ilmiah Injil

Apakah Arkeologi Menguatkan
atau Menentang Injil?

PengantarRatusan penemuan arkeologis dari abad pertama telah digali. Apakah arkeologi meneguhkan atau melemahkan Injil bila detil-detil dalam Injil diperiksa?
Dasar pikirannya adalah jika detil-detil kurang penting dari Injil terbukti akurat dari waktu ke waktu, ini akan meningkatkan keyakinan kita dalam material lain dalam Injil yang tidak dapat langsung diperiksa.
Berikut contoh beberapa kasus bagaimana Injil dapat bertahan menghadapi serangan para kritikus.

Keakuratan Lukas sebagai Seorang Sejarawan

Lukas, adalah tabib dan sejarawan yang menulis Injil Lukas dan Kitab Kisah Para Rasul. Apakah Lukas adalah sejarawan yang dapat dipercaya bahwa ia menuliskan segala sesuatunya dengan benar? Ketika para arkeologis memeriksa detil-detil dari apa yang ia tuliskan, apakah mereka menyimpulkan bahwa Lukas teliti atau ceroboh?

Para sarjana melihat Lukas sangat akurat sebagai seorang sejarawan. Ia terpelajar. Ia pandai berbicara. Bahasa Yunani Lukas mendekati kualitas yang unggul. Ia menulis sebagai seorang pria berpendidikan, dan penemuan-penemuan arkeologis menunjukkan lagi dan lagi bahwa Lukas akurat dalam apa yang ia tuliskan.
Misalnya, dalam Lukas 3:1, ia mencatat Lisanias sebagai raja wilayah Abilene sekitar tahun 27 M. Selama bertahun-tahun para sarjana menunjuk ini sebagai bukti bahwa Lukas tidak mengerti apa yang ia bicarakan, karena Lisanias bukan seorang raja melainkan pemerintah Chalcis setengah abad sebelumnya. Jika Lukas tidak dapat memberikan fakta dasar yang benar, maka tulisannya tidak dapat dipercaya.
Tetapi selanjutnya, sebuah prasasti yang berasal dari waktu ketika Tiberius, dari tahun 14 sampai 37 M, ditemukan. Prasasti itu menyebutkan Lisanias sebagai raja di Abilene, dekat Damaskus, persis seperti yang dituliskan Lukas.
Contoh lain adalah Kisah Para Rasul 17:6, pada pemakaian kata ‘politarchs’ yang diterjemahkan sebagai `pembesar-pembesar kota`. Selama waktu yang lama, orang-orang berpikir bahwa Lukas keliru, karena tidak ditemukan bukti adanya istilah ‘politarchs’ di dokumen-dokumen Roma kuno.
Tetapi kemudian sebuah tulisan yang tertoreh di sebuah lengkungan abad pertama, diawali dengan: ‘Pada waktu ketika politarchs’. Anda dapat pergi ke British Museum dan melihatnya sendiri. Para arkeologis juga telah menemukan lebih dari 35 tulisan prasasti yang menyebutkan kata ‘politarchs’. Beberapa dari tulisan ini ada di Tesalonika dari periode yang sama yang dirujuk oleh Lukas. Sekali lagi para kritikus salah dan Lukas yang benar.

Dalam Lukas 18:35 Yesus sedang berjalan ke Yerikho ketika Ia menyembuhkan seorang buta bernama Bartimeus, sementara Markus 10:46 berkata bahwa ia keluar dari Yerikho. Tidakkah ini merupakan kontradiksi yang tajam yang menimbulkan keraguan terhadap dapat dipercayanya Perjanjian Baru?

Tidak sama sekali. Itu muncul sebagai kontradiksi hanya karena Anda berpikir dalam istilah yang kontemporer, di mana kota-kota dibangun dan tetap begitu adanya. Namun tidaklah demikian kasusnya di masa lampau.
Yerikho setidaknya berada di 4 lokasi berbeda 1/4 mil jauhnya pada masa-masa kuno. Kota itu dihancurkan dan dibangun kembali dekat persediaan air lain atau sebuah jalan baru atau lebih dekat ke sebuah gunung atau apa saja. Intinya adalah, Anda dapat keluar dari lokasi yang satu, di mana Yerikho ada dan menuju ke lokasi lain, di mana Yerikho juga ada.
Jadi baik Lukas maupun Markus dapat sama-sama benar. Yesus bisa saja keluar dari satu area di Yerikho dan masuk area Yerikho yang lain.

Seseorang arkeologis terkemuka dengan hati-hati memeriksa rujukan-rujukan Lukas pada 32 negara, 54 kota,dan 9 pulau, dan ia tidak menemukan satu kesalahan pun.
Jika Lukas begitu akurat dan cermat dalam melaporkan sejarah, maka ia tentu secara akurat juga melaporkan hal-hal yang jauh lebih penting, tidak hanya baginya namun bagi orang-orang lain juga. Sebagai contoh tentang kebangkitan Yesus, bukti yang paling berpengaruh dalam ketuhanan-Nya, yang oleh Lukas ditegaskan dengan kuat oleh: ‘banyak tanda … membuktikan …’ (Kisah Para Rasul 1:3).

Bukti bahwa Yohanes Dapat Dipercaya

Bagaimana dengan Yohanes, yang Injilnya kadangkala dianggap mencurigakan karena ia berbicara tentang lokasi-lokasi yang tidak dapat dibuktikan benar?

Ada beberapa penemuan yang telah menunjukkan bahwa Yohanes sangat akurat. Sebagai contoh Yohanes 5:1-15 mencatat bagaimana Yesus menyembuhkan seorang cacat di kolam Betesda. Yohanes memberikan informasi detil bahwa kolam itu memiliki 5 serambi. Selama waktu yang lama orang-orang mengutip ini sebagai suatu contoh ketidakakuratan Yohanes, karena belum ditemukan satu tempat pun yang seperti itu.
Namun baru-baru ini kolom Betesda telah digali. Kolam ini terdapat sekitar 40 kaki di bawah tanah. Kolam ini memiliki 5 serambi, tepat seperti yang dijelaskan oleh Yohanes. Dan ada juga penemuan-penemuan lain, seperti: kolam Siloam (Yohanes 9:7), sumur Yakub (Yohanes 4:12), bahkan identitas Pilatus sendiri, semuanya memberikan bukti ketepatan historis bagi Injil Yohanes.
Jadi ini membantah tuduhan bahwa ‘Injil Yohanes ditulis begitu lama setelah kehidupan Yesus sehingga itu tidak mungkin akurat’.

Sensus

Lukas 2:2 mencatat bahwa sensus yang membawa Yusuf dan Maria ke Betlehem dilangsungkan ketika Kirenius menjadi wali negeri di Siria dan selama pemerintahan Herodes Agung. Ini menimbulkan masalah yang signifikan karena Herodes meninggal tahun 4 SM, dan Kirenius mulai memerintah tahun 6 M. Bagaimana Anda menangani ketidaksesuaian ini?

Seorang arkeologis terkemuka bernama Jerry Vardaman telah menemukan sebuah koin dengan nama Kirenius di atasnya. Ini menunjuk Kirenius sebagai prokonsul Siria dan Kilikia dari tahun 11 SM sampai dengan setelah kematian Herodes. Dengan demikian maka ada 2 nama Kirenius: satu yang memerintah hingga 4 SM, dan satu lagi yang memerintah setelah 6 M. Suatu hal yang biasa bila banyak orang memiliki nama Roma yang sama. Sensus ini pasti berlangsung selama pemerintahan Kirenius yang lebih awal.

Keberadaan Nazaret

Matius 2: 23 mencatat sebuah kota Nazaret, tempat Yesus menghabiskan masa kecil-Nya.
Kota Nazaret tidak pernah disebutkan oleh Rasul Paulus, atau oleh Talmud (yang mendaftar 63 kota Galilea lainnya), atau oleh Josephus (yang mendaftar 45 desa dan kota Galilea lainnya, termasuk Japha, yang berlokasi tepat 1 mil jauhnya dari Nazaret saat ini). Tidak ada sejarawan atau ahli geografi kuno yang menyebutkan Nazaret sebelum permulaan abad keempat. Nama itu pertama kali muncul dalam literatur Yahudi dalam puisi yang ditulis sekitar abad ke 7 M. Adakah penemuan arkeologis bahwa Nazaret ada selama abad pertama?

Dr. James Strange dari University of South Florida mencatat bahwa ketika Yerusalem runtuh tahun 70M, para imam tidak lagi dibutuhkan dalam Bait Suci karena bait itu telah dihancurkan, jadi mereka diutus ke berbagai lokasi lainnya, bahkan sampai ke Galilea. Para arkeologis telah menemukan sebuah daftar dalam bahasa Aram yang menjelaskan ke-24 keluarga para imam yang dipindahkan, yang salah satu dari mereka dipindahkan ke Nazaret. Ini menunjukkan bahwa Nazaret benar-benar ada pada saat itu.

Sebuah Buku Sumber yang Luar Biasa Akurat

Peneguhan arkeologi yang berulang-ulang atas keakuratan Perjanjian Baru memberikan penguatan penting bahwa Perjanjian Baru dapat dipercaya. Ini sangat kontras dengan fakta bahwa arkeologi telah menghancurkan Mormonisme.
John Ankerberg dan John Weldon menyimpulkan Mormonisme dalam sebuah buku, ‘Tidak ada kota-kota dalam Book of Mormon yang pernah ada. Tidak ada orang-orang, tempat, bangsa, atau nama dalam Book of Mormon pernah ditemukan. Tidak ada artifak-artifak Book of Mormon, tidak ada kitab-kitab Book of Mormon, tidak ada tulisan-tulisan prasasti Book of Mormon‘.
Seorang arkeologis terkemuka Australia, Clifford Wilson menulis, “Mereka yang mengetahui fakta-faktanya kini mengakui bahwa Perjanjian Baru harus diterima sebagai buku sumber yang luar biasa.”

Sumber :
Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, Penerbit Gospel Press,
PO BOX 238, Batam Center, 29432. Fax 021-7470-9281

Sumber:http://www.pemudakristen.com/artikel/bukti_ilmiah_injil.php

Yesus Usia 13-30 Tahun

Catatan Alkitab tentang fase kehidupan Yesus:

1. Kisah kelahiran (Mat 1-2 dan Luk 1-2) à sekitar tahun 6 SM.

2. Usia 12 tahun (Luk 2:41-52).

3. Usia 30 tahun (band. Luk 3:23) – mati (semua Injil kanonik) à sekitar tahun 28 M (seandainya Yohanes mencatat semua Paskah yang dihadiri Yesus).

Dari gambaran di atas terlihat bahwa Alkitab tidak memberikan keterangan apapun tentang kehidupan Yesus antara usia 12-30 tahun (sebenarnya kisah hidup Yesus antara usia 2-12 tahun juga tidak dicatat). Apa yang dilakukan Yesus selama usia 12-30 tahun? Di manakah Dia selama waktu tersebut?

Mengingat keterbatasan keterangan Alkitab tentang hal ini, tidak heran muncul berbagai spekulasi sejak abad-abad permulaan sampai jaman modern. Berikut ini adalah beberapa versi spekulatif tentang hidup Yesus di usia 12-30 tahun yang berasal dari kitab-kitab “injil” kanonik maupun literatur modern.

1. Injil Thomas.

Kitab ini paling banyak menceritakan tentang masa kecil Yesus. Salah satu cerita yang terkenal adalah ketika Yesus pada usia 5 tahun membuat 12 burung-burungan dari tanah liat pada hari Sabat. Ketika orang Yahudi dan ayahnya menegur Dia karena telah melanggar Sabat, ia menepukkan kedua telapak tangan-Nya dan berseru kepada burung-burungan tersebut “pergi!”. Seketika itu juga, burung-burungan tersebut menjadi burung sesungguhnya.

2. Injil Arabik tentang Kisah Masa Kecil Juru Selamat.

Kitab ini juga mencatat beberapa peristiwa spektakuler mulai dari kelahiran Yesus. Salah satu cerita menarik yang dicatat dalam kitab ini adalah ketika keluarga Yusuf-Maria kembali dari Mesir. Ketika mereka ada di kota Betlehem, seorang ibu membawa anaknya yang sakit kepada Maria yang waktu itu sedang memandikan Yesus. Maria memerintahkan ibu itu untuk mengambil sedikit air bekas air mandi Yesus dan memercikkannya ke tubuh anaknya yang sakit. Setelah ia melakukan ini anaknya bebas dari penyakit dan sehati kembali.

3. Yesus di Himalaya.

Salah satu isu modern yang paling populer seputar “tahun-tahun Yesus yang hilang” (the Lost Years of Jesus) adalah keberadaan-Nya di India pada usia 12-30 tahun dan setelah penyaliban-Nya. Isu ini mulai mencuat pada tahun 1894 dengan publikasi buku La vie inconnue du Jesus Christ (diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi The Unknown Life of Jesus Christ, tahun 1907) yang dikarang oleh Nicolas Notovich. Setelah itu beragam tokoh dengan berbagai motivasi yang berbeda mengadakan penelitian ke India dan Tibet untuk mencari bukti tambahan yang telah disebut dalam buku Notovich.

Beberapa buku lain seputar isu ini segera dipublikasikan. Salah satu ciri khas dari semua buku tersebut – terlepas dari keberagam dan kontradiksi di antara buku-buku itu – adalah keyakinan bahwa Yesus belajar berbagai aliran keagamaan yang ada di India pada waktu itu. Setelah Ia berumur 30 tahun, Ia kembali ke Israel. Setelah penyaliban, Ia kembali lagi ke India. Akhirnya, Yesus mati dan dikuburkan di Kashmir pada usia 120 tahun.

Semua catatan di atas hanyalah segelintir cerita dari sekian banyak spekulasi yang beredar seputar tahun-tahun hidup Yesus yang tidak dicatat oleh Alkitab. Bagaimana orang Kristen seharusnya menyikapi hal ini? Benarkah Yesus berada di beragam tempat dan melakukan berbagai mujizat seperti yang diceritakan dalam kitab-kitab tersebut? Untuk menjawab hal ini, ada beberapa hal yang perlu dipahami terlebih dahulu, yaitu genre kitab-kitab Injil, sikap bapa-bapa gereja awal dan doktrin tentang kecukupan ALkitab. Setelah itu, pembahasan akan difokuskan pada tanggapan terhadap isu tersebut

.

Genre (jenis literatur) kitab Injil

Penyelidikan dan perbandingan yang teliti menunjukkan bahwa jenis literatur keempat kitab Injil kanonik (Matius-Yohanes) adalah unik menurut ukuran disiplin sastra pada waktu itu. Kitab-kitab Injil memiliki perbedaan yang esensial dibandingkan jenis literatur lain yang populer waktu itu. Kitab-kitab Injil bukanlah sebuah bios (biografi tokoh terkenal), praxeis (kisah kepahlawanan kuno) maupun apomnhmoneumata (kumpulan perkataan tokoh terkenal). Kitab-kitab Injil juga tidak berupa kitab sejarah, walaupun kitab-kitab tersebut memiliki kredibilitas historis.

Berdasarkan keunikan ini, para penyalin Alkitab sejak abad ke-2 memberi label khusus untuk keempat kitab tersebut. Mereka menyebutnya sebagai kitab-kitab Injil (euangelion). Para sarjana modern memakai sebutan sejarah teologis (theological history) atau narasi teologis (theological narrative). Sebagai sebuah sastra “injil” atau narasi/sejarah teologis, kitab-kitab ini tidak menceritakan segala sesuatu yang dilakukan dan dikatakan Yesus (band. Yoh 20:30-31; 21:25). Sebaliknya, para penulisnya memprioritaskan pesan teologis yang ingin mereka sampaikan melalui cerita tentang perkataan dan tindakan Yesus.

Pesan teologis apa yang ingin disampaikan sangat berhubungan dengan tujuan khusus penulisan suatu kitab. Injil Lukas ditulis supaya Teofilus dan kelompok orang Kristen non-Yahudi lainnya tahu bahwa apa yang mereka terima selama ini adalah benar (Luk 1:1-4). Injil Yohanes ditulis sebagai pedoman penginjilan bagi orang-orang Kristen Yahudi untuk membuktkan bahwa Kristus adalah Mesias, Anak Allah (Yoh 20:30-31).

Berangkat dari kekhususan tujuan penulisan ini, masing-masing penulis mengadakan akumulasi data, seleksi data dan interpretasi data. Tidak semua cerita tentang Yesus yang beredar dianggap benar. Mereka hanya mengumpulkan data yang benar. Dari sekian data yang benar tentang Yesus, masing-masing penulis memilih data mana yang relevan dengan tujuan yang ingin mereka capai. Mereka kemudian menafsirkan berbagai data tersebut dari sudut pandang teologis tertentu dan mempresentasikan dengan cara tertentu yang paling efektif untuk mencapai tujuan itu. Semua proses penulisan ini sesuai dengan prosedur umum yang berlaku dalam penulisan kitab-kitab sejarah kuno.

Jadi, kenyataan bahwa tidak semua fase hidup Yesus dicatat dalam Alkitab merupakan sesuatu yang bisa dipahami. Secara logika, tidak mungkin sorang penulis menceritakan segala sesuatu yang dikatakan Yesus selama hidup-Nya. Secara teologis, Roh Kudus memang tidak mengilhami para penulis untuk menuliskan segala sesuatu. Pertanyaan yang relevan untuk direnungkan adalah, “kalau Roh Kudus saja tidak mendorong penulis Alkitab untuk mencatat semua yang mereka ketahui tentang Yesus, mengapa orang Kristen pada periode-periode selanjutnya perlu berspekulasi tentang banyak hal seputar kehidupan Yesus?”. Seandainya hal-hal tersebut adalah benar dan penting bagi iman gereja, Roh Kudus pasti akan mengilhami para penulis Alkitab untuk menceritakan segala sesuatu dengan detil

.

Berkaca dari sejarah gereja

Setelah jaman para rasul berakhir, mulai abad ke-2 dimulailah masa yang disebut pasca rasuli. Keberadaan gereja pada masa ini sangat dipengaruhi oleh bapa-bapa gereja awal yang merupakan murid atau cucu murid para rasul, misalnya Polykarpus, Irenaeus. Yang menarik untuk dicermati adalah bahwa para penerus rasul tersebut tidak terjebak pada berbagai spekulasi tentang hidup Yesus, terutama kehidupan-Nya waktu usia 12-30 tahun. Tidak ada satu pun bapa gereja awal yang membahas tentang tahun-tahun Yesus yang hilang. Sebagian dari mereka memang membahas beberapa konsep tentang Yesus yang salah yang disebarkan oleh berbagai bidat waktu itu (misalnya Irenaeus menulis Against Heresies), namun pembelaan ini terbatas pada hal-hal yang memang dicatat oleh Alkitab dan telah diputarbalikkan oleh para bidat. Berbagai kitab injil apokrif yang mencatat “kehidupan Yesus lain” di luar Alkitab umumnya ditulis bukan oleh penerus para rasul (bidat) mulai pertengahan abad ke-2 (Injil Yudas) sampai periode-periode selanjutnya (Injil Thomas, Filipus, Maria Magdalena, dsb). Pendeknya, para bapa gereja awal tidak mau menceburkan diri pada hal-hal yang tidak dicatat oleh Alkitab, padahal mereka kemungkinan besar mengetahui hal-hal itu dari penjelasan lisan para rasul yang menjadi guru mereka

.

Alkitab bersifat cukup (sufficient), bukan lengkap

Para teolog injili mengakui satu maxim dalam teologi, yaitu the sufficiency of the Bible (kecukupan Alkitab). Alkitab tidak menuliskan segala sesuatu tentang diri Allah. Sebaliknya, Alkitab hanya mencatat hal-hal yang diperlukan untuk keselamatan manusia. Alkitab ditulis bukan supaya manusia memahami Allah sepenuhnya (semua hal tentang Allah), melainkan supaya manusia mengenal Allah dengan benar. God is knowable, yet He is incomprehensible. Seandainya Allah menyatakan seluruh diri-Nya, manusia yang terbatas pasti tidak akan bisa memahami wahyu tersebut. Ulangan 29:29 mengajarkan “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.

Dalam konteks kehidupan Yesus, Ia memang merupakan puncak dari wahyu Allah (Ibr 1:1-2). Melalui inkarnasi-Nya manusia bisa melihat Allah pada tingkat wahyu yang paling tinggi (Yoh 1:18). Setiap perkatan dan tindakan Yesus dalam sejarah adalah sesuai dengan kehendak Allah dan merupakan penyataan diri Allah. Bagaimanapun, orang Kristen tidak dituntut untuk mengetahui seluk-beluk kehidupan Yesus secara detil. Roh Kudus hanya mengilhamkan hal-hal yang perlu untuk keselamatan orang Kristen

.

Kitab-kitab injil non-kanonik

Pada abad-abad permulaan beredar beragam sejumlah kitab yang membahas tentang perkatan atau tindakan. Kitab-kitab ini biasanya disebut dengan istilah “kitab injil non-kanonik” atau “kitab injil apokrif”. Istilah “injil” sebenarnya tidak tepat jika dipakai untuk menyebut kitab-kitab tersebut, karena kitab tersebut umumnya tidak membahas penebusan Kristus dengan lengkap dan benar. Karakteristik sastra dari kitab-kitab tersebut juga tidak identik dengan kitab-kitab kanonik.

Bapa-bapa gereja awal sudah mengetahui keberadaan kitab-kitab ini pada jaman mereka. Mereka juga sudah menyatakan sikap mereka, yaitu menolak kitab-kitab itu sebagai firman Allah. Mereka hanya menerima keempat kitab injil dalam Alkitab dan memakainya dalam bacaan jemaat (public reading, band. 1Tim 4:13) pada setiap ibadah. Mereka menolak kitab-kitab tersebut berdasarkan kriteria tradisi (apakah suatu kitab langsung diterima sebagai firman Allah oleh gereja secara umum sejak abad ke-1?), wibawa apostolik (apakah suatu kitab ditulis oleh atau bersumber dari para rasul?) dan ortodoksi (apakah suatu kitab tidak bertentangan dengan wahyu Allah sebelumnya?). Berdasarkan kriteria tersebut, kitab-kitab non-kanonik jelas tidak memenuhi persyaratan. Sikap resmi gereja terhadap kitab-kitab tersebut selanjutnya dinyatakan dalam bentuk kanonisasi Alkitab pada abad ke-4, namun jauh sebelum proses kanonisasi resmi dilakukan, gereja abad permulaan sudah mengadakan evaluasi terhadap kitab-kitab non-kanonik tersebut.

Sekarang, mari kita bandingkan kredibilitas kitab-kitab injil kanonik maupun non-kanonik berdasarkan kriteria pengujian sebuah kitab kuno. Untuk menguji suatu kitab kuno biasanya diberlakukan tiga macam ujian: bibliographical test (apakah jarak antara peristiwa-penulisan dan penyalinan dekat? Apakah jumlah salinan yang cukup banyak untuk merekonstruksi autografa?), internal evidence test (apakah suatu tulisan menunjukkan keseriusan penulis terhadap kebenaran?) dan external evidence test (apakah bukti lain di luar kitab tersebut mendukung apa yang ditulis dalam kitab itu?).

Hasil dari pengujian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Jarak peristiwa-penulisan-penyalinan Alkitab jauh lebih pendek daripada kitab-kitab non-kanonik yang ditulis pertengahan abad ke-2 maupun abad sesudahnya.

2. Jumlah salinan Alkitab jauh lebih banyak dibandingkan salinan kitab-kitab non-kanonik tersebut. Alkitab memiliki lebih dari 5000 salinan. Catatan: poin ini sebenarnya tidak terlalu konklusif pada dirinya sendiri, karena jumlah penganut bidat memang jauh lebih sedikit dibandingkan penganut iman ortodoks, sehingga jumlah penyalin dari pihak bidat juga kurang. Bagaimanapun, poin ini tetap memiliki nilai apabila digabungkan dengan argumen lain.

3. Keseriusan para penulis Alkitab terhadap kebenaran terlihat dari beberapa teks yang sulit dipahami (difficult readings) dan rujukan historis yang melimpah.

4. Arkheologi dan para penulis kafir kuno turut mempertegas kebenaran kitab Injil.

Kita telah membahas bahwa tidak semua perkataan dan tindakan Yesus ditetapkan Allah untuk diketahui sepenuhnya oleh orang Kristen pada periode selanjutnya. Dalam bagian ini kita juga telah melihat keunggulan kredibilitas kitab-kitab injil kanonik secara objektif dibandingkan kitab-kitab non-kanonik Pertanyaan bagi kita adalah “apakah kita lebih mempercayai “Yesus lain” yang dicatat dalam kitab-kitab non-kanonik?”. Apa yang ditulis dalam kitab-kitab itu mungkin tidak setiap detilnya salah, namun kita seharusnya lebih menerima kebenaran kitab-kitab injil kanonik, terutama pada saat kitab-kitab non-kanonik mengajarkan “Yesus yang lain”

.

Yesus di India

Buku maupun film tentang Yesus di India sudah beredar luas (Jesus in the Himalaya). Banyak orang sudah memberikan respon terhadap hal ini. Berikut ini adalah beberapa poin penting mengapa orang Kristen sebaiknya menolak pandangan ini.

1. Semua spekulasi seputar keberadaan Yesus di India terutama didasarkan pada pengakuan Notovich bahwa ia telah menuliskan ulang sebuah dokumen kuno di biara Hemis tahun 1887 yang dibacakan oleh seorang biarawan. Notovich tidak pernah membaca dokumen tersebut secara langsung. Dokumen ini sendiri sampai sekarang tidak pernah ditemukan dan dipublikasikan kepada publik. Beberapa peneliti mengaku sudah melihat dokumen yang ditulis ulang Notovich, namun tidak ada bukti untuk menunjukkan akurasi pengakuan tersebut. Seandainya mereka pernah melihatnya, bukankah mereka pasti akan mempublikasikan dokumen tersebut untuk mendukung pandangan mereka, sekalipun memperoleh berbagai keuntungan: uang dan popularitas? Seandainya para biarawan telah menolak untuk meminjamkan dokumen tersebut kepada mereka dengan alasan takut dokumen itu dimusnahkan gereja (seperti yang mereka biasa katakan), bukankah para biarawan bisa menyalin dokumen tersebut sebanyak mungkin dan mendistribusikannya secara publik?

2. Seandainya dokumen itu memang ada, mengapa orang modern harus lebih mempercayai dokumen ini daripada kitab-kitab injil kanonik yang secara uji historis lebih bisa dipercaya?

3. Di luar keberadaan dokumen yang sangat kontroversial dan spekulatif ini, data lain yang dipakai untuk mendukung pandangan ini terlalu dipaksakan, misalnya kuburan Yahudi dengan sebuah gambar tapak kaki dan rosario, jumlah rosario Katholik yang sama dengan ajaran Budha, kemiripan ajaran Yesus dengan Budha.

4. Beberapa penulis bahkan sangat dipengaruhi oleh The Aquarian Gospel of Jesus Christ karya Dowling yang diakui oleh penulisnya didapat melalui pengalaman mistis yang supranatural, bukan berdasarkan penelitian sejarah yang memadai.

5. Sebagian dari tradisi ini juga didapat dari kitab-kitab non-kanonik abad ke-4, misalnya The Acts of Thomas dan The Gospel of Thomas.

6. Yesus yang ditampilkan di beragam tulisan seputar isu itu berbeda-beda. Sebagian bahkan tampak kontradiktif.

7. Penyebutan Yesus sebagai Issa jelas mengindikasikan bahwa tradisi ini baru muncul setelah agama Islam berkembang.

8. Ajaran Yesus sangat berakar pada konsep Perjanjian Lama (band. Mat 5:17-19), bukan pada ajaran agama-agama di India. Dalam berbagai buku yang mempercayai Yesus pernah hidup di India pun dijelaskan bahwa Yesus menentang ajaran-ajaran tersebut.

9. Kepergian Yesus ke tempat yang jauh pada usia dini (13 tahun) tidak sesuai dengan kultur Yahudi yang sangat menekankan tanggung jawab anak untuk merawat ayahnya (Luk 9:60).

10. Bagi orang Yahudi, asal-usul seorang nabi memegang peranan sangat penting (band. Yoh 7:52). Seandainya Yesus menimba ilmu dari negara kafir, hal itu terlihat sangat aneh dari sisi kultur Yahudi. Seandainya ia menimba ilmu dari luar Israel, para pemimpin agama Yahudi pasti akan menolak Dia berdasarkan faktor ini.

11. Seandainya Yesus memang pernah hidup dan mati di India, mengapa tidak ada satu murid-Nya pun yang mengetahui dan mencatat hal ini? Seandainya murid-murid-Nya berbohong tentang kehidupan Yesus yang sebenarnya (Yesus yang asli tidak sesuai dengan Yesus dalam kitab-kitab injil kanonik), mengapa mereka mau mati hanya demi sebuah kebohongan yang mereka ciptakan sendiri?

.

Yesus usia 13-30 tahun menurut Alkitab

Setelah membuktikan inferioritas nilai historis data non-kanonik tentang kehidupan Yesus, sekarang kita akan lebih mendasarkan konsep kita pada Alkitab (dengan keyakinan bahwa Alkitab adalah firman Allah dan memiliki kredibilitas historis yang jauh lebih tinggi daripada kitab-kitab non-kanonik). Seperti telah dijelaskan di bagian sebelumnya, Alkitab tidak memberikan catatan khusus tentang kehidupan Yesus di usia 13-30 tahun. Apa yang akan dipaparkan dalam bagian ini hanyalah beberapa ayat yang secara implisit memberi rujukan tentang hal itu. Dari penyelidikan teks-teks tersebut dapat disimpulkan bahwa Yesus kemungkinan besar menghabiskan seluruh hidupnya secara normal di Israel (Nazaret) sebagai orang Yahudi biasa.

(1) Markus 6:3.

Dalam teks ini Yesus tidak disebut sebagai anak tukang kayu (band. Mat 13:55), tetapi tukang kayu. Penyebutan “anak Maria” dalam ayat ini (bukan anak Yusuf seperti kebiasaan Yahudi pada umumnya) sangat mungkin mengindikasikan bahwa Yusuf telah meninggal pada usia muda (Yoh 19:25) dan Yesuslah yang meneruskan pekerjaan ayahnya.

(2) Lukas 2:51.

Dalam teks ini disebutkan bahwa Yesus tetap hidup dalam asuhan mereka di Nazaret. NASB secara tepat menerjemahkan “…He continued in subjection to them”. Dari sisi tata bahasa Yunani, ayat ini memang menyiratkan bahwa Yesus selama kurun waktu tertentu di masa lampau (bentuk imperfect hn) terus-menerus berada dalam ketundukan (bentuk present dari participle {upotassomenos) kepada mereka. Teks lain yang mendukung hal ini adalah Lukas 4:16 “Nazaret, tempat Ia dibesarkan”. Yesus sendiri juga menyebut Nazaret sebagai tempat asal-Nya (Luk 4:24). Tidak heran, penduduk Nazaret sangat mengenal Dia maupun seluruh saudara-Nya (Mat 13:55//Mar 6:3).

(3) Matius 11:5//Lukas 7:21-22, bandingkan Lukas 4:17-21.

Semua mujizat yang Yesus lakukan bukan sekedar menunjukkan bahwa Ia adalah orang yang istimewa. Apa yang Dia lakukan merupakan tanda bahwa Ia adalah Mesias yang dijanjikan Allah (Luk 4:17-21//Yes 61:1-2; Yoh 20:30-31). Lukas 4:17-21 secara eksplisit menunjukkan awal pelayanan Yesus dalam menggenapi nubuat ini (bandingkan Luk 3:23). Berdasarkan pemikiran ini, kita harus menolak semua cerita spekulatif tentang berbagai mujizat yang Yesus lakukan pada masa kanak-kanak-Nya.

(http://gkri-exodus.org/page.php?yesus13-30tahun)

Alkitab yang Tanpa Salah

Membahas tentang inerrency of The Bible