Archive for Doctrine

TINJAUAN IMAN KRISTEN TERHADAP UTILITARIANISME

oleh: Pdt. Sutjipto Subeno, M.Div.

1. MANFAATKU ATAU MANFAAT-KU

Nats: Kol. 3:17, 23

1. Latar Belakang Permasalahan
Munculnya John Stuart Mill dengan filsafat Utilitarianisme modern, telah merubah dunia modern menjadi dunia yang penuh gairah. Seluruh gagasan ini diterima dengan pujian dan penyembahan, karena inilah yang selalu didambakan oleh setiap manusia.
Ide Utilitarian adalah usaha untuk mengejar kebahagiaan yang puncak. Yang dimaksud kebahagiaan puncak adalah segala hal yang bisa dikejar untuk kita bisa menikmati dunia ini. Itu sebabnya timbul perdebatan aspek moral dari filsafat ini. Pertama, bagaimana konsep utilitarian ini dilukiskan dan diaplikasikan dengan tepat, dan kedua, apakah implikasi moral dari utilitarianisme ini bisa diterima atau harus ditolak.

2. Konsep Bahagia Utilitarianisme
a) Menganut sifat hedonisme, di mana kesenangan dan tidak adanya kepedihan adalah utility dan nilai intrinsik yang perlu dikejar. Nilai intrinsik ini bernilai untuk kepentingannya sendiri dan tidak ada hubungan atau konsekwensi terhadap yang lain.
b) Tetapi sebagian utilitarian menganggap pandangan pertama terlalu sempit. Mereka melihat bahwa utilitarianisme ideal adalah sesuatu atau pengalaman tertentu, seperti pengetahuan atau menjadi mandiri, secara intrinsik bernilai atau bersifat baik, entah orang menghargai atau tidak, ataupun lebih berbahagia atau tidak dengan itu.
c) Persoalannya adalah perbandingan nilai kebaikan itu sendiri. Pada utilitarian, bisa nilai perbandingan itu dinilai berdasarkan diri sendiri, yang membandingkan beberapa tindakan yang berbeda untuk mencari nilai tertinggi (intrapersonal utility comparison), atau nilai perbandingan itu juga diperbandingan dengan kepentingan dan kebaikan bagi orang-orang lain (interpersonal utility comparison).
d) Pada umumnya, para utilitarian menuduh para moralis telah menciptakan kesusahan bagi manusia karena tuntutan moral seringkali membuat orang tidak bisa hidup nikmat. Misalnya timbulnya rasa bersalah bila kita pergi nonton atau pesta makan, karena uang yang kita pakai bisa kita berikan kepada orang miskin yang tidak bisa makan. Maka bagi utilitarian, setiap orang harus menjadi agen bagi dirinya sendiri. Kalau ia gagal mencapai kebahagiaannya, maka tidak ada tuntutan moral dari orang lain untuk menolong dia.

3. Bahaya Utilitarianisme
a) Semua dilihat dari aspek kepentingan manusia, sehingga seperti telah diungkap diatas, terjadi konflik kepentingan dan timbul masalah moral yang sulit diselesaikan. Semangat hedonistis yang mewarnai citra utilitarianisme menjadikan sifat moral dikesampingkan ataupun diganti dengan nilai moral yang sangat relatif dan rendah sifatnya. Disini sifat dosa diumbar dan dipuaskan tanpa ada penghalang yang membatas lagi.
b) Di sini terjadi kesalahan fatal. Utilitarian telah memutlakkan yang relatif. Ketika manusia mengejar kebahagiaan pribadi dengan batasan dan perbandingan nilai yang relatif, tanpa standard yang sejati, telah kehilangan basis kemutlakkan yang sesungguhnya. Akibatnya, diri dijadikan basis mutlak, dan itu berarti akan menolak Allah sebagai penentu dan standard kemutlakkan yang benar.
c) Hidup hanya mengejar kekinian yang akan meniadakan aspek kekekalan. Karena utilitarian hanya bisa melihat nilai-nilai yang ada di dunia ini, maka seluruh pengharapan akan kekekalan dan sifat-sifat ilahi diabaikan.

4. Tuntutan Alkitab
a) Segala sesuatu yang kita lakukan harus direferensikan dengan Diri dan Sifat Allah sebagai basis kemutlakkan. Inilah utilitarian yang sejati. Kita adalah utility dari Allah. Kita adalah alat, dan kita bukan menggunakan alat untuk kepentingan kita, tetapi kita adalah alat yang hidup di hadapan Allah (the living vessel – 2 Tim 2:20-21).
b) Karena kita adalah utility di tangan Allah, maka kita harus memurnikan diri kita dan menyatakan sifat-sifat Allah di dalam diri kita. Inilah misi Kristen yang menjadi saksi bagi Allah di tengah dunia. Ini pula yang dituntut oleh Alkitab terhadap kita (2 Tim 2:22-26).
c) Seluruh hidup kita harus diukur bukan diatas azas manfaat bagi diri kita, tetapi bagi Tuhan. Manfaat tertinggi adalah ketika semua yang kita kerjakan adalah penggenapan rencana Allah yang Ia kehendaki untuk kita tuntaskan. Inilah utilitarian yang sejati (Kis 20:24).
d) Untuk itu, semua yang kita lakukan, haruslah kita lakukan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk diri kita sendiri. Semangat mau mempermuliakan Tuhan harus mengalahkan egoisme dan semangat humanisme yang duniawi. Hanya dengan cara ini kita bisa menghindar diri dari sifat utilitarian yang duniawi.

Diskusikan sifat Saul ketika ia menggunakan pola utilitarian di dalam berdialog dengan Samuel, yang telah membuat Allah marah (1Sam 15:1-26).

2. YUDAS: UTILITARIAN SEJATI

Nats: Luk. 22:3-6

1. Pendahuluan
Satu pertanyaan yang sering dilontarkan adalah: apakah utilitarianisme merupakan suatu pikiran filsafat yang baru diutarakan dan dikenal oleh masyarakat sejak Jeremy Bentham atau bahkan sejak J. S. Mill, ataukah filsafat ini sebenarnya sudah merupakan pikiran yang kuno? Secara singkat kita bisa menjawab bahwa pikiran ini bukan baru, tetapi sangat kuno, bahkan sejak dari zaman Tuhan Yesus, atau bahkan bisa dikatan sejak Kejatuhan.
Untuk menjawab pertanyaan di atas, Alkitab memberikan satu contoh yang sangat baik untuk melihat kasus Utilitarian. Hal ini terlihat nyata dalam kasus Yudas.

2. Luk 22:3-6
Yudas adalah salah seorang dari murid-murid Tuhan Yesus. Dan di dalam perjalanan pelayanannya, ia dipercaya menjadi bendahara dari kelompok rasul yang Kristus pimpin. Rupanya, ia memang memiliki kemampuan untuk mengatur keuangan. Tetapi rupanya, kemudian ia memikirkan lebih jauh dan mulai terjebak dengan pikiran-pikiran dan cara kerja yang tidak sesuai dengan kebenaran. Ia mulai terjebak menjadi seorang utilitarian.
Di dalam ayat yang kita baca dan paralelnya, kita dengan segera melihat sikap oportunis dan utilitarianistis dari Yudas. Ia merasa dengan cara yang ia pakai, maka semua orang akan disenangkan. Yang pertama, ia merasa dia sendiri untung; kedua, ia merasa juga bahwa pasti para ahli taurat dan orang Farisi juga senang dan diuntungkan; dan ketiga, ia bahkan yakin Tuhan Yesus tidak akan mau ditangkap mentah-mentah begitu saja, dan pasti jika Tuhan Yesus melawan, tidak ada kuasa apapun yang bisa mengalahkan. Yudas sangat mengerti kuasa yang Tuhan Yesus miliki. Tetapi apa yang Yudas pikirkan adalah pikiran seorang utilitarianis. Ia hanya memikir menurut kepentingannya dan sekaligus kepentingan yang kelihatan “lebih luas”, tetapi yang pasti tidak berpikir di dalam kebenaran. Maka tanpa sadar, Yudaspun akan menjadi seorang oportunis. Dengan harapan keuntungan 30 keping perak, atau bahkan keuntungan-keuntungan lain yang bisa diperolehnya, maka ia rela menjual Tuhan-nya. Dari sini kita bisa belajar secara lebih kongkrit sikap utilitarian di dalam sejarah.

3. Aplikasi Pemikiran Yudas
Di dalam kehidupan sebagai orang Kristen, kita seringkali menerapkan pola utilitarian, masuk ke dalam iman Kristen kita. Apalagi dengan berbagai format Kekristenan modern, sangatlah mudah bagi orang Kristen untuk terjebak “merohanikan” pemikiran utilitarianistik ini. Beberapa hal yang mungkin perlu kita pikirkan:
a. Christianity is a pleasure.
Pemikiran bahwa Tuhan tidak menghendaki manusia sengsara, sehingga Ia harus menolong kita. Pengembangan dari pemikiran utilitarian masuk ke Kekristenan dengan anggapan bahwa jika kita sengasara (pain), maka itu pasti bukan kehendak Tuhan. Maka dengan kata lain, Kekristenan harus identik dengan pleasure. Maka gereja adalah tempat untuk pleasure yang utama. Maka tidak heran jika kemudian ada gereja yang menerapkan disco di gereja atau bahkan undian “kunci kamar” di antara pemuda-pemudi di gereja, atau segala bentuk pleasure lainnya. Pada saat seperti itu, posisi Allah menjadi tidak jelas, atau menjadi budak manusia.
b. Manage your God.
Yudas berpikir bahwa jika ia bisa merancang segala yang baik, maka Tuhan Yesus akan ikut di dalam “skenario”-nya. Ketika ia berpikir, jika Tuhan Yesus diserahkan, pasti itu akan “mempercepat” proses Tuhan Yesus menjadi Raja. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang ia pikir, bukanlah rancangan Tuhan. Ia hanya berpikir bahwa semua bisa menjadi alat untuk mencapai tujuannya, termasuk Tuhan Yesus. Hari ini, begitu banyak orang yang mau memperalat Tuhan demi apa yang dipikirkannya. Mereka berpikir persis seperti Yudas. Jika manusia bisa merancang apa yang menurut dia baik untuk Tuhan, dan bisa berjalan menurut kepentingan bersama (win-win solution), maka marilah kita kerjakan, maka Tuhan pasti akan menurut kalau sudah “terjepit.”
c. God is for our own-sake.
Allah mencipta manusia dan menginginkan manusia bisa berbahagia. Maka kita bisa berdoa dan memohon pada Allah untuk semua yang kita butuhkan. Allah yang sejati adalah Allah yang akan memenuhi semua kebutuhan kita (Mat 6). Dalam hal ini kita harus berani “mengklaim” janji Allah agar seluruh kebutuhan kita bisa dipenuhi. Inilah format yang Yudas pakai. Ia merasa bahwa Yesus harus terus memenuhi kebutuhannya. Jika perlu, segala cara bisa ia pakai untuk itu. Banyak orang Kristen masa kini juga cenderung mau memanipulasi Allah, sehingga Allah tidak lain hanya sebagai utiliti bagi manusia. Ia bukan Allah yang berdaulat, tetapi Allah yang harus menjadi budak manusia.

3. HOMO HOMINI LUPUS

Nats: Mat. 26:14-16; Mrk. 14:10-11; Luk. 22:3-6

1. Pendahuluan
Istilah “homo homini lupus” berarti: manusia adalah pemakan sesamanya. Ada anekdot yang mengatakan bahwa orang miskin akan bertanya “hari ini kita makan apa?”, sedangkan orang menengah bertanya “hari ini kita makan dimana?, dan orang kaya bertanya “hari ini kita makan siapa?” Anekdot di atas mau menggambarkan bahwa orang menjadi kaya karena telah memakan atau mengorbankan sesamanya.
Tentu munculnya anekdot seperti itu bukanlah tanpa alasan. Hal itu terjadi karena di dalam dunia berdosa ini begitu banyak orang yang menjadi kaya akibat “memakan” sesamanya. Tentu tidak semua demikian. Namun, rupanya pola mengorbankan sesamanya untuk mencari keuntungan dan kekayaan bagi diri sudah merupakan suatu “ciri” dalam kehidupan manusia. Mengapa demikian?

2. Sifat Manusia Humanistis
Sifat manusia yang memuncakkan diri dan menganggap diri sebagai makhluk yang tertinggi dan termulia, telah menjadikan manusia menyingkirkan posisi Allah sebagai posisi mutlak. Hal ini dianggap sebagai kemenangan Humanisme. Tetapi sebenarnya, justru disinilah kekalahan dan kehancuran manusia.
Ketika manusia memutlakkan diri, manusia lupa bahwa “manusia” itu bukanlah tunggal, bukan multi-tunggal tetapi murni plural. Manusia mutlak adalah makhluk relatif. Akibatnya, terjadi pemutlakkan relativisme. Situasi ini menjadikan semangat Humanisme memukul manusia balik.
Manusia yang sebenarnya harus memikirkan sesamanya dan tidak boleh memutlakkan diri, kini menjadikan dirinya sebagai “Tuhan” untuk mengganti posisi Tuhan yang sesungguhnya, yang telah disingkirkannya. Maka, ketika ia memutlakkan diri, orang atau manusia lain akan menjadi obyek yang harus memenuhi kemutlakkan dirinya. Disini terjadi semangat manipulatif. Manusia mulai dengan menganggap dirinya sebagai kebenaran yang mutlak sehingga orang lain yang berbeda pandangan dengan dia selalu tidak disukainya dan begitu sulit bagi dia untuk menerima pandangan yang kontras dengan dia. Ketika situasi seperti itu terjadi, tidak ada basis penentu kebenaran yang menjadi tolok ukur baginya untuk menguji siapa yang benar. Maka kemungkinan terbesar adalah orang lain dianggap salah olehnya.
Lebih jauh lagi, ketika ia sudah mulai memikirkan dirinya, maka ia mulai melangkah kepada kebutuhannya. Ketika kebutuhannya berkonflik dengan kebutuhan orang lain, maka ia merasa bahwa kebutuhan dirinyalah yang harus dipenuhi terlebih dahulu, barulah orang lain. Kalau perlu, biarlah orang lain dirugikan asalkan diri menjadi untung. Disini semangat utilitarian mulai mengusik dan masuk dalam pikiran orang. Maka orang tidak rela jika ia harus berkorban dan dirugikan demi kepentingan orang lain, kecuali jika ia memiliki kepentingan lain yang lebih besar atau menghindari kerugian yang lebih besar lagi.

3. Argumentasi Utilitarian
a. Manusia harus pandai-pandai memanfaatkan situasi
Seorang utilitarian tidak pernah mengerti adanya rencana Allah atau ketaatan kepada kehendak Allah. Yang dipikirkan adalah manusia perlu pandai-pandai memanfaatkan situasi, karena hidup matinya manusia tergantung kepada manusia itu sendiri.
Maka, cara terbaik bagi manusia adalah hidup memanfaatkan situasi yang ada. Tujuannya adalah untuk mencapai kebahagiaan. Sejauh kebahagiaan itu bisa dicapai, maka manusia harus mengejarnya, karena itulah sasaran akhir hidup manusia.
Seperti Bentham tegaskan, bahwa tidak perlu terlalu dirisaukan dengan berbagai pertimbangan yang akhirnya hanya menyusahkan kita (pain), seperti berbagai pertimbangan moral, karena moral adalah kesenangan (pleasure). Maka manusia harus mengejar kesenangan ini.

b. Korban adalah akibat kesalahan sendiri
Dalam kaitan dengan kesenangan yang manusia kejar, terkadang terjadi konflik sehingga ada pihak yang dirugikan. Dalam hal ini, maka yang salah adalah pihak yang dirugikan. Jika ia rugi, berarti ia gagal mencari kesempatan atau menggunakan kesempatan secara tepat, sehingga ia telah menjadi korban dari kelemahannya. Akibatnya ia mengalami kepedihan (pain). Jadi untuk seseorang bisa mencapai kesenangan, tidak ada salahnya jika orang lain sampai dirugikan, karena itu tidak ada kaitannya dengan obligasi moral sama sekali.

c. Hidup di dunia adalah memakan atau dimakan (utilitarianistis)
Hal ini merupakan realita kehidupan di dunia. Jika kita tidak berhasil menggunakan kesempatan di dunia, pastilah kita akan “dimakan” oleh orang lain. Maka di dalam dunia hanya ada satu hukum utama, yaitu memakan atau dimakan. Maka dalam hal ini, pilihan haruslah diletakkan pada yang pertama. Dimakan berarti mengalami pain, dan itu tidak sesuai dengan asas hidup, maka kita lebih baik memakan demi untuk mencapai pleasure.
Konsep di atas secara logis membenarkan jika seseorang memakan sesamanya demi untuk mencapai apa yang dianggapnya sebagai pleasure.

4. Kritik Kristen
a. Benarkah bahagia identik dengan pleasure?
Kesalahan utilitarian adalah mengidentikkan bahagia dengan pleasure. Kebahagiaan adalah suatu kondisi akibat dari menjalankan kehendak Allah dan mendapatkan “kredit point” dari Tuhan sebagai upahnya. Pleasure adalah kenikmatan yang dikaitkan dengan kedagingan, entah secara pribadi, kelompok atau masyarakat yang lebih luas. Dalam hal ini, sering terjadi konflik antara pleasure dengan kehendak Allah, maka tidak mungkin pleasure bisa identik dengan kebahagiaan. Di dalam faktanya, justru pleasure seringkali hanya merupakan kenikmatan sesaat yang membawa seseorang pada ketidakbahagiaan.

b. Benarkah ketika kita memakan orang lain itu pleasure?
Problem kedua dari utilitarianisme adalah mengabaikan aspek moral manusia. Manusia adalah makhluk yang dicipta dengan sifat moral. Bentham dan Mills lupa bahwa mereka bukanlah kuda atau anjing. Jika binatang memang tidak memiliki obligasi moral, tidak memiliki akal budi dan pertimbangan moral, maka manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, memiliki akal budi dan pertimbangan moral. Itu alasan, sifat moral ini tidak bisa ditiadakan begitu saja. Hanya manusia yang sudah kebinatangan yang tidak lagi memiliki pertimbangan moral. Sifat moral inilah yang menjadikan manusia bisa memiliki tuntutan keadilan dan hukum. Apabila tidak ada moral, tidak perlu ada hukum dan pengadilan.
Aspek moral manusia menjadikan manusia tidak pernah bisa tenang apabila ia telah merugikan dan menghancurkan orang lain. Tuduhan moral akan tiba padanya dan hal itu akan membuat manusia kehilangan kebahagiaannya. Mungkin ia bisa menikmati sukacita di atas kesusahan dan pengorbanan orang lain, tetapi hal itu akan mendatangkan tuntutan keadilan kepadanya, paling tidak nanti di dalam kekekalan. Hal itu yang menyebabkan orang berdosa akan begitu takut mati, karena ia sadar tidak bisa lepas dari tuntutan keadilan yang harus dipertanggungjawabkan.

c. Tidak sadarnya realita dosa dan pertobatan
Seperti telah diungkapkan sepintas, maka kelemahan utama utilitarian adalah penyangkalan akan adanya dosa dan perlunya pertobatan.
Utilitarian justru menganggap dosa sebagai kewajaran, karena dosa telah menjadi “mayoritas” dalam kehidupan masyarakat. Disini utilitarian yang ingin mencapai kebahagiaan justru gagal mengerti kaitan antara kebahagiaan dan kebenaran, serta perlawanan terhadap dosa dan kedagingan. Maka, sebenarnya yang dibutuhkan oleh dunia ini adalah pertobatan. Memang dunia sudah jatuh ke dalam dosa, dan sifat makan-memakan antar manusia berdosa telah menjadi ciri dunia yang berdosa. Itu alasan di dunia ini perlu ada polisi, pengadilan, dan penjara. Jika memang dunia ini baik, seperti asumsi utilitarianisme, maka tentulah polisi dan pengadilan tidak akan banyak pekerjaan. Sikap dan prinsip utilitarianisme justru akan menjadikan dunia ini semakin penuh dengan dosa, kepedihan dan kesengsaraan. Jika dunia ingin baik, maka satu-satunya jalan adalah kembali kepada Kristus, yang telah menebus dosa di kayu salib, dan bertobat sungguh-sungguh, taat kepada kebenaran yang Allah nyatakan kepada kita.

Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div. adalah gembala sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya; Direktur: Toko Buku Momentum, Studi Korespondensi Reformed Injili Internasional (SKRII), dan Sekolah Theologi Reformed Injili Surabaya (STRIS) Andhika. Beliau adalah co-founder dari Yayasan Pendidikan Reformed Injili LOGOS (LOGOS Reformed Evangelical Education). Selain itu, beliau adalah dosen di Institut Reformed, Jakarta dan Sekolah Theologi Reformed Injili Jakarta (STRIJ). Beliau juga adalah seorang pengkhotbah KKR dan hamba Tuhan yang menguasai bidang-bidang, seperti ekonomi, pendidikan, hukum, etika dan sosial politik. Beliau menyelesaikan studi Sarjana Theologi (S.Th.) dan Master of Divinity (M.Div.) dari Sekolah Tinggi Theologi Reformed Injili Indonesia (STTRII) Jakarta. Beliau menikah dengan Ev. Susiana Jacob Subeno, B.Th. dan dikaruniai dua orang anak, Samantha Subeno (1994) dan Sebastian Subeno (1998). (http://www.akupercaya.com)

Ketuhanan Yesus: Otentik atau Palsu

Apakah Yesus Memiliki Sifat-sifat Tuhan?

Pengantar

Perjanjian Lama memberikan banyak mengenai sifat-sifat Tuhan. Tuhan dijelaskan sebagai: Maha Hadir, Maha Tahu, Maha Kuasa, kekal dan tak berubah. Ia mengasihi, kudus, benar, bijaksana dan adil.

Yesus menyatakan diri sebagai Tuhan. Namun apakah Ia memiliki sifat-sifat ketuhanan ini? Jika kita memeriksa dengan teliti, apakah Ia sesuai dengan  sketsa Tuhan yang kita temukan di bagian-bagian Alkitab yang lain?

Sebagai contoh, ketika Yesus menyampaikan  Khotbah di Bukit, di sebuah bukit di luar Kapernaum, pada saat yang bersamaan Ia tidak berdiri di Jalan Utama Yerikho; Jadi dalam pengertian apa Ia disebut Maha Hadir?
Bagaimana Ia dapat disebut Maha Tahu jika dalam Markus 13:32 Ia mengakui bahwa Ia tidak mengetahui kedatangan-Nya yang kedua kali?
Jika Ia kekal adanya, mengapa Kolose 1:15 menyebut-Nya: ‘yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan’?

Yesus Mengampuni Dosa

Apa yang Ia katakan atau Ia lakukan, yang meyakinkan Anda bahwa Yesus adalah Tuhan?

Seseorang dapat menunjuk pada hal-hal seperti mujizat-mujizat-Nya, tetapi orang lain juga melakukan mujizat-mujizat, jadi meskipun ini bisa memberikan indikasi, ini tidak menentukan. Tentu saja, Kebangkitan adalah pembenaran puncak identitas-Nya. Dari banyak hal yang Ia lakukan, yang paling menyolok adalah pengampunan-Nya atas dosa.

Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.”
Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.”
Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu?
Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?
Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” -lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu – “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”
Dan orang itupun bangun lalu pulang.
Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia.
(Matius 9:2-8)

Jika Anda melakukan sesuatu yang melukai saya, saya memiliki hak untuk mengampuni Anda. Tetapi jika Anda melukai saya dan seseorang lain datang menimbrung dan berkata, ‘Aku mengampuni’, kelancangan macam apa itu?

Satu-satunya orang yang dapat mengatakan hal semacam itu dengan penuh makna adalah Tuhan sendiri, karena dosa, bahkan jika dilakukan terhadap orang lain, pertama-tama dan terutama adalah suatu penentangan terhadap Tuhan dan hukum-hukum-Nya. Jelas di sini Yesus melakukan pekerjaan pengampunan dosa, suatu pekerjaan yang hanya Allah yang mempunyai hak untuk melakukannya.

Ketika Daud berdosa dengan melakukan perzinahan dan mengatur kematian suami wanita itu, akhirnya ia berkata kepada Tuhan dalam Mazmur 51:6, “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan yang Kau anggap jahat”. Daud mengakui, bahwa meskipun ia telah berbuat salah kepada orang-orang, pada akhirnya ia berdosa terhadap Tuhan yang menciptakannya dan Tuhan perlu mengampuninya.

Yesus tidak hanya mengampuni dosa, namun juga Ia tidak berdosa. Dan tentu saja ketidakberdosaan merupakan sifat ketuhanan.

Pengosongan Diri

Bagaimana Yesus bisa Maha Hadir, jika Ia tidak dapat berada di dua tempat secara bersamaan? Bagaimana Ia bisa Maha Tahu, jika Ia berkata, ‘Bahkan Anak Manusia pun tidak tahu jamnya Ia datang kembali’? Bagaimana Ia bisa Maha Kuasa sedangkan Injil-injil dengan terus terang memberitahu kita bahwa Ia tidak mampu mengadakan banyak mujizat di kampung halaman-Nya?

Dalam Filipi 2:5-7 dijelaskan:
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Yesus telah mengosongkan diri-Nya dalam penggunaan independen sifat-sifat-Nya. Ia berfungsi sebagai Tuhan ketika Bapa memberi-Nya persetujuan untuk melakukannya.

Pengosongan diri Yesus akan pemakaian independen sifat-sifat-Nya menjelaskan kepada kita mengapa dalam beberapa kasus Ia tidak mempertunjukkan kemahakuasaan, kemahatahuan, kemahahadiran dalam keberadaan-Nya di bumi, bahkan meskipun Perjanjian Baru dengan jelas menyebutkan bahwa semua kualitas ini pada akhirnya memang benar dimiliki-Nya.

Pencipta atau Diciptakan?

Ada ayat yang mengisyaratkan bahwa Yesus adalah makhluk yang diciptakan, misalnya Kolose 1:15 mengatakan bahwa Ia adalah ‘yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan’. Tidakkah ini dengan jelas mengimplikasikan bahwa Yesus diciptakan, berlawanan dengan keberadaan sebagai Pencipta?

Dalam Perjanjian Baru, anak sulung, normalnya menerima bagian tanah yang terbesar, atau anak sulung akan menjadi raja dalam kasus sebuah keluarga kerajaan. Anak sulung dengan demikian adalah yang pada akhirnya memiliki semua hak dari ayah.

Pada abad kedua sebelum Kristus, ada tempat-tempat di mana kata ’sulung’ tidak lagi mengandung makna yang pertama diperanakkan atau dilahirkan, namun memuat gagasan kewenangan yang disertai dengan posisi sebagai pewaris yang berhak. Pengertian itulah yang diterapkan kepada Yesus.

Jika Anda hendak mengutip Kolose 1:15, Anda harus tetap mempertahankannya dalam konteks dengan melanjutkannya ke Kolose 1:19, ‘Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia’.
Jadi istilah ’sulung’ tidak dapat meniadakan kekekalan Yesus, karena itu adalah bagian dari memiliki kepenuhan Allah.

Dalam Yohanes 1:3 dikatakan Yesus adalah pencipta: ‘Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.’

Guru yang Baik

Dalam Markus 10:17-18 dikisahkan ada seorang yang bertanya, ‘Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’
kemudian Yesus menjawab, ‘Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja’.
Tidakkah Ia menyangkali ketuhanan-Nya dengan mengatakan seperti itu?

Tidak. Ia sedang membuat orang berhenti dan berpikir tentang apa yang Ia katakan: Engkau mengatakan Aku baik, hanya untuk kesopanan, ataukah karena kamu tahu siapa Aku? Apakah engkau benar menganggap Aku memiliki sifat yang seharusnya  hanya dimiliki Tuhan? Justru di sinilah Yesus menyatakan diri-Nya Allah.

Bapa Lebih Besar daripada Aku

Yesus berkata dalam Yohanes 14:28, ‘Bapa lebih besar daripada Aku’ .
Apakah ini berarti Yesus kurang daripada Tuhan?

Murid-murid meratap karena Yesus berkata bahwa Ia akan pergi. Dalam Yohanes 14:28, Yesus berkata ‘Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku’. Ini artinya Yesus akan kembali ke kemuliaan yang adalah milik-Nya.

Dalam Yohanes 17:5, Yesus berkata, ‘Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada’, yang artinya ‘Bapa lebih besar dari Aku’.
Yesus berada dalam batasan-batasan inkarnasi, Ia sedang menuju ke salib, Ia sedang menuju ke kematian, namun Ia sedang akan kembali kepada Bapa dan kepada kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia ada.

Ketika saya berkata ‘Presiden Indonesia’ lebih besar dari saya, tidak berarti dia punya sifat/esensi lebih besar dari saya. Ia lebih besar dalam kapasitas politik dan sambutan publik, tetapi ia tidak lebih daripada saya sebagai manusia.

Andaikata saya naik ke mimbar dan berkhotbah dan berkata ‘Dengan sungguh-sungguh saya menyatakan kepada Anda sekalian bahwa Bapa lebih besar daripada saya’, itu adalah suatu perkataan yang agak konyol karena semua orang tahu dengan jelas.

Pernyataan ini akan menjadi bermakna jika yang dibandingkan adalah 2 pribadi yang setara, dalam hal ini Yesus dan Bapa. Dalam hal ini justru jelas bahwa Yesus adalah setara dengan Bapa.

Menyesuaikan Sketsa Tuhan

Dalam Perjanjian Baru semua atribut Tuhan ditemukan dalam diri Yesus Kristus:

  • Maha Tahu
    Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu. (Yohanes 16:30)

  • Maha Hadir
    Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman. (Matius 28:20)

  • Maha Kuasa
    Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. (Matius 28:18)

  • Kekekalan
    Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yohanes 1:1)

  • Tidak Berubah
    Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8)

Juga, Perjanjian Lama melukiskan suatu gambaran akan Tuhan dengan menggunakan gelar-gelar dan deskripsi-deskripsi sebagai: Alfa dan Omega, Tuhan, Juruselamat, Raja, Hakim, Terang, Batu Karang, Penebus, Gembala, Pencipta, Pemberi Kehidupan, Pengampun Dosa, dan Pembicara dengan Kekuasaan Ilahi. Sungguh memukau bila diperhatikan bahwa dalam Perjanjian Baru setiap dan semuanya itu diaplikasikan kepada Yesus.

Yesus mengatakan dalam Yohanes 14:7, ‘Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku’.
Artinya, ‘Bila kamu melihat sketsa Tuhan dari Perjanjian Lama, kamu akan melihat hal itu di dalam Aku’.

Sumber:
Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, Penerbit Gospel Press,
PO BOX 238, Batam Center, 29432. Fax 021-7470-9281.

Sumber:http://www.pemudakristen.com/artikel/apakah_yesus_tuhan.php

Kematian Yesus: Realita atau Sandiwara

Apakah Yesus Benar-benar Mati?

Pengantar

Gagasan bahwa Yesus tidak pernah benar-benar mati muncul pada tulisan di abad ketujuh. Di situ dikatakan bahwa Yesus melarikan diri ke India. Bahkan sampai saat ini terdapat sebuah makam keramat yang dianggap makam Yesus di Srinagar, Kashmir.

Pada permulaan abad ke-19, Karl Bahrdt, Karl Venturini, dan yang lain-lainnya mencoba menjelaskan Kebangkitan dengan mengemukakan gagasan bahwa Yesus hanya pingsan karena kepayahan di atas kayu salib, atau Ia telah diberi obat yang membuatnya kelihatan mati, dan bahwa selanjutnya Ia dihidupkan kembali oleh udara kubur yang sejuk dan lembab. Mereka menjelaskan bahwa Yesus telah diberi suatu cairan di suatu bunga karang ketika tergantung di atas salib (Markus 15:36) dan bahwa Pilatus kelihatan terkejut akan betapa cepatnya Yesus mati (Markus 15:44).
Konsekuensinya, kata mereka, pemunculan Yesus kembali bukanlah suatu kebangkitan mukjizat, tetapi sekedar suatu kesadaran kembali yang kebetulan, dan kubur-Nya kosong karena Ia masih terus hidup.

Apa yang sebenarnya terjadi saat Penyaliban? Apa penyebab kematian Yesus? Adakah cara yang mungkin bagi-Nya untuk bertahan hidup dari siksaan ini? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang dapat dibantu diselesaikan dengan bukti medis.

Wawancara dengan Alexander Metherell, M.D., PH.D.

Metherell adalah seseorang dengan gelar medis dari University of Miami di Florida dan gelar doktor dalam bidang teknik dari University of Bristol di Inggris. Ia memperoleh sertifikat dalam diagnosis dari The American Board of Radiology dan menjadi konsultan bagi The National Heart, Lung, and Blood Institute of the National Institutes of Health of Bethesda, Maryland.

Metherell adalah mantan ilmuwan riset yang mengajar di The University of California, dan editor lima buku ilmiah dan telah membuat tulisan-tulisan yang diterbitkan mulai dari Aerospace Medicine sampai Scientific American. Analisis cerdasnya atas konstraksi muskular telah diterbitkan dalam The Physiologist dan Biophysics Journal. Ia berpenampilan sesuai dengan perannya sebagai seorang otoritas medis terkemuka.

Penyiksaan Sebelum Penyaliban

Dapatkah Anda melukiskan suatu gambaran tentang apa yang terjadi pada Yesus?

Itu dimulai setelah Perjamuan Terakhir. Yesus pergi dengan murid-murid-Nya  ke Taman Getsemani. Di sana Ia berdoa semalam-malaman. Nah, selama proses itu Ia mengantisipasi datangnya peristiwa-peristiwa pada hari berikutnya. Karena Ia mengetahui beratnya penderitaan yang akan Ia pikul, sungguh wajar jika Ia mengalami tekanan psikologis yang sangat besar.

Dalam Lukas 22:44 menceritakan bahwa Ia mulai meneteskan keringat darah pada keadaan ini. Bukankah ini hanyalah imajinasi yang terlalu fiktif?

Tidak sama sekali. Ini adalah suatu kondisi medis yang dikenal dengan hematidrosis. Ini terjadi karena tekanan psikologis yang sangat tinggi. Kegelisahan yang hebat menyebabkan terlepasnya zat-zat kimia yang memecahkan kapiler-kapiler dalam kelenjar-kelenjar keringat. Akibatnya terjadi pendarahan dalam kelenjar-kelenjar ini, dan keringat yang keluar disertai dengan darah. Hal ini menyebabkan kulit menjadi amat sangat rapuh ketika Yesus dicambuk oleh serdadu Roma keesokan harinya, kulit-Nya menjadi amat sangat sensitif.

Pencambukan Roma dikenal sangat brutal, biasanya terdiri dari 39 cambukan, tetapi seringkali lebih banyak daripada itu, tergantung pada suasana hati Si Serdadu yang melaksanakan pukulan. Si Serdadu akan menggunakan cemeti dari kepangan tali kulit dengan bola-bola logam yang dijalin ke dalamnya. Ketika cemeti itu menghantam daging, bola-bola ini akan menyebabkan memar atau lebam yang dalam, yang akan pecah terbuka akibat pukulan selanjutnya. Dan cemeti itu juga memiliki potongan-potongan duri tajam, yang akan mengiris daging dengan hebat.

Punggung yang dipukul itu akan menjadi tercabik-cabik, sehingga sebagian dari tulang belakang kadangkala terlihat akibat irisan yang dalam, sangat dalam. Pencemetian itu akan ditimpakan ke segala arah: dari bahu turun ke punggung, pantat, dan bagian belakang kaki. Itu akan sangat mengerikan.

Selagi pencambukan berlanjut, luka koyakan akan tercabik sampai ke otot-otot kerangka di bawahnya dan menghasilkan goresan-goresan daging berdarah yang gemetar. Seorang sejarawan abad ketiga bernama Eusebius menggambarkan pencambukan dengan mengatakan, “Pembuluh-pembuluh si penderita terbuka telanjang, dan otot-otot, urat-urat, dan isi perut si korban terlihat”.

Banyak orang akan mati dari pemukulan semacam ini, bahkan sebelum mereka disalibkan. Setidaknya, Si Korban akan mengalami kesakitan hebat dan keguncangan karena efek-efek kehilangan sejumlah besar darah (hipovolemik).

Ini mengakibatkan 4 hal:
1. Jantung berdetak cepat untuk mencoba memompa darah yang tidak ada di sana.
2. Tekanan darah turun, menyebabkan pingsan.
3. Ginjal berhenti menghasilkan urin untuk mempertahankan volume darah yang masih tinggal.
4. Orang itu menjadi sangat haus sewaktu tubuhnya sangat membutuhkan cairan untuk menggantikan volume darah yang hilang.

Apakah Anda melihat bukti ini dari catatan-catatan Injil?

Ya, sangat pasti. Yesus berada dalam keguncangan karena kehilangan sejumlah besar darah ketika Ia berjalan terhuyung-huyung ke lokasi hukuman mati di Kalvari, memikul batang kayu salib yang horizontal. Akhirnya Yesus tak sadarkan diri, dan serdadu Roma memerintahkan Simon untuk memikul salib-Nya. Selanjutnya kita membaca bahwa Yesus berkata, ‘Aku haus’, pada saat ketika sedikit cuka diberikan kepada-Nya.

Karena efek-efek mengerikan dari pemukulan ini, sudah pasti Yesus berada dalam kondisi kritis, bahkan sebelum paku-paku ditancapkan menembus kedua tangan dan kaki-Nya.

Penderitaan Salib

Apa yang terjadi ketika Ia tiba di lokasi Penyaliban?

Ia akan dibaringkan, kedua tangan-Nya akan dipakukan dalam posisi terentang ke batang kayu horizontal. Orang-orang Roma biasanya menggunakan paku besar yang panjangnya 5 sampai 7 inci dan meruncing ke suatu ujung yang tajam. Paku ini ditancapkan menembus pergelangan tangan.  Ini adalah posisi kokoh yang akan mengunci posisi tangan.

Dan penting untuk dipahami bahwa paku itu akan menembus ke tempat di mana urat syaraf tengah berada. Ini adalah urat syaraf terbesar yang menuju ke tangan, dan itu akan diremukkan oleh paku yang diketokkan ke dalamnya.

Kesakitan apa yang akan ditimbulkannya?

Apakah Anda pernah merasakan rasa sakit ketika Anda membenturkan siku Anda dan memukul tulang ujung siku Anda? Itu sebenarnya urat syaraf lain, disebut urat syaraf ulna. Akan sangat menyakitkan bila tanpa sengaja Anda memukulnya. Yah, bayangkan mengambil sebuah tang dan memeras dan meremukkan urat syaraf itu. Efek itu akan mirip dengan apa yang Yesus alami. Kesakitannya sama sekali tak tertahankan, secara harafiah itu di luar kata-kata untuk menjelaskannya.

Pada keadaan seperti ini Yesus dinaikkan, selagi balok salib dipasangkan ke tiang vertikal, dan kemudian paku-paku ditancapkan menembus kedua kaki Yesus. Sekali lagi, urat syaraf di kedua kaki-Nya akan remuk, dan di sana akan terasa jenis kesakitan yang sama.

Penyebab Kematian

Penyaliban pada intinya adalah kematian perlahan yang diakibatkan oleh asfiksiasi (sesak nafas karena kekurangan oksigen dalam darah). Alasannya adalah bahwa tekanan-tekanan pada otot-otot dan diafragma membuat dada berada pada posisi menarik nafas, agar dapat menghembuskan nafas, orang itu harus mendorong kedua kakinya agar tekanan pada otot-otot dapat dihilangkan untuk sesaat. Ketika melakukan itu, paku akan merobek kaki, lalu akhirnya mengunci posisi terhadap tulang-tulang tumit kaki.

Setelah dapat menarik nafas, orang itu kemudian akan dapat relaks dan menarik nafas lagi. ekali lagi ia harus mendorong tubuhnya naik untuk menghembuskan nafas, menggesekkan punggungnya yang berdarah ke kayu salib yang kasar. Ini akan berlangsung terus dan terus sampai kepayahan, dan orang itu tidak akan mampu mengangkat diri dan bernafas lagi.

Ketika nafas orang itu semakin perlahan, ia mengalami apa yang disebut asidosis pernafasan, karbondioksida dalam darah larut sebagai asam karbonik, menyebabkan keasaman darah meningkat. Ini akhirnya mengakibatkan detak jantung yang tidak teratur. Dengan jantung-Nya yang berdetak tak menentu, Yesus berada dalam saat-saat kematian-Nya, yakni ketika Ia berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”. Kemudian Ia mati akibat berhentinya detak jantung.

Bahkan sebelum Ia mati, keguncangan karena kehilangan sejumlah besar darah akan menyebabkan jantung berdebar kencang terus-menerus, yang akan menyebabkan: kegagalan jantung serta terkumpulnya cairan dalam membran-membran di sekitar jantung dan juga sekitar paru-paru.

Mengapa hai ini penting?

Karena ketika serdadu Roma datang, dan hampir yakin bahwa Yesus telah mati, mereka menegaskannya dengan menusukkan sebuah tombak ke pinggang kanan-Nya.  Tombak itu menembus paru-paru kanan dan ke jantung, jadi ketika tombak itu ditarik keluar, sejumlah cairan dalam membran-membran sekitar jantung dan juga sekitar paru-paru keluar. Ini akan terlihat sebagai cairan jernih, seperti air, diikuti dengan banyak darah, seperti yang dijelaskan saksi mata Yohanes dalam Injilnya (Yohanes 19:34).

Tulang-tulang-Nya Tidak Dipatahkan

Injil-injil berkata bahwa para serdadu mematahkan kaki kedua penjahat yang disalibkan Yesus.  Mengapa mereka melakukan itu?

Mereka ingin mempercepat kematian, dan dengan datangnya hari Sabat dan Paskah, para pemimpin Yahudi tentunya ingin segera mengakhiri ini sebelum matahari tenggelam. Serdadu-serdadu Roma akan menggunakan gagang baja dari tombak Roma untuk menghancurkan tulang-tulang kaki bagian bawah Si Korban. Ini akan mencegahnya dari mengangkat diri dengan kakinya, sehingga dapat bernafas, dan kematian akibat sesak nafas kekurangan oksigen dalam darah akan terjadi dalam beberapa menit.

Perjanjian Baru menjelaskan kepada kita bahwa kaki-kaki Yesus tidak dipatahkah karena para serdadu telah menyatakan bahwa Ia telah mati, dan mereka hanya menggunakan tombak untuk memastikannya. Ini menggenapi Perjanjian Lama tentang Mesias, yaitu bahwa tulang-tulang-Nya tidak akan dipatahkan (Mazmur 34:21).

Para serdadu Roma adalah orang yang tidak ahli dalam hal pengobatan/medis, apakah pernyataan mereka tentang kematian Yesus dapat dipercaya?

Para serdadu Roma memang tidak pergi ke sekolah medis/pengobatan. Tetapi ingat, mereka adalah ahli dalam membunuh orang karena itu adalah tugas mereka, dan mereka melakukannya dengan baik. Mereka tahu tanpa keraguan sedikitpun kapan seseorang mati, dan itu tidak sulit untuk mengetahuinya.

Disamping itu, jika seorang tahanan berhasil melarikan diri, serdadu-serdadu yang bertanggung jawab itu sendiri akan dibunuh, jadi mereka memiliki dorongan besar untuk memastikan bahwa setiap korban telah mati ketika ia diturunkan dari salib.

Argumen Terakhir

Adakah cara apapun yang memungkinkan Yesus bisa bertahan hidup dari penderitaan salib ini?

Sama sekali tidak ada. Ingatlah bahwa Ia sudah berada dalam keguncangan akibat kehilangan banyak darah, bahkan sebelum penyaliban dimulai. Ia tidak mungkin mempura-purakan kematian-Nya, karena Anda tidak mungkin mempura-purakan ketidakmampuan bernafas untuk waktu yang lama. Disamping itu, tombak yang dihunjamkan ke jantungnya akan menetapkan kematian-Nya. Dan serdadu-serdadu Roma tidak akan mengambil resiko kematian sendiri dengan membiarkan-Nya pergi dalam keadaan hidup.

Jadi bila seseorang mengajukan gagasan kepada Anda bahwa Yesus sekedar pingsan di atas kayu salib, akan saya beritahu bahwa itu tidak mungkin. Itu adalah khayalan tanpa dasar.

Pertanyaan Bagi Hati

Yesus dengan sengaja melangkah ke dalam tangan-tangan lawan-Nya. Ia tidak menolak penangkapan. Ia tidak mempertahankan diri-Nya saat persidangan. Jelas bahwa Ia bersedia mengajukan diri-Nya untuk mengalami penyaliban, suatu bentuk penyiksaaan yang memalukan dan memilukan. Apa yang mungkin memotivasi seseorang untuk bersedia menanggung penghukuman semacam ini?

Yesus tahu apa yang akan terjadi, dan Ia bersedia melewati semuanya itu, karena itu merupakan satu-satunya cara Ia dapat menebus kita, dengan menjadi pengganti kita dan menanggung hukuman maut yang layak kita terima karena pemberontakan kita terhadap Tuhan. Itu merupakan misi-Nya yang sepenuhnya ketika Ia datang ke bumi.

Jadi bila Anda bertanya apa yang memotivasi Dia, jawabannya dapat diringkas dalam satu kata, yaitu KASIH.


Kesimpulan

Yesus tidak mungkin bertahan hidup dari siksaan salib, suatu bentuk kekejian yang begitu keji, sehingga orang-orang Roma membebaskan warga negara mereka sendiri dari itu, kecuali untuk kasus-kasus pengkhianatan besar.

Kesimpulan-kesimpulan Metherell konsisten dengan penemuan dokter-dokter lain yang dengan teliti mempelajari hal ini. Di antara mereka adalah Dr. William D. Edwards, yang artikelnya pada tahun 1986, dalam The Journal of the America Medical Association menyimpulkan, “Jelas, bobot bukti historis dan medis menunjukkan Yesus telah mati sebelum pinggangnya dilukai…. Sesuai dengan itu, penafsiran-penafsiran yang didasarkan pada asumsi bahwa Yesus tidak mati di atas salib bertentangan dengan pengetahuan medis modern”.

Untuk direnungkan

Di hadapan Allah, Saudara adalah orang yang berdosa yang harus menghadap pengadilan Allah dan harus menerima hukuman kekal karena dosa-dosa yang Saudara lakukan. Saudara tidak bisa menyelamatkan diri Saudara sendiri.

Yesus telah menanggung hukuman dosa yang seharusnya Saudara terima. Ia telah menerima hukuman yang seharusnya Saudara tanggung. Jika Saudara menerima penggantian hukuman ini, Saudara bisa selamat dari hukuman Tuhan.

Maukah Saudara menerima penggantian hukuman ini?

Maukah Saudara menerima Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan?

Sumber :
Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, Penerbit Gospel Press, PO BOX 238, Batam Center, 29432. F: 021-74709281

Sumber:http://www.pemudakristen.com/artikel/apakah_yesus_mati.php

Kebangkitan Yesus: Fakta atau Dongeng?

Bukti Sejarah Kebangkitan Kristus

PengantarJika kebangkitan bukan peristiwa sejarah, maka kuasa kematian tetap tidak dikalahkan; Kematian Kristus menjadi tidak ada artinya, dan umat yang percaya kepada-Nya tetap mati dalam dosa; Keadaannya akan tidak berbeda dengan sebelum mendengar nama-Nya.

Apakah kebangkitan Kristus hanya sekedar ajaran saja?
Apakah kebangkitan Kristus hanya legenda saja?
Ataukah kebangkitan Kristus benar-benar terjadi dalam sejarah?


Penjelasan

Kebangkitan Kristus merupakan suatu peristiwa yang terjadi di dalam dimensi ruang dan waktu sejarah manusia. Kebangkitan Kristus adalah peristiwa dalam sejarah, dimana Tuhan bekerja di dalam waktu dan ruang tertentu.

Makna kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan teologi, tetapi fakta kebangkitan berhubungan dengan pembicaraan sejarah. Fakta bahwa tubuh Yesus tidak berada lagi dalam kubur adalah pembicaraan yang bisa ditentukan dengan bukti sejarah.

Lokasi geografik dari kubur Yesus adalah lokasi yang dapat ditentukan. Orang yang mempunyai kubur Yesus adalah orang yang benar-benar hidup pada paruh pertama abad pertama. Kubur yang dibuat dari batu ini berada di perbukitan dekat Yerusalem. Ini bukan sekedar kepercayaan, tetapi adalah benar-benar lokasi geografis yang dapat ditentukan letaknya. Sanhedrin adalah tempat dimana orang-orang sering berkumpul di Yerusalem. Banyak tulisan yang mencatat bahwa Yesus adalah orang yang benar-benar hidup, tinggal di antara manusia, tinggal dalam masyarakat, tanpa memandang bagaimana tulisan-tulisan itu menganggap siapa Yesus. Banyak tulisan juga mencatat bahwa murid-murid yang memberitakan Tuhan yang bangkit adalah juga tinggal di dalam masyarakat, makan, minum, tidur, menderita, bekerja dan mati. Apakah ini pembicaraan ajaran? Tidak, ini adalah pembicaraan sejarah.

Ignatius yang berasal dari Syria, bishop dari Antiokhia, murid Rasul Yohanes, yang hidup antara tahun 50-115 M, dalam perjalanannya dihukum mati sebagai martir dengan diadu dengan binatang buas, menulis tentang Kristus:

Dia disalibkan dan mati di bawah pemerintahan Pontius Pilatus. Dia benar-benar disalibkan dan mati di hadapan penghuni sorga, penghuni bumi dan bawah bumi.

Dia juga bangkit pada hari ketiga…

Pada hari persiapan Paskah, pada jam 3 (pukul 9 pagi), Dia menerima hukuman mati dari Pilatus; Bapa mengijinkan hal itu terjadi.
Pada jam 6 (pukul 12 siang), Dia disalib. Pada jam 9 (pukul 15 siang), Dia menyerahkan nyawa-Nya, dan sebelum matahari terbenam, Dia dikuburkan.

Selama hari Sabat, Dia terus di dalam bumi pada kubur di mana Yusuf dari Arimatea membaringkan-Nya.

Dia berada dalam rahim, seperti halnya kita, dan setelah periode waktu yang umum, Dia benar-benar lahir, dan seperti halnya kita, Ia benar-benar disusui, dan mengambil bagian dalam makan dan minum seperti halnya kita. Ketika Ia hidup di antara orang-orang selama 30 tahun, Dia benar-benar dibaptis oleh Yohanes. Ketika Dia mengajar Injil selama 3 tahun dan mengadakan tanda-tanda dan mujizat, Dia yang adalah Hakim dihakimi oleh orang Yahudi, dianggap bersalah kata mereka, dan oleh pemerintahan gubernur Pontius Pilatus dijadikan momok, pipi-Nya dipukul dan diludahi. Dia memakai mahkota duri dan jubah ungu. Dia dihukum: Dia benar-benar disalib, tidak dalam penglihatan, tidak dalam halusinasi. Dia benar-benar mati dan dikuburkan, dan bangkit dari antara orang mati.

Mengenai kematian Kristus, Wilbur Smith menulis: “Secara sederhana kita mengetahui banyak hal-hal detil sebelum dan saat kematian Yesus, lebih banyak dari kematian tokoh-tokoh lain leluhur dunia”.

Pada akhir abad pertama, Josephus, seorang sejarahwan Yahudi menulis dalam bukunya Antiquities:

Pada kira-kira waktu ini, hiduplah Yesus, seorang yang bijaksana, jika memang seseorang seharusnya menyebut dia seorang manusia. Karena ia adalah seseorang yang mengadakan hal-hal yang mengejutkan dan adalah seorang guru bagi orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Ia memenangkan banyak orang Yahudi dan banyak orang Yunani. Ia adalah Sang Kristus. Ketika Pilatus, karena mendengar bahwa ia dikenai tuduhan oleh orang-orang dengan jabatan tertinggi di antara kami, telah menjatuhkan hukuman salib kepadanya, mereka yang dari mulanya sudah mengasihi dia tidak melepaskan kasih sayang mereka kepadanya. Pada hari ketiga ia menampakkan diri kepada mereka dalam keadaan kembali hidup, karena nabi-nabi Tuhan telah menubuatkan hal-hal ini dan tak terhitung banyaknya hal-hal menakjubkan lainnya mengenai dia. Dan suku Kristen, demikian mereka disebutkan menurut namanya, sampai saat ini masih ada.

Injil-injil menjelaskan fakta-fakta yang berhubungan dengan kematian dan kebangkitan Yesus lebih detail dari bagian manapun pelayanan Yesus. Detil dari kebangkitan Yesus harus diterima seperti halnya detil kematian-Nya.

Perjanjian Baru juga menegaskan bahwa: Yesus disalibkan, mati dan dikuburkan. Murid-murid-Nya menjadi sangat kehilangan semangat dan takut.
Beberapa waktu yang singkat kemudian tiba-tiba semangat mereka bangkit, dan menunjukkan suatu semangat dan keberanian yang sangat tinggi, hingga tahap bersedia mati martir. Jika kita bertanya kepada mereka apa yang menyebabkan perubahan ini, mereka tidak akan menjawab, ‘Karena penyaliban, kematian dan penguburan seorang yang pernah hidup’, tetapi mereka akan menjawab, ‘Karena Tuhan telah bangkit’. Inilah yang menyebabkan orang-orang menjadi percaya.

Murid-murid adalah saksi kebangkitan Yesus Kristus. Catatan sejarahwan Lukas, mencatat dalam Kisah Para Rasul 1:3,
“Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.”

Kristus menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya. Penampakan ini terjadi dalam waktu yang dapat ditentukan, kepada banyak orang yang dapat ditentukan, dan dalam tempat yang dapat ditentukan.

Para murid percaya karya penebusan Yesus melalui bukti yang sangat kuat mengenai kebangkitan-Nya dan bukti ini tersedia kepada kita sekarang melalui catatan Perjanjian Baru. Ini penting bagi kita yang hidup di dalam jaman yang meminta bukti untuk mendukung pernyataan Kekristenan mengenai kebangkitan Kristus; untuk menjawab mereka yang meminta bukti sejarah Kebangkitan Kristus.

Kebangkitan Kristus berdasar kepada fakta sejarah, dan merupakan sumber motivasi yang kuat orang mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Ada bukti-bukti yang tidak dapat disanggah mengenai kebangkitan Kristus dalam surat-surat Paulus. Surat-surat yang ditujukan kepada: Galatia, Korintus, dan Roma, adalah surat yang ditulis Rasul Paulus selama dalam perjalanan misi antara tahun 55-58 M. Ini menunjukkan bahwa bukti-bukti kebangkitan Kristus sangat dekat dengan peristiwa itu sendiri, karena Paulus sendiri berbicara secara jelas bahwa materi surat yang ia tulis isinya sama dengan yang ia bicarakan waktu ia bersama-sama dengan mereka.

Kebangkitan Kristus adalah dasar dari pembelaan iman Kristen. Rasul-rasul adalah saksi kebangkitan: “… mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke sorga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.” (Kisah Para Rasul 1:22).

Isi dari pengajaran rasul Paulus saat di Athena adalah: “Yesus dan Kebangkitan” (Kisah Para Rasul 17:18). Khotbah pertama Petrus adalah tentang Kebangkitan: “Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (Kisah Para Rasul 2:32).

Sebagai fakta sejarah, Kebangkitan Kristus mendorong manusia untuk percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini bukan sekedar pembicaraan mengenai pengaruh: karakter, contoh dan pengajaran-Nya. Ini mengenai tanggapan manusia terhadap-Nya. Siapa yang percaya kepada kebangkitan-Nya, kemudian mempercayai ketuhanan-Nya, kemudian percaya akan karya penebusan-Nya, kemudian percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat, akan memperoleh penebusan dosa dan diselamatkan. Siapa yang menyangkal kebangkitan-Nya, secara langsung menyangkal ketuhanan-Nya dan menolak karya penebusan-Nya, tidak diselamatkan.

Kebangkitan Yesus Kristus adalah fakta sejarah.
Penyaliban Yesus Kristus untuk menanggung dosa manusia adalah fakta sejarah.
Penyaliban Yesus Kristus untuk menanggung dosa Saudara adalah fakta sejarah.

Maukah Saudara menerima fakta sejarah ini?
Maukah Saudara menerima karya penebusan Kristus bagi Saudara?
Maukah Saudara diselamatkan dari hukuman dosa, kemudian menerima hidup kekal?
Maukah Saudara menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat Saudara?

Sumber:
Josh McDowell, The New Evidence that Demands a Verdict, Thomas Nelson Publisher.
Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, Penerbit Gospel Press, PO BOX 238, Batam Center, 29432. F: 021-74709281

Sumber:http://www.pemudakristen.com/artikel/bukti_sejarah_kebangkitan_kristus.php

Apakah Kubur Kosong Yesus Itu Historis?

Apakah Kubur Kosong Yesus Itu Historis?

Adakalanya jenazah-jenazah hilang dalam picisan dan kehidupan nyata, tetapi jarang ditemukan sebuah kubur yang kosong.
Pokok pembahasan mengenai Yesus bukanlah ia tidak dapat dilihat di mana-mana.
Pembahasannya adalah Ia hadir di dunia, terlihat  dan hidup;
Ia terlihat dan mati;
Ia terlihat dan hidup sekali lagi.
Jika kita percaya kepada laporan-laporan Injil, ini bukan pembahasan mengenai jenazah yang hilang. Ini adalah pembahasan mengenai Yesus yang masih hidup bahkan sampai saat ini, bahkan setelah di depan umum mati akibat horor penyaliban yang telah dijalani-Nya.

Kubur yang kosong, sebagai simbol Kebangkitan, adalah gambaran terakhir pernyataan diri Yesus sebagai Tuhan. Rasul Paulus berkata dalam 1 Korintus 15:7 menyatakan bahwa Kebangkitan adalah bagian terpenting dari iman Kristen: ” Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu”;

Kebangkitan adalah pembenaran puncak identitas keilahian Yesus dan pengajaran-Nya yang bersemangat. Itu merupakan bukti kemenangan-Nya atas dosa dan maut. Itu adalah bayangan awal dari kebangkitan pengikut-pengikut-Nya. Itu adalah dasar pengharapan Kristen. Itu adalah mujizat atas segala mujizat.


Apakah Yesus benar-benar dimakamkan di dalam kubur?

Sejarah mengatakan bahwa menurut peraturan, penjahat-penjahat yang disalibkan harus ditinggalkan di atas kayu salib untuk dilahap burung-burung atau dilemparkan ke kuburan umum. Ini berarti bahwa jenazah Yesus mungkin digali dan dimakan oleh anjing-anjing liar. Mungkinkan ini yang benar terjadi pada Yesus?

Secara umum memang benar demikian. Tetapi untuk Yesus, kasusnya lain.

Injil-injil mengatakan bahwa jenazah Yesus diserahkan kepada Yusuf dari Arimatea, anggota dari dewan tertinggi (Sanhedrin) yang sepakat untuk menghukum mati Yesus. Itu agak tidak masuk akal bukan?

Tidak, bila anda melihat semua bukti pemakaman.

Pemakaman disebutkan oleh rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:3-7, di mana ia menyampaikan kepercayaan gereja yang sangat awal:
Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci,
bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; 
bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. 
Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal.
Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul“.

Pernyataan kepercayaan ini luar biasa awal dan demikian merupakan material yang patut dipercaya. Pada intinya ada 4 hal:
1. Penyaliban
2. Penguburan
3. Kebangkitan
4. Penampakan

Bila kita memperhatikan Injil-injil, kita menemukan banyak penjelasan independen bagi kisah penguburan ini, dan Yusuf Arimatea secara khusus disebutkan dalam keempat Injil. Di atas semuanya itu, kisah penguburan Markus amat sangat awal sehingga tidak mungkin berubah menjadi legenda.

Apakah Yusuf Arimatea ada dalam sejarah?

Markus 14:64 berkata bahwa seluruh anggota Sanhedrin sepakat untuk menghukum mati Yesus. Jika ini benar, ini berarti Yusuf Arimatea memberikan suaranya untuk membunuh Yesus. Bukankan ini sangat tidak mungkin bagi Yusuf Arimatea untuk menguburkan Yesus secara terhormat?

Kalau kita baca Lukas 22:63-71 dan Lukas 23:50-56 kita dapat menyimpulkan bahwa Yusuf Arimatea tidak hadir ketika pengambilan suara dilangsungkan dan ia tidak setuju dengan keputusan Sanhedrin untuk membunuh Yesus. Dengan demikian ia sangat mungkin melakukan penguburan Yesus secara terhormat.

Di samping itu, sangat tidak mungkin kalau penguburan yang dilakukan Yusuf Arimatea ini hanya karangan belaka.

Mengapa?

Karena orang-orang Kristen mula-mula marah dan merasakan kepahitan terhadap para pemimpin Yahudi yang telah menghasutkan penyaliban Yesus. Mereka akan sangat tidak mungkin mengarang bahwa seorang dari pemimpin-pemimpin Yahudi itu melakukan hal yang benar dengan memberikan  suatu penguburan bagi Yesus, apalagi  hal itu  terjadi di saat semua murid Yesus  meninggalkan Dia.
Di samping itu, mereka tidak mengarang-ngarang seorang anggota spesifik dari sebuah kelompok spesifik, yang dapat diperiksa sendiri oleh orang-orang dengan menanyakan tentang hal ini. Jadi Yusuf Arimatea pastilah seorang figur yang ada dalam sejarah.

Andaikata penguburan oleh Yusuf Arimatea ini adalah suatu legenda yang berkembang demikian, Anda akan berharap menemukan tradisi-tradisi penguburan tandingan lainnya tentang apa yang terjadi pada jenazah Yesus. Bagaimanapun juga, Anda tidak menemukan sama sekali.

Penguburan kehormatan Yesus merupakan salah satu dari fakta-fakta paling awal dan paling diterima dengan baik yang kita miliki tentang Yesus yang historis.

Meskipun pernyataan kepercayaan mengatakan bahwa Yesus disalibkan, dikuburkan, dan kemudian bangkit, tetapi tidak dikatakan secara spesifik bahwa kubur itu kosong. Tidakkah ini memberikan tempat bagi kemungkinan bahwa Kebangkitan hanya bersifat spiritual dan bahwa jenazah Yesus masih ada dalam kubur?

Penyataan kepercayaan ini pasti menunjukkan kubur yang kosong. Orang-orang Yahudi memiliki konsep fisik tentang kebangkitan. Bagi mereka, obyek utama kebangkitan adalah tulang-tulang si almarhum. Setelah daging membusuk, orang-orang Yahudi akan mengumpulkan tulang-tulang orang-orang mati mereka dan menaruhnya ke dalam kotak-kotak untuk dipelihara sampai saat kebangkitan pada akhir zaman, saat Tuhan membangkitkan orang-orang benar Israel yang telah mati dan mereka akan berkumpul bersama-sama dalam kerajaan Tuhan.

Jadi bila penyataan orang Kristen mula-mula ini mengatakan bahwa Yesus dikuburkan kemudian dibangkitkan pada hari ketiga, secara jelas berarti Yesus bangkit secara fisik, meninggalkan kubur , dan kubur itu menjadi sebuah kubur kosong.

Sampai Seberapa Amankah Kubur Yesus?

Seberapa ketatnyakah perlindungan atas kubur Yesus?

Ada suatu jalan berlekuk yang mengarah turun ke sebuah pintu masuk yang terletak di bawah, dan sebuah batu besar berbentuk lempengan digulingkan ke bawah menuruni jalan berlekuk ini dan ditempatkan di depan pintu tadi. Sebuah batu yang lebih kecil kemudian digunakan untuk mengemankan lempengan itu. Akan dibutuhkan beberapa orang untuk menggulingkan batu tersebut guna membuka kembali kubur itu. Dengan demikian maka kubur tersebut cukup aman.

Apakah ada yang menjaga kubur itu?

Ya, ada. Pikirkan tentang pernyataan-pernyataan dan balasan-balasannya tentang Kebangkitan yang saling dilontarkan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen pada abad pertama

Proklamasi awal Kristen adalah, ‘Yesus telah bangkit’.
Orang Yahudi merespons, ‘Murid-murid mencuri jenazah-Nya’.
Terhadap ini orang-orang Kristen berkata,’ Ah, tetapi penjaga-penjaga kubur akan mencegah pencurian seperti itu.’
Orang-orang Yahudi merespons,’Oh, tetapi para penjaga kubur itu tertidur’.
Terhadap itu, orang-orang Kristen menjawab,’Tidak, orang-orang Yahudi menyuap penjaga-penjaga itu untuk menyatakan bahwa mereka tertidur’.

Jika tidak ada penjaga, maka respons orang Yahudi seharusnya adalah, ‘Penjaga-penjaga apa? Kalian gila! Tidak ada penjaga-penjaga di sana.’
Namun sejarah tidak mengatakan kepada kita apa yang dikatakan orang-orang Yahudi. Ini menandakan bahwa penjaga ini benar-benar historis dan orang Yahudi mengetahuinya, kemudian setelah mengetahui kebangkitan mengarang cerita menggelikan bahwa penjaga-penjaga itu sedang tertidur ketika murid-murid mencuri tubuh-Nya.

Tiga Hari Tiga Malam

Yesus mengatakan dalam Matius 12:40, ‘Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam’.
Bagaimanapun juga, Injil-injil melaporkan bahwa Yesus benar-benar berada dalam kubur satu hari penuh, dua malam penuh, dan sebagian dari dua hari. Bukankan ini merupakan suatu contoh bahwa Yesus salah dengan tidak menggenapi nubuat-Nya sendiri?

Menurut perhitungan Yahudi mula-mula, bagian apapun dari satu hari dihitung sebagai satu hari. Kemudian pergantian hari terjadi pada jam 6 sore (pukul 18.00).
Jadi dari Yesus dikubur pada Jumat siang hingga Jumat petang pukul 18.00=1 hari.
Jumat petang pukul 18.00 sampai dengan Sabtu petang pukul 18.00 = 1 hari.
Sabtu petang pukul 18.00 sampai dengan kebangkitan-Nya = 1 hari.
Jadi  selang waktu dari Yesus dikubur hingga bangkit menurut perhitungan Yahudi mula-mula adalah 3 hari.  Jadi ini menggenapi nubuat mengenai diri-Nya.

Dapatkah para saksi dipercaya?

Keempat Injil setuju bahwa kubur yang kosong pertama kali ditemukan oleh wanita-wanita yang merupakan pengikut Yesus. Apakah pengamatan para wanita ini dapat dipercaya?

Bila anda memahami peran wanita dalam masyarakat Yahudi abad pertama, maka anda akan mendapati bahwa laporan ini sangat luar biasa karena yang menemukan kubur kosong yang pertama kali adalah wanita.

Pada waktu itu wanita-wanita berada di tingkat yang sangat rendah dalam jenjang sosial Palestina abad pertama. Kesaksian wanita-wanita dianggap tidak berharga sehingga mereka bahkan tidak diizinkan untuk menjadi saksi-saksi hukum dalam sebuah persidangan Yahudi.

Berdasarkan ini, sangat luar biasa sekali bahwa saksi-saksi utama kubur yang kosong adalah para wanita yang merupakan pengikut-pengikut Yesus.
Andaikata saya membuat laporan legenda/karangan, maka yang akan saya tulis adalah bahwa para prialah yang pertama kali menemukan kubur itu.

Fakta bahwa para wanitalah yang pertama kali menyaksikan kubur yang kosong itu merupakan laporan yang masuk akal, suka atau tidak suka, mereka adalah para penemu kubur yang kosong itu. Ini menunjukkan bahwa para penulis Injil setia mencatat apa yang terjadi, bahkan jika itu memalukan. Ini lebih memperlihatkan kehistorisan Injil.

Khotbah Kubur yang Kosong

Apakah murid-murid mengkhotbahkan kubur yang kosong?

Kubur yang kosong dikhotbahkan Petrus dalam Kisah Para Rasul 2: 29-32 :
Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini.
Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya.
Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.
Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.

Khotbah ini mengkontraskan kuburan Daud, yang masih ada sampai saat itu, dengan nubuat di mana Daud mengatakan bahwa Kristus akan dibangkitkan, daging-Nya tidak akan mengalami kebinasan. Ini jelas menunjukkan bahwa kubur itu kosong.

Dalam Kisah Para Rasul 13:29-31, Paulus mengatakan
Dan setelah mereka menggenapi segala sesuatu yang ada tertulis tentang Dia, mereka menurunkan Dia dari kayu salib, lalu membaringkan-Nya di dalam kubur.
Tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati.
Dan selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang menjadi saksi-Nya bagi umat ini.
Jelas kubur yang kosong disebutkan di sini.


Bukti Bahwa Kubur Yang Kosong itu Historis

Yakinkan saya dengan empat atau lima alasan terbaik Anda bahwa kubur yang kosong adalah sebuah fakta historis?

1. Kubur yang kosong diterima dan diteruskan oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:3-7 adalah sumber informasi historis tentang Yesus yang sangat tua dan dapat dipercaya.

2. Lokasi kubur Yesus diketahui oleh orang-orang Kristen maupun orang-orang Yahudi. Jadi jika kubur itu tidak kosong, akan tidak mungkin bagi suatu gerakan yang didasarkan pada kepercayaan atas Kebangkitan untuk muncul dalam kota yang sama di mana manusia ini (Yesus) telah dihukum mati di depan umum dan dikuburkan.

3. Kita dapat mengetahui dari bahasa, tata bahasa, dan gaya bahasa yang digunakan Markus untuk menceritakan kisah kubur yang kosong, seluruh narasinya berasal dari sumber yang lebih awal. Ada bukti bahwa itu dituliskan sebelum tahun 37 M, yang sangat terlalu awal bagi legenda untuk mengubahnya.

4. Ada suatu kesederhanaan dalam kisah kubur yang kosong dalam Injil Markus. Laporan-laporan apokripal fiktif dari abad kedua berisi semua jenis narasi yang berbunga-bunga, di mana Yesus keluar dari kubur dengan penuh kemuliaan dan kekuasaan, dengan semua orang melihat Dia, termasuk para imam, pemimpin-pemimpin Yahudi, dan penjaga-penjaga Roma.
Kontras dengan itu, laporan-laporan Markus dalam kisah kubur yang kosong benar dalam kesederhanaannya tanpa diwarnai dengan cerita berbunga-bunga.

5. Keempat Injil sepakat bahwa kubur yang kosong ditemukan pertama kali oleh wanita-wanita yang menunjukkan keotentikan kisah ini, karena ini akan memalukan bagi para murid untuk diakui dan hampir pasti akan disembunyikan jika ini adalah suatu legenda.

Refleksi

Yesus telah bangkit dari kematian.
Yesus telah mengalahkan kuasa kematian.
Sejak kebangkitan Yesus, ada pengharapan bagi  manusia untuk menghadapi kematian.
Maukah anda menerima Yesus sebagai  Juruselamat dan Tuhan, dan anda akan mempunyai kepastian kebangkitan dan menerima hidup kekal bersama Tuhan Yesus.

Sumber :
Lee Strobel, Pembuktian Atas Kebenaran Kristus, Penerbit Gospel Press, PO BOX 238, Batam Center, 29432. F: 021-74709281

Sumber:http://www.pemudakristen.com/artikel/bukti_kubur_kosong.php

« Previous entries