Archive for Devotional

MENGHASILKAN BUAH SEBUAH KEHARUSAN

Sekitar Tahun 1993 seiring dengan melonjaknya produksi dan melemahnya harga jual cengkeng, maka pemerintah menawarkan program pengurangan produksi dengan menebang pohon cengkeh dengan pemberian kompensasi Rp. 4.000/pohon. Waktu itu didaerah kami ada begitu banyak yang mendaftarkan diri untuk menerima kompensasi tersebut termasuk orang tua saya. Waktu itu yang terlintas dibenak saya adalah kapan lagi dapat uang banyak dalam waktu yang singkat. Namun pemikiran orang tua dan kakak saya jauh berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Bukan uang yang menjadi alasan mengapa mereka rela menebang pohon-pohon cengkeh yang telah dirawat bertahun-tahun. Alasan mendasarnya adalah produktifitas cengkeh yang mereka tanam tidak sebanding dengan investasi yang dilakukan (merawat, memberi pupuk, membersihkan hama dan luas lahan yang terpakai). Apalagi jika dibanding dengan produktifitas tanaman kopi yang ada di kebun sebelah, sangat jauh berbeda.

Hal yang serupa juga tertulis di dalam firman Tuhan yakni ketika Tuhan Yesus pada waktu pagi-pagi dalam perjalanannya menuju ke kota dan Yesus merasa lapar dan berharap pohon ara yang sedang tumbuh subur itu menghasilkan buah yang dimakan-Nya. Yang terjadi justru sebaliknya, pohon ara yang tumbuh subur itu tidak menghasilkan apa-apa, sebagai akibatnya Yesus mengutuk pohon ara yang berdampak pada kematiannya (Matius 21:18-22).

Pohon ara ini kiranya menjadi refleksi bagi kita. Sebelum kita diselamatan oleh anugerah Allah oleh karya kematian Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib, hidup kita seumpama mata air yang mengalirkan air yang pahit (Kel. 15:22-27) yang tidak mempunyai makna dan tujuan sama sekali. Namun ketika Kristus menyelamatkan dan Roh Kudus melahirbarukan hidup kita, maka sumber kehidupan kita menjadi baik/manis. Ketika kita bertobat, status kita di hadapan Allah menjadi berubah yakni menjadi orang-orang benar. Namun tidak cukup hanya sampai disini saja, ada langkah selanjutnya yang sama pentingnya yakni mengasilkan buah pertobatan. Buah pertobatan menunjuk kepada sesuatu yang harus nampak dari luar, harus nampak dari kehidupan seseorang yang telah mengalami pertobatan. Tuhan menghendaki supaya kita menghasilkan buah pertobatan, yaitu buah yang benar-benar menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang telah menerima keselamatan.

Buah pertobatan ini tidak dapat dihasilkan dengan kekuatan dan hikmat manusia, akan tetapi merupakan hasil dari konektifitas dan ketaatan yang sempurna dengan sumber kehidupan yakni Tuhan Yesus Kristus. Bagian firman Tuhan yang akan menolong kita memahami pentingnya menghasilkan buah pertobatan salah satunya dalam Yohanes 15:1-17.

Dalam Yohanes 15:1-17 disebutkan bahwa Kristus adalah sebagai pokok anggurnya, Bapa sebagai pengusahanya dan setiap orang percaya menjadi ranting-rantingnya. Tugas Bapa adalah merawat dan mengusahakan bagaimana Pohon Anggur itu dapat menghasilkan buah sesuai dengan harapan-Nya. Kristus mengalirkan segala sesuatu yang telah Bapa kerjakan terhadap-Nya. Dan setiap carang – orang percaya – bertanggung jawab merespon setiap aliran kehidupan yang telah Kristus berikan dengan cara menghasilkan buah sebanyak-banyaknya. Buah yang dimaksudkan bukan hanya buah jiwa-jiwa, akan tetapi juga berupa jawaban doa, sukacita dan kasih (15:7, 11, 12) dan di dalam 2 Petrus 1:5-8 ditambahkan lagi yakni dengan menghasilkan kualitas hidup Kristiani (kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara dan semua orang).

Bagi carang yang tidak menghasilkan buah Bapa mempunyai solusi sendiri yakni memotongnya. Pemotongan ini harus dilakukan selain karena merugikan – investasi lebih besar dari produksi — juga jatah nutrisi tersebut akan sangat berguna dan menjadi maksimal ketika diberikan kepada carang-carang yang produktif. Bandingkan dengan perumpamaan tentang talenta.

Untuk dapat menghasilkan buah yang lebat, maka hanya ada satu cara yakni semakin melekat ke dalam aliran kehidupan itu. Pastikan hidup anda terkoneksi secara sempurna dengan aliran kehidupan dan responi dengan baik setiap aliran kehidupan itu, maka hidup kita pasti menghasilkan buah yang memuliakan Bapa. Jangan lagi bermain-main dengan anugerah yang Allah telah berikan dalam hidup kita, tetapi pergunakanlah setiap anugerah-Nya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan rencana Allah atas hidup kita masing-masing. Karena jika tidak demikian kapak telah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak mengeluarkan buah yang baik PASTI di tebang dan dibuang ke dalam api (Mat. 3:10). Setiap berkat yang diberikan-Nya dengan berlimbah-limbah bukan menjadi sarana untuk memuaskan ego dan kedagingan kita tetapi justru untuk menolong kita supaya semkin lebat dalam menghasilkan buah bagi kemuliaan Allah.

Berani Bersaksi

“Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” (Yohanes 4:29)

Pada saat Abraham dipanggil Tuhan keluar dari tanah kelahirannya, Tuhan memberikan sebuah misi kepada Abraham, bagaimana ia harus menceritakan kepada bangsa lain tentang kasih dan anugerah Tuhan. Kasih Allah bukan hanya dinikmati oleh keluarga Abraham tetapi justru Allah memanggil dia untuk menjadi berkat bagi orang lain (Kej. 12:1-2). Suatu hal yang sangat menarik dalam bagian Firman Tuhan ini yaitu tentang seorang perempuan Samaria yang punya peranan besar dalam pengabaran Injil Kristus. Melalui perempuan Samaria ini banyak jiwa yang dimenangkan untuk Kristus. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kita akan melihat beberapa hal penting dalam diri perempuan Samaria ini, yaitu:

1. Menemukan sumber Air Hidup.
Sebuah pekerjaan rutinitas yang dilakukan perempuan Samaria ini adalah mengambil dan menimba air dalam sumur untuk keperluannya sehari-hari yang hanya bisa dinikmati sesaat. Akhirnya dia menemukan sumber air yang bersifat kekal yang memberikan hidup selama-lamanya yaitu Yesus Kristus (Yoh. 4:14, 26).

2. Keluar dari zona aman dan nyaman.
Kehidupan Kristen didasarkan pada dua soko-guru kembar, yaitu menemukan dan menuturkan. Tidak ada penemuan yang lengkap kecuali kalau disertai tindakan menuturkan penemuan itu kepada orang lain. Dan kita tidak bisa menuturkan Kristus kepada orang lain kalau kita sendiri belum menemukan Kristus bagi diri kita sendiri. Siapakah wanita ini? Wanita ini adalah seorang yang ditolak di tengah-tengah masyarakat karena kelakuan hidupnya. Tetapi ketika dia menemukan Kristus, hidupnya diubah dan ia tidak merasa malu atau sungkan untuk menceritakan kepada orang lain tentang apa yang dialaminya. la tidak takut untuk dicibir atau ditolak. Tapi keinginan untuk menuturkan penemuannya itu telah menghilangkan sama sekali rasa malu yang dimiliki wanita itu.

3. Bersaksi (Yoh. 4:29).
Orang-orang Samaria itu diperkenalkan kepada Kristus oleh wanita tersebut. Di sini kita melihat secara penuh tentang pentingnya diri kita bagi Allah. Paulus mengatakan: “Bagaimana mereka bisa mendengar kalau tidak ada yang memberitakan?” (Rm. 10:14). Untuk membawa orang-orang kepada Kristus adalah kehormatan kita yang istimewa, namun sekaligus adalah tanggung jawab kita yang berat. Pengenalan itu tidak dapat terjadi kecuali kalau ada orang yang melakukannya. Selanjutnya, pengenalan itu harus dilakukan berdasarkan kekuatan kesaksian pribadi: “Lihatlah, Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat!” Wanita itu memanggil orang-orang Samaria lainnya bukan untuk berteori, melainkan untuk menyaksikan kuasa yang hidup dan yang sanggup mengubah orang

Dan akhirnya kita melihat banyak orang yang percaya kepada Yesus (Yoh. 4:39). “Tangan kita adalah tangan Allah untuk mengerjakan pekerjaan-Nya hari ini; Kaki kita adalah kaki Allah untuk membawa orang berjalan di jalan-Nya; Suara kita adalah suara Allah untuk menceritakan kematian-Nya; Pertolongan kita adalah pertolongan Allah untuk menolong orang untuk mengikut Dia.(www.gkagloria.co.id)

Kerajaan Allah Penawar Hati yang Kuatir

        Sekilas tampaknya aneh bahwa di dalam Matius 6, Yesus mengembangkan khotbah-Nya melalui pengajaran tentang kemunafikan dan kemudian tentang kekuatiran. Jika tema dari ayat 1 hingga ayat 18 adalah “Jangan menjadi orang munafik,” maka tema dari bagian selanjutnya adalah, “Jangan kuatir. Tidak perlu merasa kuatir” (Mat. 6:25, 28, 31). Ketika di teliti lebih dalam, maka sebenarnya baik kemunafikan dan kekuatiran penyebabnya adalah sama.

Mengapa orang kuatir? Bagi sebagian orang, dengan alasan berikut ini pula mereka kemudia menjadi munafik: yaitu karena mereka lebih memusatkan perhatian kepada diri sendiri daripada kepada Allah. Bagi orang munafik, yang menjadi tujuan hidupnya adalah perhatian dan pengakuan dari orang lain; sedangkan bagi pengkhawatir, kepentingannya adalah pemenuhan akan kebutuhan pribadinya. Kesamaan kedua bagi si munafik dan pengkawatir adalah keduanya tak satupun benar-benar memahami anugerah Allah.

Secara sederhana dapat kita pahami suatu gradasi mengapa kita menjadi kuatir. 1. Karena mengumpulkan harta yang salah. Kekuatiran mulai menerpa hidup kita ketika fokus pencarian dan pemenuhan hidup kita bertumpu pada hal-hal yang lahiriah – pencapaian status sosial, ekonomi (Mat. 6:19). Menurut Yesus, ungkapan “harta” di sini menunjuk kepada hal-hal yang paling kita kasihi. Hanya surga yang dapat mempertahankannya terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh waktu dan dosa. 2. Berpikir tentang hidup secara salah. Ketika focus hidup kita sudah mulai kepada hal-hal lahiriah, maka itu akan berdampak pada cara pandang kita tentang tujuan dan arti hidup. Gambaran yang diberikan Yesus sungguh sangat jelas. Jika mata kita jahat, maka “gelaplah seluruh tubuh kita.” (Mat. 6:22-23) Jika mata kita tertuju kepada hal duniawi, maka hidup kita akan dikendalikan oleh hal-hal duniawi. 3. Mengabdi kepada tuan yang salah. Dampak dari poin pertama dan kedua adalah diduakannya kasih setia Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berfirman tidak mungkin kita dapat mengabdi kepada dua tuan. Mengapa demikian? Karena ketika kita menduakan kasih setia Tuhan dengan mammon (Mat. 6:24) akan membawa hidup kita masuk kedalam ketegangan dan kekuatiran.

Apakah solusi yang Tuhan Yesus Berikan? Ada empat resep utama yang Tuhan Yesus berikan sebagai penawar hati yang kuatir. Pertama, memandang hidup secara keseluruhan (Mat. 6:25-26). Kedua, Memandang hakekat kehidupan (Mat. 6:27). Hidup kita ada ditangan Bapa. Ia telah merencanakan semuanya. Ia mengetahui akhir dari segala sesuatu sejak awal keberadaan semuanya. Ketiga, mengingat kebaikan Tuhan (Mat. 6:28-32) “Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di padang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu…” Keempat, Carilah dahulu Kerajaan Allah (Mat. 6:33-34). Kekuatiran hidup hanya dapat diatasi dengan adanya keyakinan akan pemeliharaan Sang Raja. Kekuatiran hidup akan hilang ketika kita dengan sadar membawa hidup di bawah otoritas dan sistem-Nya (Kerajaan Allah). Dimana Dia, Jehovah-Jireh yang menjadi Raja dan kita sebagai umat kesayangan-Nya. Ketika kita mendedikasikan seluruh totalitas hidup kita di bawah otoritas kuasa-Nya dan menjalani hidup sesuai dengan sistem nilai kerajaan-Nya (kebenaran-Nya), maka pemeliharaan-Nya yang sempurna akan berlaku atas hidup kita.

Di tengah carut marutnya ekonomi bangsa, berfluktuasinya nilai tukar rupiah atas dollar, naiknya harga minyak dunia yang berdampak semakin sulitnya menggapai mimpi hidup bahagia. Ditengah ketidak pastian diberbagai segi kehidupan, baiklah kita kembali kepada Kerajaan Allah, dimana Tuhan Yesus Kristus b ertahta sebaga Raja Agungnya dan kita sebagai umat kesayangan-Nya. Sebagaimana Tuhan memelihara umat Israel di padang gurun hingga masuk tanah Kanaan tanpa kekurangan apapun juga, pemeliharaan Allah yang sama juga berlaku atas umat-Nya yang menjalani hidup sesuai dengan sesitem nilai Kerajaan-Nya. Selamat menjalani hidup di bawah pemerintahan Kristus dan menerapkan nilai-nilai kerajaan-Nya. Amin

Kemuliaan Anak Domba

Bacaan Alkitab: Wahyu 5:6-14
Salah satu usaha yang dilancarkan oleh musuh-musuh kekristenan untuk membasmi kekristenan pada abad permulaan adalah penganiayaan. Kesebelas rasul Tuhan Yesus ditangkap dan dibunuh. Hanya Rasul Yohanes yang selamat dari kematian, tetapi dibuang ke pulau Patmos. Dia meninggal dunia dalam usia yang sudah lanjut, lebih dari 90 tahun. Ketika berada di pulau Patmos, Allah memberikan banyak penglihatan kepada Rasul Yohanes, salah satu yang paling menakjubkan adalah tentang kemuliaan Anak Domba.
Penglihatan tentang kemuliaan Anak Domba itu diawali ketika Rasul Yohanes melihat Tuhan Allah duduk di atas takhta-Nya, dan di sebelah kanan-Nya adalah sebuah gulungan kitab yang telah dimeterai dengan 7 meterai. Lalu Rasul Yohanes melihat seorang malaikat yang gagah perkasa, berseru dengan suara nyaring, “Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan meterai-meterainya?”
Setelah ditunggu cukup lama, ternyata tidak ada jawaban, suasana yang hening, terasa amat mencekam pada waktu itu. Rupanya tidak ada seorang pun yang di sorga, di bumi, atau yang ada di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu. Karena itu, menangislah Rasul Yohanes dengan amat sedih, karena tak seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu. Namun kemudian, berkatalah seorang dari tua-tua itu kepada Rasul Yohanes, “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya” (ay. 5).
Maka Rasul Yohanes melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu, berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu. Ketika Anak Domba mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang kudus. Selanjutnya Rasul Yohanes menyaksikan tiga gelombang pujian dan pemujaan kepada Anak Domba.
Gelombang I: Keempat makhluk dan 24 tua-tua, berkata, “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa …” (ay. 9-10).
Siapakah keempat makhluk itu? Mereka adalah para Cherubim yang dengan setia melayani Tuhan di sekitar tahta-Nya. Masing-masing makhluk itu mempunyai enam sayap: dua sayap menutupi muka (melambangkan kerendahan hati); dua sayap menutupi kaki (melambangkan ketaatan), dua sayap untuk terbang (melambangkan siap melayani setiap saat). Di bagian luar dan dalam dipenuhi dengan mata, menyatakan mata rohani yang sangat jeli dan terang, yang dengan cepat dan tepat mengenal kehendak Allah dan melaksanakan-Nya. Jika dipahami secara harafiah, keempat mahkluk itu sangat aneh dan menakutkan. Mereka mirip“dewa bertangan seribu” dan “dewa bermata seribu” dalam agama Hindu. Tetapi sesungguhnya mereka bukan dewa, melainkan malaikat yang siap melayani Tuhan.
Gelombang II: Malaikat-malaikat yang jumlahnya berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa. Kata mereka, “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!”(ay. 12).
Gelombang III: Semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata, “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” (ay. 13). Ketiga gelombang pemujaan kepada Anak Domba itu dikonfirmasi oleh keempat makhluk di atas dengan perkataan “Amin.” Dan para tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah. Selanjutnya yang perlu kita pikirkan, mengapa Anak Domba itu mendapatkan pujian dan pemujaan yang begitu tinggi dari semua makhluk yang ada di sorga? Ada tiga penjelasan yang penting:

Pertama, Anak Domba itu telah keluar sebagai pemenang.
Dalam Wahyu 5:5 dikatakan, salah satu tua-tua itu berkata kepada Rasul Yohanes, “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu.” Ungkapan “singa dari Yehuda” dapat dilihat kembali dari Kejadian 49:9, di mana salah satu putra Yakub, yakni Yehuda, disebut sebagai anak singa. Tapi dalam ayat ini, Kristus yang merupakan keturunan dari Yehuda bukan lagi menjadi anak singa, tetapi singa yang perkasa.
Singa adalah raja dan penguasa hutan. Kekuatan dan auman singa menempatkannya sebagai penguasa hutan yang menggentarkan siapa pun. Ungkapan “singa” ini menggambarkan Kristus sebagai pemenang. Istilah “tunas Daud” menyatakan Kristus adalah keturunan Daud, Mesias yang dijanjikan.
Dengan demikian, kedua istilah di atas, yaitu “singa dari Yehuda” dan tunas Daud”, memiliki latar belakang Yahudi yang kental. Kedua sebutan yang menunjuk kepada Mesias telah datang, di mana Kristus secara gemilang telah melakukan tugas sebagai Mesias, sehingga Dia layak dipuji, dipuja dan dimuliakan.
Suatu waktu, Henry Standley bertemu dengan Pdt. David Livingstone, seorang misionari besar Inggris yang telah menghabiskan hidupnya selama 30 tahun di hutan Afrika, tapi dinyatakan hilang selama dua tahun. Setelah bertemu Livingstone, Henry Standley mengajaknya pulang ke Inggris bersamanya, tetapi Livingstone menolaknya. Dua hari kemudian, Livingstone menulis dalam buku hariannya: “19 Maret adalah hari ulang tahunku, Yesusku, Raja hidupku. Semua milikku, sekali lagi saya persembahkan seluruh hidupku kepada-Mu. Terimalah saya, dan kabulkan doa saya, oh Bapa yang murah hati, sehingga dalam satu hari ke depan saya boleh menyelesaikan semua tugas-tugas yang Engkau serahkan padaku. Dalam Yesus saya memohon, amin.”
Setahun kemudian, salah seorang pembantunya menemukan Livingstone mati dalam keadaan berlutut berdoa. Pada saat pemakaman, begitu banyak orang yang datang memberikan hormat yang begitu besar. Dalam salah satu bukunya dia menulis, “Begitu banyak orang berbicara tentang pengorbanan yang saya lakukan dengan menghabiskan begitu banyak waktu saya di Afrika. Dapatkah disebut sebagai suatu pengorbanan bila hanya membayar kembali sedikit dari begitu besar utang saya kepada Tuhan kita, yang tidak dapat kita bayar kembali? Apa yang saya lakukan bukan pengorbanan, tapi suatu hak istimewa – privilege.” Di tempat yang lain, dia juga menulis, “Saya tidak pernah melakukan pengorbanan. Kita tidak boleh membicarakan pengorbanan ketika kita teringat akan pengorbanan besar di mana Kristus telah meninggalkan takhta sorga untuk berkorban bagi kita, orang yang berdosa.”

Kedua, Anak Domba telah terlebih dahulu menderita.
Dalam puji-pujian gelombang I dan II dikatakan bahwa Anak Domba layak membuka gulungan kitab dan menerima segala kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian, karena Ia “telah disembelih”. Yesaya 53:7 mencatat: “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang yang mengunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”
Demikian pula dalam Markus 10:45 dikatakan, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan (lutron) bagi banyak orang.” Kata “layak” (worthy) dihubungkan dengan seseorang yang memenuhi persyaratan karena telah melaksanakan suatu tugas dengan sempurna. Jadi, alasan mengapa Anak Domba itu begitu dimuliakan adalah karena Anak Domba itu terlebih dahulu mau berkorban, yakni membiarkan diri disembelih. Tanpa ada penderitaan, tidak ada kemuliaan.
Pada waktu Perang Dunia II, terjadi pembantaian terhadap orang-orang Yahudi yang begitu mengerikan di Lithuania. Ada seorang Konsul Kristen Jepang bernama Sugihara, yang dengan menempuh risiko kemungkinan dipecat oleh pemerintah Jepang, menerbitkan 300 visa setiap hari untuk menolong orang-orang Yahudi lari ke Eropa, kemudian ke Cina, dan akhirnya ke Amerika. Perbuatan Sugihara ini akhirnya diketahui oleh pemerintah Jepang. Maka pada tahun 1945, tanpa suatu upacara yang layak, dia dipecat. Karirnya di bidang diplomatik berhenti. Dari seorang diplomat yang mempunyai masa depan yang begitu cemerlang, akhirnya hanya menjadi penerjemah. Selanjutnya selama 20 tahun ke depan, dia bekerja sebagai manajer suatu perusahaan ekspor yang mempunyai basis di Moskow.
Inilah nasib seorang yang demi menyelamatkan ribuan manusia dari pembantaian, dia sendiri menderita kerugian kehilangan pekerjaan. Sugihara meninggal pada tahun 1986, tidak dikenal dan dihargai siapa pun sampai kepahlawanannya diketahui pada tahun-tahun berikutnya. Ketika ditanya mengapa dia mau melakukan pengorbanan ini, maka jawabannya – yang kemudian menjadi terkenal – adalah, “Dalam hal ini, saya terpaksa harus tidak taat kepada pemerintah saya, sebab jika saya melakukan sebaliknya, itu berarti saya tidak taat kepada Allah.”
Telah banyak usul dilontarkan agar kehidupan dan pengorbanan Sugihara ini diangkat ke layar lebar (film). Saya percaya bahwa di tahun-tahun mendatang pengorbanan Sugihara akan mendapatkan penghormatan yang besar di mata manusia. Tapi kalau tidak sekali pun, Sugihara telah mendapatkan penghargaan yang amat tinggi dari Allah. C. T. Studd berkata, “Tidak ada pengorbanan yang terlalu besar yang kita perbuat untuk Dia yang menyerahkan hidup-Nya untuk kita.”

Ketiga, Anak Domba itu telah dipulihkan.
Dalam Wahyu 5:6, dikatakan bahwa Anak Domba yang seperti telah disembelih itu, bertanduk tujuh dan bermata tujuh. Dalam ayat-ayat firman Tuhan yang dipakai dalam PB, kata “domba” yang dipakai untuk Kristus adalah Amnos. Amnos adalah anak domba yang kelu yang dibawa ke tempat pembantaian dan dipersembahkan sebagai korban. Ini seperti yang digambarkan dalam Yesaya 53:7, “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”
Tetapi dalam Wahyu 5:6, Anak Domba ini mempunyai tanduk tujuh dan mata tujuh. Maka istilah domba yang dipakai di sini bukan lagi Amnos, tapi Arnion. Walau Domba itu masih mempunyai bekas disembelih, tapi sekarang Dia mempunyai tanduk dan mata tujuh. Kata “tujuh” menunjukkan kesempurnaan. Tanduk tujuh berarti Kristus mempunyai kekuatan yang sempurna. Mata menunjukkan kemahatahuan Kristus. Dengan demikian, itu berarti Kristus memiliki keperkasaan dan pengetahuan yang lengkap tentang apa pun yang ada di sorga dan di dunia. Dia adalah Anak Allah yang sudah dipulihkan.
Dari penyembahan keempat makhluk, kedua puluh empat tua-tua, dan seluruh makhluk yang ada di sorga yang begitu memuji dan memuja Anak Domba, maka seharusnya dalam beribadah di gereja, kita pun perlu memiliki ekspresi yang sama. Tidak cukup dalam hidup kita hanya tergesa-gesa membaca Alkitab, berdoa, setelah itu terlibat lagi dengan aktivitas-aktivitas sehari-hari. Kita perlu menyediakan waktu yang cukup, apakah itu kita ada dalam ibadah pribadi atau ibadah keluarga atau ibadah bersama dalam gereja, untuk memuji dan memuja Tuhan Yesus. Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, kekayaan, hikmat, kekuatan, hormat, kemuliaan, dan puji-pujian dari kita semua. Amin. • (www.gkagloria.or.id)

Aku ingin Bahagia

Pagi itu ketika aku sedang membaca Firman Tuhan. Aku bertanya pada TUHAN, “Tuhan Yesus Kristus, sebentar lagi saya harus memimpin diskusi di kelas Pelatihan Murid Kristus. Saya ingin menanamkan benih Injil dihati orang-orang yang aku layani. Pertanyaan apakah yang tepat untuk aku tanyakan kepada peserta sehingga langsung mengena pada sasaran”. Tidak lama berselang, TUHAN memberikan hikmat pada saya melalui sebuah pertanyaan: “Mengapa Semua Orang Menginginkan Hidupnya Bahagia?”

Iya…. mengapa semua orang menginginkan hidup bahagia. Tidak jarang dari mereka agar tercapai segala “keinginan bahagianya” sampai-sampai mengorbankan diri dan orang lain. Ada yang rela menjadi pelacur, pencuri, pembunuh bahkan menjadi koruptor uang rakyat. Pasangan suami-istri yang telah menikah begitu lama tiba-tiba bercerai dengan alasan tidak bahagia. Pertanyaanya adalah apakah setelah tercapai semua yang diinginkan, mereka dapat hidup bahagia? Aku pikir tidak. Karena apabila sesuatu itu diperoleh dengan cara yang tidak benar, maka orang tersebut harus berusaha keras mempertahanakan kan apa yang telah ia dapat dengan cara yang tidak bernar pula. Menyakitkan.

Sebenarnya sejak kapan sih manusia kehilangan kebahagiaannya sehingga ia harus berjuang keras untuk mendapatkannya? Menurutku, orang di duinia ini yang paling bahagia itu 1. Adam 2. Hawa 3. Maria

Adam dan Hawa mendapat hak khusus menjadi manusia pertama yang diciptakan TUHAN dan ditempatkan di Taman Eden dengan segala fasilitas + dia diberi kuasa mutlak untuk menguasi semua yang telah Ia ciptakan. Adam dan Hawa mendapat otoritas penuh dari TUHAN atas semua karya ciptaan-Nya. Dan menurutku, inilah yang namanya The Real Happines.

Tapi sayang…. Adam dan Hawa tidak memahami akan hal itu. Dia maunya lebih, lebih dan lebih lagi. Kurang ajar memang dia. Dia terprofokasi oleh bujukan setan, akhirnya ia memberontak pada TUHAN yang telah memilih dan mempercayainya.

Dampak ketidak taatannya itu, ia diusir dari Taman Eden dan sejak saat itu semua otoritas dan kepercayaan TUHAN dicabut atasnya dan semua keturunannya. Kasihankan kita? Dan semenjak TUHAN mencabut kepercayaan dan otoritas-Nya atas Adam dan Hawa, maka The Real Happiness itupun hilang. Adam dan Hawa beserta seluruh keturunannya — termasuk kita harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya.

Pertanyaannya adalah bagaimana caranya supaya kebahagiaan itu dapat kembali menjadi milik kita?