Sekitar Tahun 1993 seiring dengan melonjaknya produksi dan melemahnya harga jual cengkeng, maka pemerintah menawarkan program pengurangan produksi dengan menebang pohon cengkeh dengan pemberian kompensasi Rp. 4.000/pohon. Waktu itu didaerah kami ada begitu banyak yang mendaftarkan diri untuk menerima kompensasi tersebut termasuk orang tua saya. Waktu itu yang terlintas dibenak saya adalah kapan lagi dapat uang banyak dalam waktu yang singkat. Namun pemikiran orang tua dan kakak saya jauh berbeda dengan apa yang saya pikirkan. Bukan uang yang menjadi alasan mengapa mereka rela menebang pohon-pohon cengkeh yang telah dirawat bertahun-tahun. Alasan mendasarnya adalah produktifitas cengkeh yang mereka tanam tidak sebanding dengan investasi yang dilakukan (merawat, memberi pupuk, membersihkan hama dan luas lahan yang terpakai). Apalagi jika dibanding dengan produktifitas tanaman kopi yang ada di kebun sebelah, sangat jauh berbeda.
Hal yang serupa juga tertulis di dalam firman Tuhan yakni ketika Tuhan Yesus pada waktu pagi-pagi dalam perjalanannya menuju ke kota dan Yesus merasa lapar dan berharap pohon ara yang sedang tumbuh subur itu menghasilkan buah yang dimakan-Nya. Yang terjadi justru sebaliknya, pohon ara yang tumbuh subur itu tidak menghasilkan apa-apa, sebagai akibatnya Yesus mengutuk pohon ara yang berdampak pada kematiannya (Matius 21:18-22).
Pohon ara ini kiranya menjadi refleksi bagi kita. Sebelum kita diselamatan oleh anugerah Allah oleh karya kematian Tuhan Yesus Kristus di atas kayu salib, hidup kita seumpama mata air yang mengalirkan air yang pahit (Kel. 15:22-27) yang tidak mempunyai makna dan tujuan sama sekali. Namun ketika Kristus menyelamatkan dan Roh Kudus melahirbarukan hidup kita, maka sumber kehidupan kita menjadi baik/manis. Ketika kita bertobat, status kita di hadapan Allah menjadi berubah yakni menjadi orang-orang benar. Namun tidak cukup hanya sampai disini saja, ada langkah selanjutnya yang sama pentingnya yakni mengasilkan buah pertobatan. Buah pertobatan menunjuk kepada sesuatu yang harus nampak dari luar, harus nampak dari kehidupan seseorang yang telah mengalami pertobatan. Tuhan menghendaki supaya kita menghasilkan buah pertobatan, yaitu buah yang benar-benar menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang telah menerima keselamatan.
Buah pertobatan ini tidak dapat dihasilkan dengan kekuatan dan hikmat manusia, akan tetapi merupakan hasil dari konektifitas dan ketaatan yang sempurna dengan sumber kehidupan yakni Tuhan Yesus Kristus. Bagian firman Tuhan yang akan menolong kita memahami pentingnya menghasilkan buah pertobatan salah satunya dalam Yohanes 15:1-17.
Dalam Yohanes 15:1-17 disebutkan bahwa Kristus adalah sebagai pokok anggurnya, Bapa sebagai pengusahanya dan setiap orang percaya menjadi ranting-rantingnya. Tugas Bapa adalah merawat dan mengusahakan bagaimana Pohon Anggur itu dapat menghasilkan buah sesuai dengan harapan-Nya. Kristus mengalirkan segala sesuatu yang telah Bapa kerjakan terhadap-Nya. Dan setiap carang – orang percaya – bertanggung jawab merespon setiap aliran kehidupan yang telah Kristus berikan dengan cara menghasilkan buah sebanyak-banyaknya. Buah yang dimaksudkan bukan hanya buah jiwa-jiwa, akan tetapi juga berupa jawaban doa, sukacita dan kasih (15:7, 11, 12) dan di dalam 2 Petrus 1:5-8 ditambahkan lagi yakni dengan menghasilkan kualitas hidup Kristiani (kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara dan semua orang).
Bagi carang yang tidak menghasilkan buah Bapa mempunyai solusi sendiri yakni memotongnya. Pemotongan ini harus dilakukan selain karena merugikan – investasi lebih besar dari produksi — juga jatah nutrisi tersebut akan sangat berguna dan menjadi maksimal ketika diberikan kepada carang-carang yang produktif. Bandingkan dengan perumpamaan tentang talenta.
Untuk dapat menghasilkan buah yang lebat, maka hanya ada satu cara yakni semakin melekat ke dalam aliran kehidupan itu. Pastikan hidup anda terkoneksi secara sempurna dengan aliran kehidupan dan responi dengan baik setiap aliran kehidupan itu, maka hidup kita pasti menghasilkan buah yang memuliakan Bapa. Jangan lagi bermain-main dengan anugerah yang Allah telah berikan dalam hidup kita, tetapi pergunakanlah setiap anugerah-Nya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan rencana Allah atas hidup kita masing-masing. Karena jika tidak demikian kapak telah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak mengeluarkan buah yang baik PASTI di tebang dan dibuang ke dalam api (Mat. 3:10). Setiap berkat yang diberikan-Nya dengan berlimbah-limbah bukan menjadi sarana untuk memuaskan ego dan kedagingan kita tetapi justru untuk menolong kita supaya semkin lebat dalam menghasilkan buah bagi kemuliaan Allah.



