Archive for May 16, 2008

Pelajaran Sang Kodok

Sekelompok kodok sedang berjalan jalan melintasi hutan, dan dua di antara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. Semua kodok kodok yang lain mengelilingi lubang tersebut. Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berkata pada kedua kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati. Kedua kodok tersebut mengacuhkan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok yang lainnya tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.

Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah. Dia terjatuh dan mati. Sedang kodok yang satunya tetap melanjutkan untuk melompat sedapat mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok-kodok tsb berteriak padanya agar berhenti berusaha dan mati saja. Dia bahkan berusaha lebih kencang dan akhirnya berhasil.

Ketika dia sampai diatas, ada kodok yang bertanya, “Apa kau tidak mendengar teriakan kami?”. Lalu kodok itu (dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahwa ia tuli. Akhirnya mereka sadar bahwa saat di bawah tadi mereka dianggap telah memberikan semangat kepada kodok tersebut.

Renungan :

Kekuatan hidup dan mati ada di lidah. Kekuatan kata-kata yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” justru dapat membuat orang tersebut bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari.

Kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” dapat membunuh mereka. Hati hatilah dengan apa yang akan diucapkan. Suarakan `kata-kata kehidupan’ kepada mereka yang sedang menjauh
dari jalur hidupnya. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa `kata-kata kehidupan’ itu dapat membuat kita berpikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan.

Semua orang dapat mengeluarkan `kata-kata kehidupan’ untuk membuat rekan dan teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit dari keputus-asaanya, kejatuhannya, ataupun
kemalangannya.

Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk memberikan spirit bagi siapapun…. (khususnya yang sedang putus asa dan jatuh)

Burung Gagak

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.

Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda itu?” “Burung gagak”, jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “BURUNG GAGAK!!” Si ayah terdiam seketika.

Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, “Gagak lah ayah…….” .

Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya soal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

“Ayah!!! saya tak tahu ayah paham atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang ayah mau saya katakan???? “Itu burung gagak, burung gagak ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu ditangannya.

Dia menghulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan tertanya-tanya. diperlihatkannya sebuah Diary lama. “Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam Diary itu”, pinta si ayah. Si anak setujudan membaca paragraf yang berikut….. …..

“Hari ini aku di halaman menemani anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apa itu?”. Dan aku menjawab, “burung gagak”. Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama.

Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta dan sayangnya aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga.”

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, “Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang sabar serta marah.”

“Jagalah Hati Kedua Orang Tuamu, Hormatilah Mereka. Sayangilah Mereka Sebagaimana Mereka Menyayangimu Diwaktu Kecil”

Telaga Cermin

Suatu ketika di sebuah sabana, berkumpullah kelompok harimau. Di kelompok itu, juga tinggal beberapa harimau muda yang baru mulai belajar berburu. Ada seekor harimau muda yang terlihat menjauh dari kelompok itu. Dia ingin mencari tantangan.

Kaki-kaki mudanya melintasi rumput-rumput yang belum terjamah. Matanya terlihat waspada mengawasi sekitarnya. Tanpa disadari, kakinya menuju sebuah telaga yang menjorok ke dalam. Airnya begitu bening, memantulkan apa saja yang terlihat di atasnya. Sang harimau muda terkejut, ketika dilihatnya ada seekor harimau lain di sana. “Hei…ada harimau lain yang tinggal di dalam air.”

Kucing besar itu masih tertegun ketika melihat harimau di telaga itu selalu mengikuti setiap gerak-geriknya. Ketika dia mundur menjauh, harimau dalam telaga itu pun ikut menghilang. Sesaat kemudian, harimau itu menyembulkan kepalanya, oh, ternyata harimau telaga itu masih ada. Dipasangnya senyum persahabatan, dan ada balasan senyum
dari arah telaga. “Akan kuberitahu yang lain. Ada seekor harimau baik hati yang tinggal di tempat ini.”

Kabar tentang harimau dalam telaga itu pun segera diberitahukannya. Ada seekor harimau lain yang tertarik, dan ingin membuktikan cerita itu. Setelah beberapa saat, sampailah dia di telaga itu. Dengan berhati-hati, hewan belang itu memperhatikan sekeliling. Ups..kakinya hampir terperosok ke dalam telaga. Dia terlihat mengaum, seraya menyembulkan kepalanya ke arah lubang telaga. “Hei…ada harimau yang sedang marah di dalam sana,” begitu pikirnya dalam hati. Harimau itu kembali menyeringai, memamerkan seluruh taring miliknya. Dia menunjukkan muka marah. Ohho, ternyata harimau dalam telaga pun tak kalah, dan melakukan tindakan serupa.

“Ah, temanku tadi pasti berbohong.” Tak ada harimau baik dalam telaga itu. Aku hampir saja dimakannya. Lihat, wajahnya saja terlihat marah, dan selalu menggeram. Aku tak mau berteman dengan harimau dalam telaga itu.” Harimau yang masih marah itu segera bergegas pergi. Rupanya ia tidak menyadari bahwa harimau dalam telaga itu, sesungguhnya adalah pantulan dari dirinya.

***
Pandangan orang lain, sama halnya dengan cermin dan telaga, adalah pantulan dari sikap kita terhadap mereka. Dugaan dan sangkaan yang kerap muncul, bisa jadi adalah refleksi dari perlakuan kita terhadap mereka. Baik dan buruknya suatu tanggapan, tak lain merupakan balasan dari diri kita sendiri. Layaknya cermin dan air telaga, semuanya akan memantulkan bayangan yang serupa. Tak kurang dan tak lebih.
Agaknya kita perlu mencari sebuah cermin besar untuk berkaca. Menatap seluruh wajah kita, dan mengatakan kepada orang di dalam cermin itu. Tataplah dalam-dalam, seakan ingin menyelami seluruh wajah itu dan berkata, “Sudahkah saya menemukan wajah yang bersahabat di dalam sana?” Teman, cobalah menatap wajah kita dalam-
dalam, dan cobalah jujur menjawabnya, “Sudahkah kita temukan wajah yang bersahabat di dalamnya?”

Seribu teman masih kurang… satu musuh terlalu banyak ….Lets Make Love not War !Lets Make Friends not Enemies !

Terapi Air Putih untuk Menjaga Kecantikan

Foto : Arie Yudhistira/ Sindo

TERNYATA ketergantungan kita terhadap air tak sekadar pengusir rasa haus saja. Air dalam dunia kecantikan rupanya juga memiliki kontribusi yang begitu besar dalam menjaga pesona seorang wanita.

Mengenai hal itu, artis cantik Raslina Rasidin telah membuktikannya. Ditemui dalam acara beauty class yang diadakan oleh OLAY Total Effects, wanita asal Aceh itu memaparkan khasiat air dalam kehidupannya.

“Minum air putih untuk kecantikan sangat terasa sekali efeknya bagi saya. Apalagi saat kita tidak menggunakan make up, penampilan saya tetap terjaga. Karena itu, saya tidak berusaha mengubah penampilan, tapi saya selalu mencoba menjaga kecantikan. Salah satu caranya dengan banyak mengonsumsi air putih,” kata Lina saat ditemui okezone di Crystal Lagoon, Senayan City, Selasa (13/5/2008).

Begitu bermanfaatnya air bagi Lina, wanita yang baru melahirkan anak kedua pada tiga bulan lalu itu selalu minum air putih dengan takaran yang sudah ditargetkan.

“Karena air begitu berartinya untuk saya, maka setiap hari saya bisa menghitung jumlah air putih yang saya minum. Dalam satu hari, saya bisa minum lima liter air. Terutama kalau mau tidur, insting saya bisa meraba botol air minum karena setiap satu jam saya bisa haus,” beber pemeran sinetron Demi Masa dan Anakku Bukan Anakku itu.

Bahkan, bila dalam kondisi tengah berada di suatu acara pun, wanita yang masih terlihat cantik di usia 35 tahun ini mengaku tetap mengonsumsi banyak air putih.

Kondisi Lina yang tengah memberi ASI eksklusif pun rupanya tak menghentikan kebiasaannya meminum air. Bahkan, saat Lina terbangun untuk menyusui bayinya, dia selalu minum air putih terlebih dahulu.

“Bukan hanya sugesti, setiap saya akan menyusui bayi pasti akan minum air putih terlebih dahulu. Saya meyakini dengan minum air putih yang banyak akan memberi asupan ASI yang banyak,” bebernya seraya menyatakan bukti keberhasilannya mengonsumsi air putih ternyata dapat menurunkan berat badan sebanyak 12 kg dalam waktu tiga bulan.

Meski banyak minum air, namun tubuh manusia mempunyai mekanisme dalam mempertahankan keseimbangan asupan air yang masuk dan yang dikeluarkan. Sehingga Lina tak mengalami problema meski banyak minum air putih.

“Awalnya saat banyak minum air putih sering membuat saya buang air kecil (BAK). Tapi lama kelamaan tubuh sudah bisa mengikuti ritmenya yang teratur karena sudah tahu intensitasnya yang cukup baik. Selain itu, tubuh juga punya kantung kemih yang bisa menampung,” tukasnya. (nsa)

Menilai Perilaku Pria Terhadap Pasangan

Foto : Corbis

ADA anggapan bahwa pria bisa dinilai dari cara mereka memperlakukan pasangannya berdasarkan minat dan tempat di mana mereka biasa menghabiskan waktu.

Misalnya tipe pria yang memiliki minat di bidang olahraga, biasanya menyukai pasangan yang sama-sama menaruh minat pada gaya hidup yang sama. Pria dengan tipe ini biasanya sering menghadiahi pasangannya dengan benda-benda berharga mahal, atau makan di tempat ekslusif yang baru saja dibuka.

Menurut hal itu, psikolog Kasandra A Putranto, memiliki cara pandang berbeda. Minat, menurutnya, tidak dapat dijadikan patokan dia akan memperlakukan orang lain. Minat seseorang, baik pria maupun wanita, biasanya dapat dilihat dari kepribadiannya masing-masing. Dan perkembangan kepribadian dapat dilihat berdasarkan faktor hereditas.

“Untuk bisa menilai perilaku seseorang, kita tidak bisa melihat suatu masalah berdasarkan beberapa tanda saja. Kalau seorang psikolog, biasanya memang bisa meminta seseorang menggambar atau menulis untuk melihat karakternya. Tapi kalau dalam kehidupan sehari-hari, hal itu sulit untuk diterapkan,” kata Kasandra yang dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Kamis (8/5/2008).

Faktor psikologi, lanjutnya, bisa berubah seiring dengan perkembangan seseorang. Apalagi seorang pria yang selalu akan berubah mengikuti dinamika kepribadian mereka.

“Penentu dari kematangan psikologi seseorang bukan ditentukan oleh faktor usia. Karena usia kronologis dan emosional itu tidak sama. Artinya, kedewasaan seseorang bukan berdasarkan usia kronologisnya saja,” beber almamater Universitas Indonesia ini.

Mengenai minat, masih menurut Kasandra, adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Minat bisa merupakan dorongan dari naluri yang fitri terdapat manusia, namun bisa pula dorongan dari pemikiran yang disertai perasaan kemudian mewujudkannya menjadi hal yang disukai. Minat yang hanya muncul dari dorongan perasaan tanpa pemikiran mudah berubah sesuai dengan perubahan perasaannya.

Perasaan yang tidak dikendalikan oleh dorongan pemikiran, mudah dipengaruhi dan berubah sesuai dengan perubahan lingkungan, fakta yang dihadapinya dan lain-lain. Dalam kondisi ini, minat seseorang bisa sangat lemah dan tidak stabil sesuai dengan perubahan lingkungan. (nsa)

« Previous entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.