Membangun Integritas Seksual Generasi Muda

Bahana

Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
(Mazmur 119:9)

Realitas SeKs Bebas AnaK Muda

Masalah seks di kalangan pelajar dan mahasiswa memang bukan hal baru. Setidaknya sejak 1984, kelompok studi Dasakung memperkenalkan istilah mahasiswa kumpul kebo. Kehebohan berikutnya saat Iip Wijayanto menyebutkan bahwa 97,05% mahasiswi di Yogyakarta ternyata sudah tidak perawan. Karuan saja temuan inimelahirkan silang-sengketa terutama pada metode yang digunakan. Berbagai pihak menuduh Iip sedang mencari sensasi.

Survei yang dilakukan selama 3 tahun (1999-2002) itu mungkin ada benarnya bila disimak dari metode snowball sampling yang digunakan Iip. Ketika sampel awal yang dipilih adalah orang bermasalah, jelas akan menggelinding di lingkungan yang cenderung bermasalah pula. Penelitian terakhir yang dilakukan Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada 2004 menemukan fakta bahwa 12% – 25% remaja dan mahasiswa di Yogyakarta mengaku sudah pernah melakukan hubungan intim. “Saya yakin trendnya naik,” kata Maesur Zaky, Koordinator Pusat Studi Seksualitas PKBI.Bila Yogyakarta yang berpredikat sebagai kota pelajar sudah demikian, bagaimana dengan kota lain? Sesungguhnya tak jauh berbeda. Berbagai survei yang diadakan di 12 kota besar di Indonesia menunjukkan 5,5-11% orang muda telah melakukan hubungan seksual sebelum usia 19 tahun (Dwipekan UK Petra, 22 Juni-12 Juli 2004).

Hasil wawancara DetEksi atas lebih dari 1.000 responden SMA dan mahasiswa di Jakarta, 10,4% mengaku pernah berhubungan seks pranikah. Sedangkan di Surabaya, 12,4% dari 500 responden juga telah berhubungan seks (Jawa Pos, 25 Mei 2003).Dari konseling dan polling LSM Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) atas 1000-an klien selama tahun 2000-2002, terungkap bahwa 44,8% mahasiswa PTN dan PTS serta remaja di Bandung telah melakukan hubungan seks. Sebagian besar dilakukan di tempat kost (51,5%).
Apa yang membuat mereka terjebak dalam budaya seks bebas, bahkan di tempat kost?

Fenomena Cinta Terlarang Anak Pelayanan

Bagaimana dengan kebebasan pergaulan orang muda Kristen, khususnya dalam hal seks pranikah? Dari hasil survai Bahana terungkap 19,9% mahasiswa Kristen telah melakukan hubungan seks ketika pacaran. Tentang lokasi, 51,5% melakukannya di rumah kos. Bila dilihat dari kisah Rudi, Tom & Maya di Jogja, Ica di Surabaya, dan Rini & Bagas di Salatiga, pelaku seks pranikah justru mereka yang tahu kebenaran, aktivis pelayanan. Bagaimana mungkin orang pelayanan bisa terperosok dalam cinta terlarang? Orang muda memang memiliki karakteristik yang rentan terhadap godaan. Mereka sangat mudah dipengaruhi oleh teman-temannya. Bermula dari rasa ingin tahu dan coba-coba, akhirnya kompromi.

Mereka pun terjerumus dan terjebak dalam seks bebas. “Pada dasarnya mereka mencari dan mencoba sesuatu. Mereka jauh dari orangtua yang sebelumnya dengan nilai-nilai yang dipush, tapi belum begitu tertanam di hati,” kata Franky Sihombing. Kejatuhan aktivis pelayanan dalam seks bebas menurut Pinkan Margaretha Indira, S.Psi, karena kedekatan yang terjadi antara teman pelayanan hanya bersifat fungsional sehingga tidak cukup menjaga seseorang lolos dari godaan seksual.

Tren dan Citra

Susan Rogi, S.Psi, menengarai terjadi perubahan perilaku secara signifikan dalam diri kawula muda, termasuk anak pelayanan. Semakin banyak mengerti atau punya pengalaman seks bebas, mereka semakin merasa dirinya ‘modern’ atau ‘gaul’. Hal ini didukung dengan adanya rumah kost campur, pria dan wanita. Kost campur memang bukan hal baru di kota metropolitan seperti Surabaya, misalnya. Dekat sebuah PTS Kristen, di kawasan Siwalankerto Timur ada tiga rumah kost yang rawan dan sering kecolongan ‘pergaulan bebas’. Banyak yang memberi gelar kos-kosan ini dengan ‘Rumah Pink’, ‘Rumah Hantu’, dan ‘Green House’.

Tempat kost semacam ini bisa dijuluki sebagai kost-kostan aji mumpung, mengapa? Mumpung di sini hanya dijaga pembantu yang bisa disogok, jadi kita bisa melakukan apa saja yang diinginkan, ujar salah satu penghuninya. Dia menambahkan di tempat itu mereka lebih bebas mengekpresikan nafsu mudanya bersama teman cewek satu kost. Oh, my God!

“Mereka semakin enjoy dengan pergaulan seks bebas dan kompromi dengan dosa, walaupun hanya French kiss atau petting,” ujar Susan. Ia menambahkan bahwa mahasiswa melakukan seks di kost (awas, jangan ditiru) karena beberapa faktor yang menguntungkan. Dari penelitiannya di Yogyakarta dan Jakarta selama April – November 1997, sebagian besar teman-teman kost mendukung perilaku bebas tersebut. “Ada penjaga kost yang mengizinkan bahkan mengambil keuntungan dari perilaku seks tersebut. Contohnya dengan menarik iuran ke penghuni kost apabila ada teman lawan jenis yang nginap,” ungkapnya.

Dari segi biaya dan citra, kata Susan, seks bebas di kamar kost tidak membutuhkan biaya. “Perilaku seks bebas di kamar kost juga meminimalkan image orang lain terhadap sebutan ‘cewek nakal’ atau ‘cowok nakal’ bila mereka melakukannya di hotel atau tempat umum,” katanya. Namun, gaul dan kompromi merupakan dua hal yang sangat berbeda. “Kita bisa gaul tanpa harus kompromi. Itu dua arti kata yang berbeda. Gaul bukan berarti kompromi. Itu masalah identitas siapa kita. Bukan kata orang, tapi apa kata firman Tuhan,” tandas Franky Sihombing.

Dampak Seks PraniKah

Seks pranikah memiliki konsekuensi serius dalam berbagai kehidupan seseorang. “Dampak psikologis seks pranikah pelaku akan merasa diri kotor, dan kemudian akan berdampak pada hal lain (dosa memperanakkan dosa), seperti berbohong, menjauh dari pergaulan positif. Dampaknya seperti lingkaran setan yang tidak ada ujung-nya,” jelas Susan.Seks pranikah, kata Dr. Andik, jelas berpotensi tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV-AIDS, dan tentu saja kehamilan di luar nikah. Secara spiritual, seks pranikah membuat orang kehilangan sensitivitas dengan Tuhan. “Keintiman dengan Tuhan pasti hilang. Karena ada rasa bersalah, nggak layak, kotor,” tegas Franky yang pernah mengalami hal serupa.

Krisis Kasih?

Apa penyebab seks bebas? Apakah karena krisis kasih atau disfungsi keluarga? “Memang di satu sisi ada krisis kasih. Tapi saya pikir semua orang punya dorongan ke arah sana (melakukan hubungan seks). Itu manusiawi. Kita masih manusia daging yang masih diproses Tuhan. Kalau di rumah nggak ada nilai yang ditanamkan, kecenderungan itu nggak ada remnya,” tutur Franky.

Rem memang diperlukan, tetapi yang menentukan adalah si pengemudi. Menurut Susan, tidak ada korelasi langsung antara disfungsi keluarga dan keluarga yang harmonis dengan seks bebas. “Karena perilaku itu hubungan-nya erat sekali dengan self control. Kuncinya ada dalam diri sendiri. Setiap pribadi harus berani mengambil keputusan untuk berkata TIDAK dan menjauhkan dari segala sesuatu yang berbau seks bebas,” tandas Susan. Kendati menjaga kekudusan seksual merupakan tanggung jawab pribadi, setiap orang tentu butuh arahan dan bimbingan. “Dalam penelitian saya terhadap 670 siswa, 60% mengharapkan orangtua memberi nasihat dan teladan hidup berkaitan dengan perilaku seks yang benar, 80% mengatakan gereja perlu dan sangat perlu terlibat dalam pendidikan seks,” kata Dr. Andik.

“Orangtua harus menjaga anak-anaknya dengan doa dan komunikasi. Sedangkan gereja, harusnya bisa melakukan pendekatan sampai taraf person to person. Kalau gereja sudah terlalu besar, ya lewat kelompok kecil. Pembina rohaninya harus benar-benar memerhatikan sampai ke individu,” saran Franky. Senada dengan Franky, Pinkan M. Indira mengatakan gereja perlu kembali pada pola awal jemaat mula-mula. “Yang lebih muda menjadi adik sementara yang lebih tua sebagai kakak bapak, atau ibu. Jadi, ada keterbukaan yang melebihi fungsi. Sehingga mereka berani jujur,” kata dosen psikologi UKSW yang akrab disapa Ira ini. Franky juga mengajak kita memiliki beban untuk teman-teman seperti itu. “Karena Kristus itu bukan hanya untuk dinikmati pribadi. Kita menikmati pertolongan dan perubahan dari Yesus bukan untuk diri sendiri. Rangkullah mereka. Impartasikan kasih Kristus lewat kepedulian dan keterbe-banan,” jelasnya.

Caranya, tambah Franky, dengan menjadi sahabat. “Generasi sekarang ini nggak bisa masuk lewat nasihat secara rohani. Harus jadi teman yang bisa ngobrol. Jadi, bukan datang sebagai orang yang lebih benar atau lebih tahu. Bicaralah heart to heart,” ungkapnya.Meski peran sahabat perlu, namun menurut Susan tidak bisa dijadikan patokan. “Karena kalau berhubungan dengan dosa, otoritas yang lebih tinggi pasti lebih berperan,” tandasnya. Orangtua, lanjutnya, harus dekat dengan anak-anaknya dan menjadi teladan secara rohani seperti berdoa bersama, saling mendoakan antar anggota keluarga, merenungkan firman Tuhan dan mengajarkan disiplin rohani pribadi. Juga perlu memperkenalkan pengetahuan seks kepada anak sesuai umurnya.

Integritas Seksual

Berkaitan dengan pengetahuan seksual, sebagai langkah preventif dan edukasi, Dr. Andik menganjurkan anak sejak dini perlu dibangun integritas seksualnya melalui pendidikan seks yang benar. Ada 4 tahap, yaitu: masa persiapan (0-4 tahun), masa pencegahan (5-8 tahun), masa pendampingan (9-12 tahun), dan masa pemenuhan (13-18 tahun). Untuk tetap menjaga kekudusan seks dan menang atas godaan seksual, semua sepakat kalau kembali pada prinsip firman Tuhan. Franky menganjurkan orang muda membentengi pikirannya dengan firman Tuhan (Mzm. 119:9). “Siapa kita adalah apa yang kita baca dan pikirkan. Kalau kita berpikir firman, pikiran kita penuh dengan firman. Menurut saya, anak perlu sejak dini diperkenalkan hubungan pribadi dengan Tuhan. Paling tidak, kalau sudah ditanamkan firman dan nilai-nilai kebenaran, itu bisa menjadi rem. Roh Kudus pasti ngomong. Saya berharap mereka bisa peka. Untuk peka, ya bangun hubungan dengan Tuhan,” urai Franky.

Mengacu pada Roma 12:1-2, Dr. Andik mengajak kita mengambil 2 langkah simultan, yaitu: berani berbeda dengan dunia dan mengalami transformasi akal budi. “Sadarilah bahwa kejadian kita dahsyat dan ajaib. Dan kita sangat berharga di mata Tuhan,” kata Susan mengutip Mazmur 139. Oleh karena itu, miliki prinsip hidup yang benar dan self control yang ketat. Hargailah diri sendiri dengan tidak merusaknya dengan hal-hal yang sia-sia. Hidup hanya sekali, jadi jangan disia-siakan. (Sugiyanto, Rum http://www.bahana-magazine.com/)

1 Comment »

  1. infogue Said:

    Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com
    http://18-thn.infogue.com/membangun_integritas_seksual_generasi_muda


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.