Boleh ngak sih, liat fotto atao nonton film bokep/porno dengan alasan untukbelajar dan menambah wawasan?
Archive for April, 2008
Mencegah Masalah-masalah Pemuda
| Sumber Bahan |
| Judul Buku/Buletin | : | Christian Counseling, a Comprehensive Guide |
| Penulis/Narasumber | : | Gary R. Collins |
| Penerbit | : | Word Publishing, U.S.A, 1998 |
| Halaman | : | 193 – 195 |
Setelah menyelesaikan studi tentang pemuda, para peneliti dari Yale menyimpulkan, “Usia dua puluhan dan tiga puluhan tahun kemungkinan adalah masa yang paling banyak dan penuh dengan tekanan dalam siklus kehidupan. Seorang pemuda (atau pemudi) harus menghadapi berbagai penyesuaian dan pengembangan yang sulit, masa ini merupakan masa yang tidak bisa dipermudah atau diperlancar. Akan tetapi, masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan yang banyak itu, dan memfasilitasi pekerjaan pada tugas pengembangan.” (Levinson et al., Seasons of a ManĀ“s Life, hal. 337). Sebagai langkah awal, para peneliti menyarankan bahwa akan sangat menolong para pemuda jika mereka didampingi dalam mendapatkan pekerjaan dan tinggal di lingkungan dimana kepribadian dan perkembangan karier mereka dapat terstimulasi dan bukannya terhalang.
Ketika saya bekerja di pusat konseling pada sebuah universitas, salah seorang konseli saya sakit. Karena dia tidak punya mobil, maka saya menawarinya untuk mengantarnya pulang. Ketika saya melihat bahwa dia tinggal dengan sebuah keluarga yang secara psikologis suasananya tidak sehat, saya jadi memiliki penilaian yang baru mengenai alasan mengapa dia memiliki masalah dalam penyesuaian diri dengan kedewasaan. Apa pun yang coba kami lakukan selama konseling selalu dihalangi oleh keluarganya. Jika seorang pemuda bekerja atau hidup dalam suatu lingkungan yang tidak teratur, terpecah-pecah, selalu dicela, maka akan sulit untuk mencegah masalah supaya tidak berkembang atau menjadi semakin buruk. Namun, terapi pencegahan yang terbaik bisa membantu para pemuda untuk bertindak. Setidaknya, ada lima cara untuk mencegahnya, yaitu:
- Pendidikan dan dorongan.
Terkadang, para pemuda dikejutkan dan diliputi oleh tekanan dari kelompok mereka. Orientasi masa kuliah seringkali memberikan peringatan dan saran praktis dalam menghadapi masalah bagi mahasiswa yang baru masuk, akan tetapi proses ini dapat dikembangkan. Sekolah Minggu, kelompok diskusi gereja, kelompok ibu-ibu muda dan eksekutif junior, kelompok Pemahaman Alkitab (PA) di rumah, atau pelayanan firman yang diberikan secara berkala dapat menolong para pemuda untuk mengatasi tekanan masalah, memberikan anjuran untuk memecahkan masalah, menyediakan kesempatan untuk berdiskusi, dan memberikan kesempatan kepada para partisipan untuk saling mendorong satu sama lain. Ketika gereja atau program lain berbicara mengenai kebutuhan sehari- hari, maka orang-orang akan datang.
- Lebih banyak mentor.
Ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa orang harus memiliki mentor agar sukses, namun memang ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa mentoring bisa sangat menolong, baik bagi orang yang menjadi mentor maupun bagi pemuda yang dibimbing. Hal ini bisa terjadi karena faktor budaya, dimana pada beberapa budaya, hubungan kekeluargaannya tidak begitu dekat. Hal ini juga terjadi pada orang yang memiliki pekerjaan baru. Contohnya, sebuah perusahaan besar mendapati bahwa organisasi dan orang-orang akan sama-sama mendapat keuntungan jika ada mentoring yang bekerja secara sukarela, dengan ikatan yang sungguh-sungguh antara mentor dengan seseorang yang dibimbing, dan kebebasan yang maksimal bagi orang untuk menghabiskan waktu mereka dengan mendiskusikan apa pun yang mereka anggap dapat membantu. Program kakak adik memberikan petunjuk pencegahan yang sama dan juga berbagai pendekatan Kristen dalam hal pendisiplinan.
Program mentor untuk pemuda tidak harus selalu dilakukan secara formal. Ini bukanlah suatu penyederhanaan bahwa pendekatan yang tepat adalah berdoa untuk hubungan mentor dengan orang yang dibimbingnya dan kemudian secara sadar mencari seseorang yang dapat menjadi mentor Anda, atau orang yang bisa Anda bimbing.
- Pengembangan mimpi.
Mimpi seorang pemuda — membayangkan kemungkinan yang dapat memberikan kesenangan dan kemampuan — pada awalnya akan menjadi samar-samar dan tidak bisa dijelaskan, akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kemungkinan itu akan semakin jelas. Untuk menjadikan mimpi itu menjadi suatu kenyataan, pemuda harus berpikir, berencana, dan melakukan tindakan selangkah demi selangkah untuk mencapai tujuan mereka. Proses itu dimulai ketika ada yang bertanya, “Apa yang akan saya lakukan sepuluh tahun yang akan datang? Apakah Tuhan ingin saya melakukan hal ini? Langkah- langkah apa yang harus saya lakukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya?” Ketika para pemuda ini berusaha untuk mewujudkan mimpi mereka, tampaknya mereka kurang mengembangkan pengendalian diri dan pola hidup yang membuat mereka frustasi.
- Kesabaran orangtua.
Tidaklah mudah bagi para orangtua yang memiliki anak-anak yang tergolong pemuda ketika melihat anak-anak mereka yang sedang beranjak dewasa ini berjuang melawan masalah-masalah yang timbul dalam menghadapi kedewasaan. Kadang-kadang, orangtua justru membuat masalah menjadi semakin buruk karena mereka tidak bisa memberi toleransi. Mereka terus-menerus memberi kritikan dan nasihat-nasihat, meskipun dengan tujuan yang baik. Akan lebih baik bagi orangtua untuk memberikan dorongan, semangat, dan penjelasan, sehingga para pemuda ini dapat dan mau diajak bicara. Orangtua harus mencoba untuk tidak menyelamatkan anak mereka yang sedang beranjak dewasa ini dengan menawarkan uang atau kemudahan lainnya yang justru akan membuat anak ini menghindar dari tanggung jawab. Suatu langkah yang baik jika orangtua memberi petunjuk yang lembut ketika anak-anak mereka menghadapi persoalan. Kadang-kadang, bantuan yang terbaik bagi pemuda adalah petunjuk yang diberikan oleh konselor Kristen atau pemimpin gereja kepada orangtua.
- Dukungan rohani.
Seorang teman saya pernah menceritakan bagaimana dia dapat tetap bertahan dari pernikahannya yang bermasalah dan impulsive. “Orangtua saya tidak mengajari saya” katanya. “Saya tahu bahwa mereka tidak peduli terhadap tunangan saya, akan tetapi saya juga tahu bahwa mereka juga berdoa. Mereka memiliki iman yang sangat besar bahwa Tuhan Yang Mahakuasa akan menuntun anak mereka yang sedang beranjak dewasa ini dalam membuat keputusan hidup yang penting. Sesaat sebelum pernikahan, saya baru sadar akan kesalahan yang baru saja saya perbuat. Saya yakin bahwa masalah yang besar dapat dicegah dengan iman yang besar dan doa yang terus-menerus dari orangtua saya.” Hal ini juga bisa menjadi slogan bagi semua konselor Kristen, termasuk orangtua yang memberikan konseling kepada anak-anak mereka bahwa DOA DAPAT MENCEGAH MASALAH-MASALAH YANG MUNGKIN MUNCUL.
Tips: Tentang Pacaran Kristen
| Smber Bahan |
| Judul Buku/Buletin | : | Pastoral Konseling |
| Penulis/Narasumber | : | Yakub B. Susabda |
| Penerbit | : | Gandum Mas, Malang |
| Halaman | : | 120 – 123 |
Tidak heran bahwa untuk mencapai tujuan yang agung, orang-orang Kristen bergaul dan berpacaran secara berbeda dengan orang-orang non-Kristen. Pacaran bagi orang Kristen ditandai dengan:
1. Proses Peralihan dari “Subjective Love” ke “Objective Love.”
“Subjective love” sebenarnya tidak berbeda daripada manipulative love yaitu “kasih dan pemberian yang diberikan untuk memanipulir orang yang menerima”. Pemberian yang dipaksakan sesuai dengan kemauan dan tugas dari si pemberi dan tidak memperhitungkan akan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh si penerima. Sesuai dengan “sinful nature”nya setiap anak kecil telah belajar mengembangkan “subjective love”. Dan “subjective love” ini tidak dapat menjadi dasar pernikahan. Pacaran adalah saat yang tepat untuk mematikan sinful nature tsb, dan mengubah kecenderungan “subjective love” menjadi “objective love”. Yaitu memberi sesuai dengan apa yang baik yang betul-betul dibutuhkan si penerima.
2. Proses Peralihan dari “Envious Love” ke “Jealous Love.”
“Envious” sering diterjemahkan sama dengan “jealous” yaitu cemburu. Padahal “envious” mempunyai pengertian yang berbeda. “Envious” adalah kecemburuan yang negatif yang ingin mengambil dan merebut apa yang tidak menjadi haknya. Sedangkan “jealous” adalah kecemburuan yang positif yang menuntut apa yang memang menjadi hak dan miliknya. Tidak heran, kalau Alkitab sering menyaksikan Allah sebagai Allah yang “jealous”, yang cemburu (misal: 20:5). Israel milik-Nya umat tebusan-Nya. Kalau Israel menyembah berhala atau lebih mempercayai bangsa-bangsa kafir sebagai pelindungnya, Allah cemburu dan akan merebut Israel kembali kepada-Nya.
Begitu pula dengan pergaulan pemuda-pemudi. Pacaran muda-mudi Kristen harus ditandai dengan “jealous love”. Mereka tidak boleh menuntut “sesuatu” yang bukan atau belum menjadi haknya (seperti: hubungan seksuil, wewenang mengatur kehidupannya, dsb). Tetapi mereka harus menuntut apa yang memang menjadi haknya, seperti kesempatan untuk dialog, pelayanan ibadah pada Allah dalam Tuhan Yesus, dsb.
3. Proses Peralihan dari “Romantic Love” ke “Real Love.”
“Romantic love” adalah kasih yang tidak realistis, kasih dalam alam mimpi yang didasarkan pada pengertian yang keliru bahwa “kehidupan ini manis semata-mata”. Muda-mudi yang berpacaran biasanya terjerat pada “romantic love”. Mereka semata-mata menikmati hidup sepuas-puasnya tanpa coba mempertanyakan realitanya, misal:
- apakah kata-kata dan janji-janjinya dapat dipercaya?
- apakah dia memang orang yang begitu sabar, “caring”, penuh tanggung jawab seperti yang selama ini ditampilkan?
- apakah realita hidup akan seperti ini terus (penuh cumbu-rayu, rekreasi, jalan-jalan, cari hiburan)?
Pacaran adalah persiapan pernikahan, oleh karena itu pacaran Kristen tidak mengenal “dimabuk cinta”. Pacaran Kristen boleh dinikmati tetapi harus berpegang pada hal-hal yang realistis.
4. Proses Peralihan dari “Activity Center” ke “Dialog Center.”
Pacaran dari orang-orang non-Kristen hampir selalu “activity- center”. Isi dan pusat dari pacaran tidak lain daripada aktivitas (nonton, jalan-jalan, duduk berdampingan, cari tempat rekreasi, dsb.), sehingga pacaran 10 tahun pun tetap merupakan 2 pribadi yang saling tidak mengenal. Sedangkan pacaran orang-orang Kristen berbeda. Sekali lagi orang-orang Kristen juga boleh berekreasi dsb, tetapi “center”nya (isi dan pusatnya) bukan pada rekreasi itu sendiri, tapi pada dialog yaitu interaksi antara dua pribadi secara utuh (Martin Buber, “I and Thou”, by Walter Kauffmann, Charles Scribner’s Sons, NY: 1970), sehingga hasilnya suatu pengenalan yang benar dan mendalam.
5. Proses Peralihan dari “Sexual Oriented” ke “Personal Oriented.”
Pacaran orang Kristen bukanlah saat untuk melatih dan melampiaskan kebutuhan seksuil. Orientasi dari kedua insan tsb, bukanlah pada hal-hal seksuil, tapi sekali lagi (seperti telah disebutkan dalam no. 4) pada pengenalan pribadi yang mendalam.
Jadi, masa pacaran tidak lain daripada masa persiapan pernikahan. Oleh karena itu pengenalan pribadi yang mendalam adalah “keharusan”. Melalui dialog, kita akan mengenal beberapa hal yang sangat primer sebagai dasar pertimbangan apakah pacaran akan diteruskan atau putus sampai disini.
Beberapa hal yang primer tsb, antara lain:
a. Imannya.
Apakah sebagai orang Kristen dia betul-betul sudah dilahirkan kembali (Yoh 3:3), mempunyai rasa takut akan Tuhan (Amsal 1:7) lebih daripada ketakutannya pada manusia, sehingga di tempat- tempat yang tersembunyi dari mata manusia sekalipun ia tetap takut berbuat dosa. Apakah ia mempunyai kehausan akan kebenaran Allah dan menjunjung tinggi hal-hal rohani?
b. Kematangan Pribadinya.
Apakah ia dapat menyelesaikan konflik-konflik dalam hidupnya dengan cara yang baik? Dapat bergaul dan menghormati orang-orang tua? Apakah ia menghargai pendapat orang lain?
c. Temperamennya.
Apakah ia dapat menerima dan memberi kasih secara sehat? Dapat menempatkan diri dalam lingkungan yang baru bahkan sanggup membina komunikasi dengan mereka? Apakah emosinya cukup stabil?
d. Tanggung-jawabnya.
Apakah dia secara konsisten dapat menunjukkan tanggung-jawabnya, baik dalam studi, pekerjaan, uang, seks, dsb.?
Kegagalan dialog akan menutup kemungkinan mengenali hal-hal yang primer di atas. Dan pacaran 10 tahun sekalipun belum mempersiapkan mereka memasuki phase pernikahan.
Kegagalan dalam dialog biasanya ditandai dengan pemikiran- pemikiran:
- Saya takut bertengkar dengan dia, takut menanyakan hal-hal yang dia tidak sukai.
- Setiap kali bertemu kami selalu mencari acara keluar … atau kami ingin selalu bercumbuan saja.
- Saya rasa “dia akan meninggalkan saya” kalau saya menuntut kebenaran yang saya yakini. Saya takut ditinggalkan.
- Saya tidak keberatan atas kebiasaannya, wataknya bahkan jalan pikirannya asalkan dia tetap mencintai saya, dsb.
Seks Pra Nikah
| umber Bahan |
| Judul Buku/Buletin | : | Seri Psikologi Praktis — Seks Pra Nikah |
| Penulis/Narasumber | : | Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D. |
| Penerbit | : | Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001 |
| Halaman | : | 1 – 6 |
Beberapa tahun terakhir ini, persepsi masyarakat terhadap seks telah mengalami perkembangan (perubahan) yang drastis. Perilaku seks telah beranjak dari posisi nilai moral menjadi budaya. Dengan kata lain, jika sebelumnya seks sarat dengan kaidah moral, sekarang seks telah merambah ke segala penjuru kehidupan sebagai gaya hidup yang nihil moralitas. Seks, yang pada mulanya diidentikkan dengan cinta dan pernikahan, sekarang lebih diasosiasikan dengan suka dan kencan belaka. Salah satu ruang kehidupan yang telah dimasuki oleh perilaku seks adalah masa berpacaran. Seks bukan lagi pergumulan yang harus dilawan dan dimenangkan pada masa berpacaran, namun seks telah menjadi salah satu agenda dalam berpacaran, sama seperti budaya mencium yang kita kenal sampai dua dasawarsa yang lalu. Dewasa ini, seks telah menggantikan tempat berpegangan tangan dan berciuman dalam berpacaran.
Berikut ini, saya akan menjelaskan beberapa alasan, mengapa seks pra nikah itu tidak boleh dan tidak baik.
PERTAMA: Seks pra nikah bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Perjuangan anak-anak Tuhan melawan godaan seksual pada masa berpacaran akan semakin mengendor karena para pejuang kesucian akan semakin langka pula. Tatkala kita dikelilingi oleh 10 rekan sesama pejuang kesucian, semangat juang kita pun akan mengalami penguatan. Sebaliknya, jika 6 dari 10 rekan seperjuangan telah menyerah kalah, godaan untuk angkat tangan semakin besar pula. Pada akhirnya, makin banyak anak-anak Tuhan yang hidup di celah-celah dua dunia yang kotomis, antara “yang diketahui” dan “yang dilakukan”. Kita tahu 8 bahwa Tuhan melarang seks pra nikah (atau segala bentuk hubungan seksual di luar pernikahan, Keluaran 20:14; 1Korintus 5:1; 6:12-20; 1Tesalonika 4:3-8), namun kita tetap melakukannya karena tak kuasa membendung nafsu. Kita pun mulai hidup di tengah-tengah kenikmatan sekaligus rasa bersalah. Di satu pihak, kita hidup berpegang pada Firman Tuhan, di pihak lain kita mengampuni perbuatan dosa sendiri.
Dosa menjauhkan si pelaku dari Tuhan, termasuk dosa seksual pada masa pra nikah. Konflik rohani yang muncul akibat dosa seks akhirnya berkobar menjadi peperangan rohani dan membakar setiap energi rohani yang semula ada dalam diri kita. Kehidupan rohani menjadi seperti roda yang berputar tersendat-sendat; rasa tidak layak berhadapan dengan Tuhan, akhirnya mendinginkan animo untuk sama sekali dekat dengan Tuhan. Bagi saya, reaksi seperti ini masih lebih sehat ketimbang membutakan mata rohani dan akhirnya hidup dalam kepura- puraan. Dosa tetap dosa — betapa pun sulit kita melawannya — dan lebih baik kita mengakui kelemahan kita daripada mendistorsi realitas rohani ini. Langkah pertama dalam pertobatan adalah pengakuan dosa, yakni mengakui perbuatan itu sebagai pelanggaran terhadap perintah Tuhan yang kudus; pendistorsian dosa menghilangkan esensi pertobatan sejati.
KEDUA: Seks pra nikah mencemari proses dan tujuan berpacaran.
Nafsu dan rasio tidak dapat duduk berdampingan, sebab yang satu akan mengurangi efektivitas kerja yang lain. Hikmat tidak dapat muncul dari nafsu; hikmat hanya bisa tumbuh dari rasio yang jernih. Saya mendefinisikan hikmat sebagai kemampuan melihat dengan jelas dan bertindak dengan tepat. Hikmat bukan saja dimulai dengan pengetahuan yang benar, namun perlu ditindaklanjuti dengan perilaku yang benar pula.
Apabila nafsu (seksual) sudah menjadi bagian dari masa berpacaran, maka ia akan membutakan kejelian dalam menelaah kondisi hubungan kita yang jelas. Tujuan berpacaran adalah untuk memberikan gambaran yang sejelas-jelasnya akan keadaan pasangan kita dan sekaligus memastikan kecocokan kita berdua. Jadi, proses berpacaran seyogyanya diisi dengan upaya-upaya untuk saling menyesuaikan diri, yakni dalam hal-hal yang berkenaan dengan nilai hidup, pola berpikir, dan gaya hidup kita.
Keberadaan seks pada masa penyesuaian awal ini akan menodai proses berpacaran, sehingga pada akhirnya, tujuan berpacaran pun tidak tercapai. Nafsu meminta pemuasan dan demi memenuhi nafsu, kita rela dan berani membayar harga yang mahal, yaitu mengesampingkan dan meremehkan ketidakcocokan yang ada di depan mata. Seks mengikat kedua insan secara badani, namun seks tidak menyatukan kedua pribadi secara menyeluruh. Seks pada masa berpacaran mendistorsi realita kecocokan karena seks menulikan telinga untuk mendengar perbedaan dan membutakan mata untuk melihat ketidakserasian.
Seks pada masa berpacaran merusak kerja rasio dan mematikan hikmat untuk melihat dengan jelas dan bertindak dengan tepat. Seks pra nikah merupakan investasi yang terlalu dini, sehingga tidak jarang ada pasangan yang melanjutkan hubungan yang tidak sehat itu hanya karena telanjur sudah berhubungan seks. Singkatnya, seks pada masa berpacaran membuka kemungkinan yang lebar akan terjadinya bencana di masa mendatang. Tepatlah Firman Tuhan yang mengingatkan kita,
“Tetapi siapa mendengarkan aku (hikmat), ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka.” (Amsal 1:33)
Hikmat dari Tuhan akan melindungi kita dari bencana yang ada di depan kita, sedangkan nafsu hanya akan memastikan kita berjalan ke arah kehancuran.
KETIGA: Seks pra nikah mengurangi respek terhadap pasangan kita.
Respek dibangun bukan di atas kegagalan, melainkan di atas kemenangan. Penguasaan diri yang kuat adalah salah satu karakteristik yang mengundang kekaguman dan membuahkan respek. Hubungan pernikahan yang sehat perlu dilandasi dengan respek; tanpa respek, relasi pernikahan akan berkualitas buruk serta membuka pintu masuk bagi problem yang lebih banyak. Seks pada masa berpacaran tidak akan membangun respek, justru secara diam-diam malah menciptakan rasa kurang respek. Bayangkan, suatu situasi hipotesis yang menempatkan kita pada sisi yang berseberangan. Misalkan, kita yang telah menjaga kesucian mendengar pengakuan dari pasangan kita bahwa ia sudah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya yang terdahulu. Saya sadar bahwa sebagai orang Kristen dengan cepat kita akan memaafkan perbuatannya, namun yang perlu saya tanyakan adalah “Apakah pengakuannya itu menambah respek kita terhadapnya atau tidak?” Saya khawatir bahwa di balik pemberian maaf, hati kita terluka dan citra tentang dirinya yang telah terbentuk mulai berubah menjadi negatif. Kita bisa berdalih dan mencoba meyakinkan diri kita bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Semua bisa melakukan kesalahan, termasuk pasangan kita yang telah berhubungan seks. Namun demikian, kesalahan seksual tidak dapat disamakan dengan kesalahan lainnya, misalnya berkelahi atau mencuri uang. Kesalahan seksual menohok jantung hati kita karena seks secara kodrati adalah suatu bagian hidup yang sakral — sebagaimana dimaksudkan oleh penciptanya, yaitu Tuhan sendiri.
KEEMPAT: Seks pra nikah menciptakan keraguan akan penguasaan dirinya dengan orang lain.
Alasan keempat ini berkaitan erat dengan hal kepercayaan dan kepercayaan merupakan salah satu tonggak pernikahan. Satu pertanyaan yang membutuhkan jawaban teguh dan positif adalah, “Dapatkah saya mempercayainya, jika dia bersama dengan orang lain?” Saya kira, rasa percaya akan sulit bertumbuh jika kita menyaksikan kelemahan pasangan kita dalam menguasai dirinya. Dalam benak kita mungkin akan muncul keragu-raguan, “Dapatkah dia menguasai dirinya, jika bersama dengan orang lain?” Pertanyaan ini timbul karena kita sudah menjadi salah satu “korban” dari kelemahannya itu. Apalagi jika ia pernah berbuat hal yang sama dengan pacarnya yang terdahulu. Kepercayaan tidak diberikan dengan cuma-cuma; kita harus membuktikan diri terlebih dahulu sebelum layak untuk menerimanya. Seks pra nikah mencemari kepercayaan kita dan menumbuhkan keraguan akan daya tahannya dalam menghadapi pencobaan seksual di masa mendatang.
KELIMA: Seks pra nikah melebarkan kemungkinan adanya kehamilan dan kehamilan sebelum pernikahan menciptakan pernikahan yang belum matang.
Pernikahan yang didahului oleh kehamilan berisiko tinggi menghadapi perceraian karena tidak adanya kesiapan pernikahan pada saat itu. Atau, kalau pun tidak bercerai, pernikahan ini rawan dirundung masalah karena kurangnya kesiapan pernikahan. Masalah mudah muncul, sebab mungkin saja, hubungan berpacaran tidak pernah mencapai tujuannya oleh karena campur tangan seks. Dengan kata lain, pernikahan ini bermasalah karena penyesuaian diri tidak pernah tuntas dan dalam keadaan tidak tuntas ini, kita terpaksa menikah karena telah hamil terlebih dulu.
Membangun Integritas Seksual Generasi Muda
Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.
(Mazmur 119:9)
Realitas SeKs Bebas AnaK Muda
Masalah seks di kalangan pelajar dan mahasiswa memang bukan hal baru. Setidaknya sejak 1984, kelompok studi Dasakung memperkenalkan istilah mahasiswa kumpul kebo. Kehebohan berikutnya saat Iip Wijayanto menyebutkan bahwa 97,05% mahasiswi di Yogyakarta ternyata sudah tidak perawan. Karuan saja temuan inimelahirkan silang-sengketa terutama pada metode yang digunakan. Berbagai pihak menuduh Iip sedang mencari sensasi.
Survei yang dilakukan selama 3 tahun (1999-2002) itu mungkin ada benarnya bila disimak dari metode snowball sampling yang digunakan Iip. Ketika sampel awal yang dipilih adalah orang bermasalah, jelas akan menggelinding di lingkungan yang cenderung bermasalah pula. Penelitian terakhir yang dilakukan Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada 2004 menemukan fakta bahwa 12% – 25% remaja dan mahasiswa di Yogyakarta mengaku sudah pernah melakukan hubungan intim. “Saya yakin trendnya naik,” kata Maesur Zaky, Koordinator Pusat Studi Seksualitas PKBI.Bila Yogyakarta yang berpredikat sebagai kota pelajar sudah demikian, bagaimana dengan kota lain? Sesungguhnya tak jauh berbeda. Berbagai survei yang diadakan di 12 kota besar di Indonesia menunjukkan 5,5-11% orang muda telah melakukan hubungan seksual sebelum usia 19 tahun (Dwipekan UK Petra, 22 Juni-12 Juli 2004).
Hasil wawancara DetEksi atas lebih dari 1.000 responden SMA dan mahasiswa di Jakarta, 10,4% mengaku pernah berhubungan seks pranikah. Sedangkan di Surabaya, 12,4% dari 500 responden juga telah berhubungan seks (Jawa Pos, 25 Mei 2003).Dari konseling dan polling LSM Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) atas 1000-an klien selama tahun 2000-2002, terungkap bahwa 44,8% mahasiswa PTN dan PTS serta remaja di Bandung telah melakukan hubungan seks. Sebagian besar dilakukan di tempat kost (51,5%).
Apa yang membuat mereka terjebak dalam budaya seks bebas, bahkan di tempat kost?
Fenomena Cinta Terlarang Anak Pelayanan
Bagaimana dengan kebebasan pergaulan orang muda Kristen, khususnya dalam hal seks pranikah? Dari hasil survai Bahana terungkap 19,9% mahasiswa Kristen telah melakukan hubungan seks ketika pacaran. Tentang lokasi, 51,5% melakukannya di rumah kos. Bila dilihat dari kisah Rudi, Tom & Maya di Jogja, Ica di Surabaya, dan Rini & Bagas di Salatiga, pelaku seks pranikah justru mereka yang tahu kebenaran, aktivis pelayanan. Bagaimana mungkin orang pelayanan bisa terperosok dalam cinta terlarang? Orang muda memang memiliki karakteristik yang rentan terhadap godaan. Mereka sangat mudah dipengaruhi oleh teman-temannya. Bermula dari rasa ingin tahu dan coba-coba, akhirnya kompromi.
Mereka pun terjerumus dan terjebak dalam seks bebas. “Pada dasarnya mereka mencari dan mencoba sesuatu. Mereka jauh dari orangtua yang sebelumnya dengan nilai-nilai yang dipush, tapi belum begitu tertanam di hati,” kata Franky Sihombing. Kejatuhan aktivis pelayanan dalam seks bebas menurut Pinkan Margaretha Indira, S.Psi, karena kedekatan yang terjadi antara teman pelayanan hanya bersifat fungsional sehingga tidak cukup menjaga seseorang lolos dari godaan seksual.
Tren dan Citra
Susan Rogi, S.Psi, menengarai terjadi perubahan perilaku secara signifikan dalam diri kawula muda, termasuk anak pelayanan. Semakin banyak mengerti atau punya pengalaman seks bebas, mereka semakin merasa dirinya ‘modern’ atau ‘gaul’. Hal ini didukung dengan adanya rumah kost campur, pria dan wanita. Kost campur memang bukan hal baru di kota metropolitan seperti Surabaya, misalnya. Dekat sebuah PTS Kristen, di kawasan Siwalankerto Timur ada tiga rumah kost yang rawan dan sering kecolongan ‘pergaulan bebas’. Banyak yang memberi gelar kos-kosan ini dengan ‘Rumah Pink’, ‘Rumah Hantu’, dan ‘Green House’.
Tempat kost semacam ini bisa dijuluki sebagai kost-kostan aji mumpung, mengapa? Mumpung di sini hanya dijaga pembantu yang bisa disogok, jadi kita bisa melakukan apa saja yang diinginkan, ujar salah satu penghuninya. Dia menambahkan di tempat itu mereka lebih bebas mengekpresikan nafsu mudanya bersama teman cewek satu kost. Oh, my God!
“Mereka semakin enjoy dengan pergaulan seks bebas dan kompromi dengan dosa, walaupun hanya French kiss atau petting,” ujar Susan. Ia menambahkan bahwa mahasiswa melakukan seks di kost (awas, jangan ditiru) karena beberapa faktor yang menguntungkan. Dari penelitiannya di Yogyakarta dan Jakarta selama April – November 1997, sebagian besar teman-teman kost mendukung perilaku bebas tersebut. “Ada penjaga kost yang mengizinkan bahkan mengambil keuntungan dari perilaku seks tersebut. Contohnya dengan menarik iuran ke penghuni kost apabila ada teman lawan jenis yang nginap,” ungkapnya.
Dari segi biaya dan citra, kata Susan, seks bebas di kamar kost tidak membutuhkan biaya. “Perilaku seks bebas di kamar kost juga meminimalkan image orang lain terhadap sebutan ‘cewek nakal’ atau ‘cowok nakal’ bila mereka melakukannya di hotel atau tempat umum,” katanya. Namun, gaul dan kompromi merupakan dua hal yang sangat berbeda. “Kita bisa gaul tanpa harus kompromi. Itu dua arti kata yang berbeda. Gaul bukan berarti kompromi. Itu masalah identitas siapa kita. Bukan kata orang, tapi apa kata firman Tuhan,” tandas Franky Sihombing.
Dampak Seks PraniKah
Seks pranikah memiliki konsekuensi serius dalam berbagai kehidupan seseorang. “Dampak psikologis seks pranikah pelaku akan merasa diri kotor, dan kemudian akan berdampak pada hal lain (dosa memperanakkan dosa), seperti berbohong, menjauh dari pergaulan positif. Dampaknya seperti lingkaran setan yang tidak ada ujung-nya,” jelas Susan.Seks pranikah, kata Dr. Andik, jelas berpotensi tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) termasuk HIV-AIDS, dan tentu saja kehamilan di luar nikah. Secara spiritual, seks pranikah membuat orang kehilangan sensitivitas dengan Tuhan. “Keintiman dengan Tuhan pasti hilang. Karena ada rasa bersalah, nggak layak, kotor,” tegas Franky yang pernah mengalami hal serupa.
Krisis Kasih?
Apa penyebab seks bebas? Apakah karena krisis kasih atau disfungsi keluarga? “Memang di satu sisi ada krisis kasih. Tapi saya pikir semua orang punya dorongan ke arah sana (melakukan hubungan seks). Itu manusiawi. Kita masih manusia daging yang masih diproses Tuhan. Kalau di rumah nggak ada nilai yang ditanamkan, kecenderungan itu nggak ada remnya,” tutur Franky.
Rem memang diperlukan, tetapi yang menentukan adalah si pengemudi. Menurut Susan, tidak ada korelasi langsung antara disfungsi keluarga dan keluarga yang harmonis dengan seks bebas. “Karena perilaku itu hubungan-nya erat sekali dengan self control. Kuncinya ada dalam diri sendiri. Setiap pribadi harus berani mengambil keputusan untuk berkata TIDAK dan menjauhkan dari segala sesuatu yang berbau seks bebas,” tandas Susan. Kendati menjaga kekudusan seksual merupakan tanggung jawab pribadi, setiap orang tentu butuh arahan dan bimbingan. “Dalam penelitian saya terhadap 670 siswa, 60% mengharapkan orangtua memberi nasihat dan teladan hidup berkaitan dengan perilaku seks yang benar, 80% mengatakan gereja perlu dan sangat perlu terlibat dalam pendidikan seks,” kata Dr. Andik.
“Orangtua harus menjaga anak-anaknya dengan doa dan komunikasi. Sedangkan gereja, harusnya bisa melakukan pendekatan sampai taraf person to person. Kalau gereja sudah terlalu besar, ya lewat kelompok kecil. Pembina rohaninya harus benar-benar memerhatikan sampai ke individu,” saran Franky. Senada dengan Franky, Pinkan M. Indira mengatakan gereja perlu kembali pada pola awal jemaat mula-mula. “Yang lebih muda menjadi adik sementara yang lebih tua sebagai kakak bapak, atau ibu. Jadi, ada keterbukaan yang melebihi fungsi. Sehingga mereka berani jujur,” kata dosen psikologi UKSW yang akrab disapa Ira ini. Franky juga mengajak kita memiliki beban untuk teman-teman seperti itu. “Karena Kristus itu bukan hanya untuk dinikmati pribadi. Kita menikmati pertolongan dan perubahan dari Yesus bukan untuk diri sendiri. Rangkullah mereka. Impartasikan kasih Kristus lewat kepedulian dan keterbe-banan,” jelasnya.
Caranya, tambah Franky, dengan menjadi sahabat. “Generasi sekarang ini nggak bisa masuk lewat nasihat secara rohani. Harus jadi teman yang bisa ngobrol. Jadi, bukan datang sebagai orang yang lebih benar atau lebih tahu. Bicaralah heart to heart,” ungkapnya.Meski peran sahabat perlu, namun menurut Susan tidak bisa dijadikan patokan. “Karena kalau berhubungan dengan dosa, otoritas yang lebih tinggi pasti lebih berperan,” tandasnya. Orangtua, lanjutnya, harus dekat dengan anak-anaknya dan menjadi teladan secara rohani seperti berdoa bersama, saling mendoakan antar anggota keluarga, merenungkan firman Tuhan dan mengajarkan disiplin rohani pribadi. Juga perlu memperkenalkan pengetahuan seks kepada anak sesuai umurnya.
Integritas Seksual
Berkaitan dengan pengetahuan seksual, sebagai langkah preventif dan edukasi, Dr. Andik menganjurkan anak sejak dini perlu dibangun integritas seksualnya melalui pendidikan seks yang benar. Ada 4 tahap, yaitu: masa persiapan (0-4 tahun), masa pencegahan (5-8 tahun), masa pendampingan (9-12 tahun), dan masa pemenuhan (13-18 tahun). Untuk tetap menjaga kekudusan seks dan menang atas godaan seksual, semua sepakat kalau kembali pada prinsip firman Tuhan. Franky menganjurkan orang muda membentengi pikirannya dengan firman Tuhan (Mzm. 119:9). “Siapa kita adalah apa yang kita baca dan pikirkan. Kalau kita berpikir firman, pikiran kita penuh dengan firman. Menurut saya, anak perlu sejak dini diperkenalkan hubungan pribadi dengan Tuhan. Paling tidak, kalau sudah ditanamkan firman dan nilai-nilai kebenaran, itu bisa menjadi rem. Roh Kudus pasti ngomong. Saya berharap mereka bisa peka. Untuk peka, ya bangun hubungan dengan Tuhan,” urai Franky.
Mengacu pada Roma 12:1-2, Dr. Andik mengajak kita mengambil 2 langkah simultan, yaitu: berani berbeda dengan dunia dan mengalami transformasi akal budi. “Sadarilah bahwa kejadian kita dahsyat dan ajaib. Dan kita sangat berharga di mata Tuhan,” kata Susan mengutip Mazmur 139. Oleh karena itu, miliki prinsip hidup yang benar dan self control yang ketat. Hargailah diri sendiri dengan tidak merusaknya dengan hal-hal yang sia-sia. Hidup hanya sekali, jadi jangan disia-siakan. (Sugiyanto, Rum http://www.bahana-magazine.com/)


