Aku ingin Bahagia

Pagi itu ketika aku sedang membaca Firman Tuhan. Aku bertanya pada TUHAN, “Tuhan Yesus Kristus, sebentar lagi saya harus memimpin diskusi di kelas Pelatihan Murid Kristus. Saya ingin menanamkan benih Injil dihati orang-orang yang aku layani. Pertanyaan apakah yang tepat untuk aku tanyakan kepada peserta sehingga langsung mengena pada sasaran”. Tidak lama berselang, TUHAN memberikan hikmat pada saya melalui sebuah pertanyaan: “Mengapa Semua Orang Menginginkan Hidupnya Bahagia?”

Iya…. mengapa semua orang menginginkan hidup bahagia. Tidak jarang dari mereka agar tercapai segala “keinginan bahagianya” sampai-sampai mengorbankan diri dan orang lain. Ada yang rela menjadi pelacur, pencuri, pembunuh bahkan menjadi koruptor uang rakyat. Pasangan suami-istri yang telah menikah begitu lama tiba-tiba bercerai dengan alasan tidak bahagia. Pertanyaanya adalah apakah setelah tercapai semua yang diinginkan, mereka dapat hidup bahagia? Aku pikir tidak. Karena apabila sesuatu itu diperoleh dengan cara yang tidak benar, maka orang tersebut harus berusaha keras mempertahanakan kan apa yang telah ia dapat dengan cara yang tidak bernar pula. Menyakitkan.

Sebenarnya sejak kapan sih manusia kehilangan kebahagiaannya sehingga ia harus berjuang keras untuk mendapatkannya? Menurutku, orang di duinia ini yang paling bahagia itu 1. Adam 2. Hawa 3. Maria

Adam dan Hawa mendapat hak khusus menjadi manusia pertama yang diciptakan TUHAN dan ditempatkan di Taman Eden dengan segala fasilitas + dia diberi kuasa mutlak untuk menguasi semua yang telah Ia ciptakan. Adam dan Hawa mendapat otoritas penuh dari TUHAN atas semua karya ciptaan-Nya. Dan menurutku, inilah yang namanya The Real Happines.

Tapi sayang…. Adam dan Hawa tidak memahami akan hal itu. Dia maunya lebih, lebih dan lebih lagi. Kurang ajar memang dia. Dia terprofokasi oleh bujukan setan, akhirnya ia memberontak pada TUHAN yang telah memilih dan mempercayainya.

Dampak ketidak taatannya itu, ia diusir dari Taman Eden dan sejak saat itu semua otoritas dan kepercayaan TUHAN dicabut atasnya dan semua keturunannya. Kasihankan kita? Dan semenjak TUHAN mencabut kepercayaan dan otoritas-Nya atas Adam dan Hawa, maka The Real Happiness itupun hilang. Adam dan Hawa beserta seluruh keturunannya — termasuk kita harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya.

Pertanyaannya adalah bagaimana caranya supaya kebahagiaan itu dapat kembali menjadi milik kita?

5 Comments »

  1. zee Said:

    bisa numpang tulis artikel?

  2. Juno Said:

    Kok belum nongol di google search engine ya?

  3. alie Said:

    Allah Berfirman,Artinya:
    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, “(QS Al Mu’minuun 1)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya”. [2]

    Itulah hakekat bahagia sesungguhnya yaitu engkau menjadi orang beriman.

  4. alie Said:

    Allah berfirman,artinya;
    “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,”(QS Al Mu’minuun 1)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
    “Artinya : Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Apabila mendapat kelapangan, maka dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan, bila ditimpa kesempitan, maka dia bersabar, dan itu kebaikan baginya”. [HR>Muslim]

    Itulah hakekat kebahagian sesungguhnya yaitu engkau menjadi orang beriman dengan sebenarnya.

  5. .. Said:

    exskwiusme


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Comment