Archive for March, 2008

Kerajaan Allah Penawar Hati yang Kuatir

        Sekilas tampaknya aneh bahwa di dalam Matius 6, Yesus mengembangkan khotbah-Nya melalui pengajaran tentang kemunafikan dan kemudian tentang kekuatiran. Jika tema dari ayat 1 hingga ayat 18 adalah “Jangan menjadi orang munafik,” maka tema dari bagian selanjutnya adalah, “Jangan kuatir. Tidak perlu merasa kuatir” (Mat. 6:25, 28, 31). Ketika di teliti lebih dalam, maka sebenarnya baik kemunafikan dan kekuatiran penyebabnya adalah sama.

Mengapa orang kuatir? Bagi sebagian orang, dengan alasan berikut ini pula mereka kemudia menjadi munafik: yaitu karena mereka lebih memusatkan perhatian kepada diri sendiri daripada kepada Allah. Bagi orang munafik, yang menjadi tujuan hidupnya adalah perhatian dan pengakuan dari orang lain; sedangkan bagi pengkhawatir, kepentingannya adalah pemenuhan akan kebutuhan pribadinya. Kesamaan kedua bagi si munafik dan pengkawatir adalah keduanya tak satupun benar-benar memahami anugerah Allah.

Secara sederhana dapat kita pahami suatu gradasi mengapa kita menjadi kuatir. 1. Karena mengumpulkan harta yang salah. Kekuatiran mulai menerpa hidup kita ketika fokus pencarian dan pemenuhan hidup kita bertumpu pada hal-hal yang lahiriah – pencapaian status sosial, ekonomi (Mat. 6:19). Menurut Yesus, ungkapan “harta” di sini menunjuk kepada hal-hal yang paling kita kasihi. Hanya surga yang dapat mempertahankannya terhadap kerusakan yang diakibatkan oleh waktu dan dosa. 2. Berpikir tentang hidup secara salah. Ketika focus hidup kita sudah mulai kepada hal-hal lahiriah, maka itu akan berdampak pada cara pandang kita tentang tujuan dan arti hidup. Gambaran yang diberikan Yesus sungguh sangat jelas. Jika mata kita jahat, maka “gelaplah seluruh tubuh kita.” (Mat. 6:22-23) Jika mata kita tertuju kepada hal duniawi, maka hidup kita akan dikendalikan oleh hal-hal duniawi. 3. Mengabdi kepada tuan yang salah. Dampak dari poin pertama dan kedua adalah diduakannya kasih setia Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berfirman tidak mungkin kita dapat mengabdi kepada dua tuan. Mengapa demikian? Karena ketika kita menduakan kasih setia Tuhan dengan mammon (Mat. 6:24) akan membawa hidup kita masuk kedalam ketegangan dan kekuatiran.

Apakah solusi yang Tuhan Yesus Berikan? Ada empat resep utama yang Tuhan Yesus berikan sebagai penawar hati yang kuatir. Pertama, memandang hidup secara keseluruhan (Mat. 6:25-26). Kedua, Memandang hakekat kehidupan (Mat. 6:27). Hidup kita ada ditangan Bapa. Ia telah merencanakan semuanya. Ia mengetahui akhir dari segala sesuatu sejak awal keberadaan semuanya. Ketiga, mengingat kebaikan Tuhan (Mat. 6:28-32) “Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di padang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu…” Keempat, Carilah dahulu Kerajaan Allah (Mat. 6:33-34). Kekuatiran hidup hanya dapat diatasi dengan adanya keyakinan akan pemeliharaan Sang Raja. Kekuatiran hidup akan hilang ketika kita dengan sadar membawa hidup di bawah otoritas dan sistem-Nya (Kerajaan Allah). Dimana Dia, Jehovah-Jireh yang menjadi Raja dan kita sebagai umat kesayangan-Nya. Ketika kita mendedikasikan seluruh totalitas hidup kita di bawah otoritas kuasa-Nya dan menjalani hidup sesuai dengan sistem nilai kerajaan-Nya (kebenaran-Nya), maka pemeliharaan-Nya yang sempurna akan berlaku atas hidup kita.

Di tengah carut marutnya ekonomi bangsa, berfluktuasinya nilai tukar rupiah atas dollar, naiknya harga minyak dunia yang berdampak semakin sulitnya menggapai mimpi hidup bahagia. Ditengah ketidak pastian diberbagai segi kehidupan, baiklah kita kembali kepada Kerajaan Allah, dimana Tuhan Yesus Kristus b ertahta sebaga Raja Agungnya dan kita sebagai umat kesayangan-Nya. Sebagaimana Tuhan memelihara umat Israel di padang gurun hingga masuk tanah Kanaan tanpa kekurangan apapun juga, pemeliharaan Allah yang sama juga berlaku atas umat-Nya yang menjalani hidup sesuai dengan sesitem nilai Kerajaan-Nya. Selamat menjalani hidup di bawah pemerintahan Kristus dan menerapkan nilai-nilai kerajaan-Nya. Amin

Maximazing Potential

            Masalah terbesar yang dihadapi oleh generasi muda zaman sekarang adalah bertumbuh tanpa bimbingan/direction dari orang tua (fatherless). Dampak terbesar dari masalah ini adalah generasi muda tidak mampu menemukan potensi yang ada di dalam dirinya serta memaksimalkannya sehingga menjadi sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Sejatinya masa muda adalah masa dimana semua impian, kekuatan, angan dan asa bertumbuh dengan subur dan kuat.

Yosua adalah salah satu contoh generasi muda yang beruntung. Ia tumbuh dan berkembang di bawah bimbingan Musa, sehingga takala Musa mati, Yosua siap menggantikan peran Musa. Musa membawa Bangsa Israel keluar dari Mesir hingga padang gurun, sedangkan Yosua membawa Bangsa Israel dari padang gurun menuju tanah perjanjian yakni tanah Kanaan.

Tanah Mesir merupakan gambaran hidup kita ketika kita masih menjadi hamba dosa. Padang gurun adalah gambaran hidup kita yang telah ditebus oleh darah Kristus sehingga kita menjadi pribadi yang merdeka. Namun demikian, kita harus terus bertumbuh dan berjuang supaya kita mencapai Tanah Kanaan yakni masa dimana kita menikmati segala kelimpahan yang telah Tuhan janjikan kepada kita sehingga kita menjadi generasi yang sukses. Orang sukses adalah orang yang komit kepada Tuhan. Orang sukses adalah orang yang mengerti visi Tuhan atas hidupnya dan menjalani visi tersebut dengan tekun dan setia.

Tiga hal penting yang perlu kita lakukan supaya kita dapat mencapai Tanah Kanaan (Maximum Potential)

1. Punyai Visi Ilah (Ams 16:4)

Orang miskin bukanlah orang yang tidak mempunyai uang tetapi orang yang tidak mempunyai impian di dalam hidupnya. Orang yang mempunyai tujuan tau apa yang harus dilakukan sedangkan orang yang tidak mengetahui tujuan hidupnya ia akan menjadi korban sejarah.

Tujuan hidup lahir dari pemahaman atas rencana Tuhan di dalam hidup kita (Ef. 2:10). Tugas manusia adalah berusaha menemukan rencana Allah atas hidupnya (Ro. 8:29-30). Ada dua cara utama yang dapat kita lakukan supaya kita dapat mengerti rencana Tuhan atas hidup kita dan itu terangkum di dalam Maz. 25:14 dan Yoh. 15:7

2. Miliki Passion untuk Mencapai Visi(Yos. 1:2, 6, 7, 9)

Ada tiga pelajaran penting dari Tiger Wood supaya hidup kita menjadi maksimal:

  1. Tersenyumlah pada tantangan “Smile to obstacle”
  2. Milikilah semangat dan kemauan yang Tinggi “My will can move the mountain”
  3. Berkomitmenlah untuk mengerjakan apa yangtelah diputuskan denan sepenuh hati “I will do it with all my heart”

3. Tindakan Iman — Seberangi Sungai Yordan

Tindakan iman Musa ketika membawa umat Israel menyeberangi Laut Teberau dengan mengacungkan tongkatnya ke arah lautan, lalu terbelahlah lautan itu sehingga orang-orang Israel dapat menyeberang di atas tanah yang kering.

Tindaan iman Yosua tatkala membawa umat Israel memasuki tanah kanaan ialah dengan menjejakkan kakinya di atas sunggai Yordan. Akibat langkah imannya, sungai  Yordan tebelah menjadi dua sehingga umat Israel dapat menyeberang di atas tanah yang kering.

Setelah kita mengetahui Visi Allah atas hidup kita dan kita menjadi bersemangat karenanya, maka kita perlu melakukan satu langkah kecil untuk menggapai apa yang telah Tuhan janjikan. Langkah kecil itu adalah LANGKAH IMAN. GBU

Paskah

Menurut problesser, kapan sebenarnya paskah itu terjadi? apakah hari Jumat atau Minggu?

Penciptaan Manusia dan Teori Evolusi

Yakub Tri Handoko, Th. M.

Asal usul manusia telah menjadi bahan perdebatan di segala jaman. Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah. Berbagai tulisan kuno Babilonia dan Mesir juga menegaskan hal yang sama, meskipun cara penciptaan yang ditulis sedikit bervariasi. Isu ini menjadi semakin populer bagi orang modern seiring dengan berkembangnya teori evolusi, yang dipelopori oleh Charles Darwin lewat bukunya Origin of the Species pada tahun 1859. Pemegang teori ini memang memiliki pandangan yang sedikit beragam, namun secara umum teori evolusi bisa dipahami sebagai pandangan yang menyatakan bahwa manusia berasal dari suatu proses evolusi yang panjang, dimulai dari zat yang paling sederhana sampai terbentuknya makhluk yang sangat kompleks yang disebut “manusia”. Keberadaan zat hidup pertama ini biasanya dipahami sebagai hasil dari sebuah peristiwa alam yang kebetulan dan tiba-tiba. Proses yang diperlukan untuk evolusi ini bisa memakan waktu berjuta-juta tahun.

Bagaimana kita sebagai orang Kristen meresponi hal ini? Benarkah bumi sudah berusia jutaan tahun? Benarkah manusia merupakan hasil evolusi yang panjang? Isu tentang usia bumi akan dibahas tersendiri pada waktu kita mempelajari silsilah di Kejadian 5 dalam hubungannya dengan perhitungan geologis. Bagian ini hanya akan menganalisa teori evolusi berkaitan dengan “penciptaan” manusia.

Banyak orang secara sadar atau tidak sadar cenderung bersikap berat sebelah pada waktu membandingkan Alkitab dengan ilmu pengetahuan. Mereka seringkali melihat kebenaran Alkitab sebagai sebuah kebenaran yang subjektif dan sulit dibuktikan, sedangkan penemuan ilmu pengetahuan sifatnya objektif, tanpa prasangka dan bisa dibuktikan. Kecenderungan ini tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dalam hidup ini banyak hal yang kita terima begitu saja sebagai sebuah kebenaran tanpa kita perlu mengujinya terlebih dahulu. Coba pikirkan pertanyaan ini: “Mengapa kita berani menyetir mobil/sepeda motor di jalanan tanpa kuatir kita akan mengalami kecelakaan?” Bukankah keberanian tersebut disebabkan keyakinan kita bahwa pengendara lain adalah orang yang tidak terganggu kejiwaannya, memiliki kemampuan mengendarai dengan baik dan memahami peraturan lalu lintas? Semua keyakinan ini tidak pernah kita buktikan sebelumnya, tetapi kita menerimanya begitu saja. Begitu pula dengan dunia ilmu pengetahuan dan teologi. Ilmu pengetahuan mengasumsikan adanya keteraturan gejala alam. Sama seperti teologi, ilmu pengetahuan juga memiliki ruang tertentu yang menuntut kepercayaan atau iman dari orang yang menerima kebenaran tersebut.

Bagaimana dengan teori evolusi? Sebelum menganalisa secara detil, kita perlu mewaspadai kesalahan istilah yang begitu sering kita gunakan. Paham evolusi sebenarnya tidak layak disebut sebagai “teori”, karena pandangan ini belum terbukti secara ilmiah. Paham ini lebih tepat disebut sebagai sebuah hipotesa (dugaan ilmiah yang masih memerlukan pembuktian). Lebih jauh daripada itu, hukum alamiah dan penemuan modern ilmu pengetahuan justru bertentangan dengan paham evolusi. Tidak heran, sebagian besar pakar ilmu pengetahuan yang ateis (tidak percaya adanya Tuhan) sekarang bahkan mencari solusi lain untuk menjelaskan misteri keberadaan manusia.

Berikut ini adalah beragam argumen yang membuktikan bahwa hipotesa evolusi bukanlah sebuah kebenaran, bahkan menurut kaca mata ilmu pengetahuan sekalipun. Pertama, manipulasi data fosil. Sejak pandangan evolusi bergulir para ahli semakin giat mencari berbagai fosil dengan harapan menemukan “mata rantai yang hilang” yang bisa menjelaskan transisi dari binatang ke manusia atau dari suatu tahapan evolusi ke tahapan yang lain. Setelah berjalan puluhan dekade, mata rantai yang hilang itu tidak pernah ditemukan. Sebagian dari mereka terpaksa memanipulasi data dan melebih-lebihkannya supaya mendapatkan rekonstruksi kerangka makhluk hidup kuno yang mendukung evolusi. Berikut ini adalah beberapa “penipuan” ilmiah sehubungan dengan keberadaan fosil-fosil yang diduga sebagai mata rantai yang hilang.

1. Manusia Piltdown: hasil rekayasa rekonstruksi yang menggabungkan sebuah rahang kera dengan tengkorak manusia, kemudian diberi warna yang sama.

2. Manusia Jawa: para ahli modern menolak istilah ini. Mereka meyakini bahwa yang terjadi sebenarnya hanyalah seorang manusia dan kera ditemukan di tempat yang sama. Fosil-fosil keduanya kemudian direkonstruksi menjadi “manusia Jawa purba” yang dipercaya menjadi mata rantai dari binatang ke manusia.

3. Manusia Peking: alat-alat dan tulang-tulang manusia ditemukan di dekat kera-kera yang otaknya dimakan manusia (orang di daerah tersebut memang memiliki kebiasaan memakan otak kera).

4. Lucy: ia diklasifikasi ulang sebagai salah satu jenis kera yang sudah punah.

5. Ramapithecus: sebuah rahang dan geligi-geligi yang akhirnya dinyatakan bukan berasal dari manusia, melainkan dari orang utan.

Kedua, kemustahilan mutasi gen yang positif. Ilmu pengetahuan mengakui adanya mutasi gen akibat suatu radiasi atau gejala alam lainnya. Gen yang mengalami perubahan kadangkala diwariskan pada keturunan berikutnya. Walaupun mutasi gen memang sungguh-sunggguh terjadi, namun kita tidak boleh melupakan bahwa mutasi sebagian besar bersifat negatif (merusak). Dari sekian ribu mutasi yang diselidiki, hanya beberapa saja yang berguna (positif) bagi spesies yang bersangkutan. Pandangan evolusi mengasumsikan adanya ribuan mutasi positif dan berkesinambungan yang terjadi secara kebetulan. Dugaan ini jelas tidak bisa dibenarkan secara ilmiah. Kemungkinan bagi terjadinya hal ini hampir mendekati tidak mungkin. Mutasi yang dipikirkan penganut evolusi menuntut adanya suatu bumi yang sempurna, padahal kenyataannya keadaan bumi tambah kurang kondusif dan berpotensi lebih besar untuk menghasilkan mutasi gen yang merusak.

Ketiga, bantahan dari sisi entropi – hukum kedua termodinamika. Entropi menyatakan bahwa alam semesta cenderung berubah dari keadaan yang teratur menjadi tidak teratur, misalnya per memelar, gas membuyar. Diperlukan masukan energi untuk mengembalikannya ke suatu keadaan teratur, misalnya energi untuk membelitkan per dan mengumpulkan gas. Evolusi mengasumsikan terbentuknya keteraturan dari kekacauan secara acak. Evolusi menyiratkan bahwa manusia terbentuk dari hasil miliaran penyimpangan hukum entropi. Hal ini jelas sangat dilebih-lebihkan dan membutuhkan “iman” yang sangat besar untuk mempercayainya. Satu-satunya kemungkinan bagi evolusi adalah dengan menganggap adanya waktu yang tidak terbatas, sehingga memungkinkan terjadinya segelintir kebetulan yang sangat langka. Anggapan seperti ini jelas tidak tepat. Para ilmuwan mengetahui bahwa matahari sedang terbakar habis. Jika ada waktu yang tidak terbatas, matahari dan semua bintang lain akan terbakar habis dan pada jaman modern ini kita tidak akan sempat merasakan sinarnya.

Bantahan paling kuat terhadap evolusi datang dari penemuan di bidang biokimia. Berdasarkan penemuan biokimia modern, tubuh manusia merupakan perpaduan jutaan sel yang sangat kompleks, jauh lebih kompleks daripada yang dipikirkan Charles Darwin, David Hume maupun orang sejaman mereka. Pada waktu itu mereka hanya memahami sel-sel sebagai gumpalan protoplasma. Kini para ilmuwan modern semakin menyadari bahwa satu sel terdiri dari rangkaian DNA dan RNA yang sangat banyak dan rumit. Untuk membentuk suatu substansi tubuh yang paling kecil dibutuhkan keserasian DNA/RNA yang sangat banyak. Selanjutnya, untuk memfungsikan substansi tersebut diperlukan jutaan kombinasi lain yang teratur. Lebih lagi, untuk melakukan suatu tindakan yang “paling sederhana” sekalipun, misalnya melihat suatu objek, diperlukan jutaan kombinasi sel-sel dalam sistem kerja yang tertentu. Menurut seorang ilmuwan yang bernama Howard Morowitz jumlah kemungkinan bagi terjadinya evolusi dari sisi biokimia adalah 1 di antara 10100.000.000.000. Ini sama saja dengan memenangkan 1,4 juta undian secara berturut-turut. Apakah masuk akal? Tentu saja tidak!

Selain itu, rangkaian DNA yang membentuk suatu sel manusia ternyata memiliki pola yang berbeda antara satu orang dengan yang lain. Perbedaan ini semakin terlihat jelas apabila suatu DNA binatang dibandingkan dengan DNA manusia. Untuk mengubah DNA suatu makhluk hidup menjadi DNA makhluk hidup lain yang lebih berkembang diperlukan jutaan kemustahilan.

Sekarang mari kita renungkan pembentukan satu DNA saja dalam suatu sel. Sebuah mata rantai DNA baru bisa terbentuk apabila ratusan asam amino yang berjenis sama saling mengikatkan diri dalam suatu pola tertentu. Apabila terjadi satu kesalahan saja dalam ikatan tersebut (asam amino lain ikut terlibat dalam ikatan itu), maka DNA yang dimaksud tidak akan terbentuk. Kalau untuk membentuk satu rangkaian DNA saja sudah begitu kompleks, bagaimana proses pembentukan tubuh manusia? Sekali lagi, untuk menerima “kebenaran” evolusi, kita harus memiliki iman yang paling besar yang bisa mengalahkan kemustahilan yang paling besar juga. (www.gkri exodus.org)

Manajemen Keuangan dan Iman Kristen

(Tinjauan Iman Kristen Terhadap Tujuan dari Manajemen Keuangan)

Oleh: Ricky Sudarsono, SE, MRE

            Teori-teori di dalam manajemen keuangan menyatakan bahwa tugas seorang manajer keuangan adalah mengambil keputusan investasi, keputusan pendanaan, menganalisa dan membuat perencanaan keuangan. Ukuran keberhasilan dari manajer keuangan di dalam suatu perusahaan terbuka (Tbk.) adalah apakah nilai perusahaan yang tercerminkan dari harga saham perusahaan mencapai nilai maksimal. Nilai kekayaan suatu perusahaan yang telah terdaftar di bursa saham ditentukan dengan harga saham tersebut di pasar. Secara teoritis, kinerja manajer keuangan yang baik akan berbanding lurus dengan kondisi nilai pasar sahamnya.
Masalah yang seringkali timbul di dalam perusahaan adalah apabila manajer keuangan menempatkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan perusahaan. Masalah ini lebih umum disebut dengan agency problem. Manajemen keuangan berusaha memaksimumkan kekayaan pemilik, permasalahan yang mendasar adalah dosa membuat pemilik perusahaan tidak menyadari siapa sebenarnya PEMILIK perusahaan tersebut.
Kembali kepada Alkitab (bandingkan kita harus menaati bahwa hidup kita adalah milik Allah, segala aset dan properti termasuk uang adalah benda-benda mati yang bersifat sementara yang dipercayakan oleh Allah kepada kita dalam rangka mengerjakan pekerjaan baik yang sudah Allah sediakan bagi kita (Ef. 2:8).
Kesalahan terbesar dari seorang manajer perusahaan yang tidak mengerti hal di atas adalah tidak adanya pemikiran untuk melanggengkan usaha/bisnis yang dijalankan atau apa yang biasa disebut dengan sustainable profit. Sustainable profit adalah profit yang membuat semua pihak baik internal maupun lingkungan sekitar mendukung perusahaan mendapatkan profit yang berikutnya. Di dalam hal ini pihak yang harus kita dengarkan adalah Allah dan hanya Allah saja. Maka goal dari manajemen keuangan adalah memaksimalkan kekayaan pemilik tanpa meninggalkan tanggung jawab terhadap lingkungan sekitar.
Permasalahan kedua adalah masalah tolok ukur. Apakah harga saham di pasar boleh dijadikan ukuran? Apakah perusahaan yang nilai sahamnya semakin meningkat adalah benar-benar karena kinerja manajer keuangannya? Apakah manajer keuangan yang bekerja dengan keras pasti akan mampu mencatatatkan nilai saham yang tinggi? Sejarah menunjukkan keduanya tidak selalu berkorelasi positif. Fluktuasi harga saham sering diakibatkan sentimen pasar dan sentimen pasar terkadang tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Di sini kita melihat seorang manajer keuangan menghadapi ukuran sasaran pencapaian yang tidak jelas.
Di dalam iman Kristen, ukuran pencapaian harus sesuai dengan standar Allah, di mana setiap orang mengerjakan sesuai dengan talenta yang Tuhan sudah berikan dan pekerjaan tersebut sejalan dengan visi besar Allah. Di dalam manajemen keuangan perencanaan merupakan issue yang cukup sentral. Merencanakan berdasarkan masa lalu kemudian membuat prediksi pertumbuhan berdasarkan indikator-indikator ekonomi yang umum. Di tengah periode pelaksanaan jika terjadi perubahan, maka perusahaan harus membuat berbagai macam adjustment agar target semula perusahaan dapat tercapai.
Perusahaan yang didirikan dengan visi dari Tuhan tetap harus membuat rencana, tetap harus melihat masa lalu, belajar dari padanya dan berani membuat rencana masa depan. Bahaya yang terbesar adalah jika rencana buatan manusia dijadikan Tuhan, rencana keuangan tersebut menjadi segala-galanya bagi perusahaan.
Rencana keuangan seharusnya adalah rencana yang kita letakkan di dalam tangan Tuhan dan kita bekerja keras namun tetap bersandar kepada Tuhan. Dengan prinsip seperti ini perusahaan akan menjadi perusahaan yang dinamis, setiap risiko akan selalu dapat dilihat sebagai peluang. Seringkali kondisi makro politik dan ekonomi suatu negara mempengaruhi keberanian manajer keuangan untuk bergantung dan bersandar kepada Allah.
Manajer keuangan yang sadar akan siapa sebenarnya pemilik perusahaan dan uang yang ada pada perusahaan akan membuat manajer keuangan menyadari hakekat dari didirikannya perusahaan adalah agar misi Allah di dunia tercapai. Manajer keuangan akan menginjili dengan cara menjalankan tugas dengan profesional, mengerti bagaimana memakai dana yang dihasilkan oleh perusahaan dengan ukuran banyak jiwa dimenangkan bagi Tuhan.
Seorang manajer yang benar-benar mendapatkan panggilan dari Allah, harus berani menjalankan fungsi manajerialnya dengan sungguh-sungguh dan bagi dia ukuran keberhasilannya adalah bagaimana PEMILIK diperkaya dengan jiwa-jiwa baru.
Hal ini bukan berarti perusahaan harus menjadi badan sosial yang tidak mengejar profit, tetapi mengejar profit di dalam kerangka kehendak Tuhan. Perusahaan seperti ini akan rajin memberikan perpuluhan. Manajer keuangan seperti ini adalah manajer keuangan yang merencanakan dengan hebat tetapi juga bersandar dengan sangat luar biasa kepada Allah pemilik sesungguhnya dari perusahaan. •

(Penulis adalah Kepala Program Manajemen Bisnis Internasional Fakultas Ekonomi, pengajar manajemen keuangan dan bisnis real estat Universitas Kristen Petra, Surabaya) (www.gkagloria.or.id)

« Previous entries